Fenomena Dhamma

Sunday, March 29, 2015

Telaah Iptek tentang Kelahiran dan Kematian



[Gandhabba dan Patisandhi Winyana]

Oleh Gunaratna

Gandhabba Faktor non-Biologis dalam Kelahiran.

   Sains modern di abad materi ini mencoba menjelaskan kelahiran berdasarkan premis-premis yang dapat dijangkau indera, dengan kata lain, yang berasal dari kehidupan saat ini. Karenanya para ahli biologi hanya dapat menyatakan bahwa bersatunya sel sperma dari ayah dan sel telur dari ibu akan menghasilkan kelahiran seorang anak. Bahwa karakteristik mental orang tua dan para leluhur sedarah lainnya dapat menurun pada anak tersebut.

Tapi, biologi hanya mengenal faktor keturunan dan faktor lingkungan. Ia tidak pernah menyentuh faktor spiritual, sehingga tidak pernah berhasil memberi jawaban yan tuntas. Ambil contoh kasus dua orang anak dari orang tua yang sama dan hidup di lingkungan yang sama. Mengapa salah seorang anak itu hidup sehat sejak lahirnya, sedangkan yang satunya lemah fisik sejak lahir? Jawaban yang mungkin adalah kondisi ibu yang berbeda saat mengandung dua orang anak tersebut. Sekarang, bagaimana halnyadengan dua orang anak kembar yang lahir dari kandungan yang sama, dan tumbuh di lingkugan yang sama pula.

Mengapa sampai terdapat perbedaan fisik dan mental pada kedua anak tersebut? Misalnya kasus kembar Siam bernama Chang dan Eng yang tubuhnya menyatu sejak lahir. Mereka juga tumbuh di ligkungan yang identik. Tapi para ahli di London yang mengamatinya melaporkan perbedaan watak yang besar pada kedua anak itu. Selain itu, Chang nampak ketagihan minuman keras sementara Eng seorang pecandu teh. Dapatkah teori keturunan dan teori lingkungan menjelaskan kasus anak-anak ajaib baik di Timur dan di Barat, dimana orang tua maupun leluhur anak-anak itu tidak menunjukkan tanda-tanda atau kecendurangan yang sama?

Pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab ini seharusnya merangsang piiran yang kritis untuk berpaling kepada suatu faktor di luar faktor-faktor keturunan dan lingkungan. Pun jelas amat keliru jika kita menganggap bahwa organisme batin dan jasmani manusia yang rumit ini hanya berasal dari pertemuan sperma dan sel telur, dua faktor yang murni bersifat jasmaniah. Mesti ada campur tangan faktor ketiga, yang batiniah sifatnya, hingga terbentuk sebuah kehidupan.

Minyak dan sumbu tidak akan berubah menjadi nyala pelita, hingga sebuah pemantik api menyulutkan api diujungnya. Begitu pula, gabungan dua faktor jasmani sel sperma dan sel telur tidak akan menyalakan kehidupan embrio yang merupakan gabungan batin dan jasmani. Harus ada faktor batiniah sebagai pemantiknya. Lebih lanjut, para ahli biologi menentukan jenis kelamin embrio berdasarkan perpaduan kromoson yang terkandung dalam sel sperma ayah dan sel telur ibu. Sel sperma diakatakan mengandung satu kromoson X dan satu kromoson Y.

Pada saat pembuahan, sel sperma bersatu dengan sel telur, dan membentuk sel baru yang akan menjadi embrio. Tapi kombinasi kromoson-kromoson di dalamnya tidak selalu menghasilkan jenis kelamin tertentu. “Encyclopedia of the Biological Sciences” (edisi ke-6 th 1968) yang disunting oleh Prof. Peter Gray. Ahli biologi dari Universitas pittsburgh, menyimpulkan uraian panjang tentang genetika dengan kalimat: “Banyak gambaran tentang prilaku gen bersifat hipotetis dan masih terus diteliti detil-detilnya”.

Dalam buku “Bbiologi for the Modern World” karya Prof.C.H.Waddington, ahli genetika hewan dari Universitas Ediburgh, menyatakan: ”Kromoson-kromoson mempengaruhi jenis hormon yang diproduksi embrio. Embrio dengan kromoson XY akan memproduksi hormon pria, sedangkan kromoson XX  akan memproduksi hormon wanita. Dalam sistem ini, perbedaan tersebut sangat tergantung pada mekanisme tubuh yang memisahkan pasangan kromoson-kromoson itu menjadi kromoson sebuah sel tunggal..

Tapi seringkali mekanisme itu menyimpang dari pola yang ada... dan penelitian atas penyimpangan itu baru mencapai tahap awal”. Prof.weddington menemukan bhawa seringkali kobinasi pasangan-pasanagn kromoson yang seharusnya menghasilkan embrio pria, nyatanya menghasilkan embrio wanita.Demikian pula sebaliknya. Karena itulah empat orang Profesor (krupp. Swertz. Jawetsz. dan Biglieri) manyatakan dalam buku mereka “Physician’s handbook” pada bab yang berjudul “Chromosomal Sex Determination” : “Kita belum dapat mengindetikkan jenis kelamin kromoson dengan jenis kelamin gen”.

