Empat Nasehat Liao Fan Bagian 4 - Manfaat Dari Kebajikan Rendah Hati.




 

07 December, 2010- Written by  Hengky Suryadi

Budaya-Tionghoa.Net |Bab ketiga mengajar kita cara untuk mengumpulkan kebajikan. Secara alami, adalah  sangat  baik  bila  manusia  mau  melakukan  kebajikan,  tetapi  sebagai manusia,  kita  adalah  makhluk  sosial,  tidak  mungkin  tidak  bertemu  dengan orang lain, karena itu, adalah sangat penting bagi kita mengetahui cara untuk membawa diri bila berinteraksi dengan orang lain. Cara   yang   terbaik   adalah   melakukan   kebajikan   "rendah   hati".   Dalam masyarakat,   orang   yang   rendah   hati   akan   mendapat   dukungan   dan kepercayaan  publik.  Bila  mereka  memahami  kebajikan  "merendah",  mereka juga akan paham pentingnya kemajuan diri secara konstan.

Kemajuan diri yang konstan  ini  bukan  saja  termasuk  memperoleh  pengetahuan  yang  lebih  tinggi, tetapi juga menemukan keperluan untuk hidup lebih manusiawi, melaksanakan tugas sehari-hari  dengan  baik  untuk  memajukan  komunikasi  dengan  teman-teman. Banyak keuntungan dan anugrah yang didapat bila kita selalu bersikap "rendah    hati".    Pelajaran    ini    memfokuskan    pada    keuntungan    bila mempraktekkan  kebajikan  "rendah  hati",  pengalaman  Tuan  Liao  Fan  sebagai buktinya. Orang akan mendapat manfaat yang sangat besar bila mereka dapat merenungkan dan paham akan ajaran ini.

Dalam I Ching / Buku Perubahan, hexagram rendah hati tertulis . . . . . Langit selalu  merugikan/mencelakakan  orang  yang  sombong  dan  memberkahi  orang yang  rendah  hati.  Demikian  juga  bumi  tidak  akan  membiarkan  orang  yang bangga   diri   dan   sombong   tetap   berada   pada   posisinya,   tetapi   akan mencelakakannya. Orang yang rendah hati tidak pernah kekurangan dan selalu diberkahi,  seperti  aliran  air  yang  selalu  mengalir  dan  mengisi  tempat  yang rendah.   Demikian   juga   para   Dewa   Dewi,   Makhluk   Halus   akan   selalu menimpakan bencana kepada yang sombong dan memberi rezeki kepada yang rendah hati. Demikian juga manusia, orang yang sombong selalu dibenci dan menghormati/menyayangi orang yang rendah hati. 

Karena itu, Langit, Bumi, Dewa-Dewi, Makhluk Halus semua menyenangi orang yang rendah hati daripada orang yang sombong. Dalam buku I Ching / Buku Perubahan, 64 hexagram menjelaskan perubahan konstan dan interaksi dengan Langit  dan  Bumi,  Yin  dan  Yang,  buku  ini  mengajarkan  manusia  cara  untuk menjadi  lebih  rendah  hati,  setiap  hexagram terdiri dari hal-hal yang baik dan buruk. 

Hal  yang  buruk  memperingati  orang  untuk  tidak  berbuat  kejahatan  dan mempraktekkan  kebajikan.  Hal  yang  baik  memotivasi  orang  agar  lebih  rajin melatih diri agar mendapat yang lebihbaik. Hanya hexagram rendah hati berisi semua hal-hal yang baik saja, tidak ada hal yang buruk. Buku sejarah Tiongkok juga  tertulis  .  .  .  Kesombongan  akan  mengundang  malapetaka,  rendah  hati akan mengundang keberuntungan". Saya selalu pergi bersama teman bila menghadiri ujian negara dan setiap kali bertemu  pelajar  yang  sangat  miskin.  Saya  memperhatikan  bahwa  sebelum 
mereka  berhasil  lulus  ujian  dan  hidup  makmur,  muka  mereka  menunjukkan kerendah-hatiannya,  tenang,  damai  dan  harmonis,  sehingga  saya  merasa menguasai kwalitas tersebut. 