Buddha Gotama yang hidup berabad-abad lalu lebih awal dari para ilmuwan itu telah menyatakan bahwa semata-mata faktor jasmaniah seeprti sel sperma dan sel telur, tidak dapat menimbulkan kelahiran embrio. Manusia adalah orgnisme batin dan jasmani, karena faktor-faktor yang menyebabkan keberadaannya haruslah bersifat batiniah disamping jasmaniah.

Dalam Maha Tanha Sangkhaya Sutta  Majjhima Nikaya 38, Buddha Gotama menyatakan bahwa selain bersatunya ayah dan ibu yang sedang masa subur, harus ada sesuatu yang disebut faktor Gandhabba. Kata Gandhabba ini secara harafiah berarti ‘orang asing’ atau ‘Orang yang datang dari jauh’.

Variasi dari kata ini adalah ‘Gantabba’ dan ‘Gacchati’, yang berarti ‘seseorang yang harus pergi’. Dengan kata lain istilah tersebut merujuk pada seseorang yang mati disuatu tempat, bukan faktor orang tua. ‘Gandhabba’ menunjuk pada corak batin seseorang sebelum ia mati, yang mewarnai kesadaran penyambung (patisandhi winyana), yang memberi corak pada gabungan sel sperma dan sel telur, hingga terbentuk sebuah embrio. Ia adalah energi kehidupan yang ‘pergi’ dari orang mati tadi, dan ‘datang dari jauh’ ke dalam rahim ibu melalui patisandhi winyana.

Patisandhi winyana kesadaran setelah mati.
   ‘Patisandhi Winayana’ adalah kesadaran yang menyambung kesadaran akhir saat seseorang mati dengan ‘kesadaran awal’ dari sebuah embrio. Mengenai hal ini, sains modern mulai dapat menyentuh apa yang diajarkan Buddha Gotama puluhan abad silam. Sebuah lembaga psikiatri bernama Emile Coue of Nancy melakukan penelitian, dengan cara memberi latihan-latihan sebelum dan sesudah tidur kepada sejumlah responden. Psikologi telah membuktikan bahwa kesadaran seseorang saat menjelang tidur,mempunyai pengaruh kuat pada kesadaran awal ketika terbangun dari tidurnya.

Jika misalnya seseorang hendak naik kereta api pagi dan sebelum tidur mencamkan pada diri sendiri untuk bangun lebih awal, maka ia benar-benar akan bangun lebih awal dari jadwal kereta api pada pagi harinya. Hal ini sudah menjadi pengalaman biasa, bahkan bagi mereka yang tidak baisa bangun pagi. Lebih jauh ahli-ahli psikologi itu menarik hipotesis bahwa kesadaran akhir seseorang menjelang kematiannya (sebagai suatu tidur panjang) merupakan kesadaran awal saat ia terbangun pada kelahirannya yang baru.

Buddha Gotama menyatakan, bahwa didorong oleh keinginan untuk menjadi atau mengada (bhawa-tanha) yang melandasi hampir semua aktifitas manusia, maka pada saat kematian seseorang keinginannya berubah menjadi suatu kekuatan mental yang terus melekat dan mencari bentuk kehidupan baru (upadana-melekat).

Keinginan untuk menjadi itu seakan-akan suatu energi yang terkonsentrasi saat kematian menjelang, yang seperti ditulis oleh Dr.E.R.Roast dalam bukunya ‘Nature of Consciousness’. ‘...terkunci dalam sel-sel otak, dalam ujud kesadarn, Ia tidak hilang atau melebur di angkasa, melainkan seeprti dalam hdup ini dimana kesadaran merupakan suatu arus kehidupan, demikian pula ia   tetap merupakan arus yang hidup bahkan setelah seseorang dinyatakan mati’.

Dalam perjalanannya, ‘arus’ kehidupan itu mebutuhkan kromoson-kromoson kehidupan yang baru, dalam bentuk embrio. Untuk dapat mencapai embrio itulah, ia memerlukan media dari jenis yang sama, yaitu kesadaran penyambung yang disebut ‘patisandhi winyana’. Selanjutnya ‘arus’ kehidupan itu akan menggetarkan rahim seorang ibu, bukan sembarang ibu, tapi yang cocok dengan tumpukan karma dalam kehidupan yang lalu.

Seperti dikatakan oleh Y.M. Nyanatiloka Mahathera: “Di saat kematiannya, seseorang yang masih sangat terikat pada kehidupan akan melepaskn kekuatan karmanya, seperti selarik sinar yang ditembakkan, melesat menuju rahim ibu yang siap menerimanya.” Hal ini diulangi tidak kurang dan tidak lebih oleh Schopenhauer, seorang filsuf Jerman dalam kata-katanya: “Di saat menjelang kematian itulah seluruh kekuatan misterius dalam diri manusia beraksi menentukan nasib (manusia itu) selanjutnya.”
      
Penerjemah: Sraddha.
Penyunting akhir: B.Sudhammacaro.


0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home