Beberapa  tahun  yang  lalu,  saya  mengikuti  ujian  negara  di  Beijing.  Di  antara peserta dari kampung saya, Sdr. Ching Yu Ding adalah yang paling muda dan rendah hati. Saya berkata kepada teman saya Jin Po Fay bahwa anak muda ini pasti lulus dalam ujian tahun ini. Jin Po Fay bertanya : "Bagaimana Anda tahu?". 

Saya  berkata  :  "Orang  yang  rendah  hati  pasti  memperoleh  keberuntungan. Temanku, cobalah lihat diantara kita 10 orang ini, adakah seorangpun sejujur, murah  hati,  tidak  berebut  untuk  didahulukan,  selalu  bersikap  hormat,  sabar, rendah  hati,  walaupun  difitnah  tidak  mau  membela  diri,  dimarahi  tidak membalas seperti Ching Yu? Seseorang bila telah menguasai kwalitas ini, pasti 
mendapat  perlindungan  Langit,  Bumi,  Dewa/Dewi,  dan  Malaikat,  tidaka  da alasan dia tidak memperoleh kemakmuran". 

Betul, ketika pengumuman hasil ujian, Ching Yu Ding lulus. 

Setahun  di  Beijing,  saya  tinggal  bersama  seorang  teman  yang  telah  bergaul sejak kecil. Kai Chi Fung, saya selalu memperhatikannya dan mendapati bahwa dia  selalu  berlaku  rendah  hati,  baik  dan  menyesuaikan  diri.  Dia  tidak  pernah menunjukkan sedikit juga kesombongan, sama sekali berbeda dengan sifat-sifat buruknya semasa kecil. Kai Zhi mempunyai seorang teman, bernama Ji Yen Li yang benar-benar adalah seorang teman sejati, bila dia melihat Kai Chi berbuat kesalahan selalu langsung memarahi dan menasehatinya, tetapi Kai Chi selalu menerima  dengan  baik  tanpa  membalas  karena  menyadari  bahwa  dia  benar telah berbuat salah. 

Lihat Kai Chi, orang memarahinya dapat diterima dengan sabar, bila dia tidak salah, tetap tidak membalas dan mendendam yang memarahinya. Sebenarnya, orang  yang  memarahi  kita  adalah  orang  yang  benar-benar  menyayangi  kita, karena untuk kebaikan kita. Bila anak kita berbuat kesalahn, kita memarahinya, anak  tetangga  berbuat  kesalahan,  mengapa  kita  tidak  juga  memarahinya? Walaupun  mungkin  tidak  diterima,  akan  tetapi  ini  adalah  berdasarkan  kasih 
sayang,  demi  kebaikan  anak  tersebut  yang  akan  berpengaruh  di  masyarakat, negara kelak. 

Saya berkata kepada Kai Chi : "Persis seperti gejala seseorang akan menerima bencana, kita juga telah dapat melihat gejala bahwa seorang akan menerima keberuntungan sebagai akibat pelatihan diri. Langit akan mendengarkan suara hati  orang  yang  rendah  hati.  Anda,  teman  saya,  pasti  lulus  dalam  ujian kerajaan tahun ini". Belakangan, terbukti Kai Chi lulus ujian tersebut. 

Ada  seorang  pemuda  dari  Propinsi  Santong  bernama  Yu  Fong  Zhou  sebelum berumur  dua  puluh  tahun  telah  lulus  ujian  kerajaan  level  pertama.  Sayang sekali, telah berusaha sedapatmungkin, tetapi tetap tidak berhasil lulus ujian level  berikutnya.  Ketika  ayahnya  dimutasikan  jabatan  di  kantor  pemerintah  di daerah  lain,  Yu  Fong  turut  serta  dan  berkenalan  dengan  seorang  terpelajar besar yang ternama bernama Ming Wu Chian. 

Yu Fong membawa karya tulisnya kepada Ming Wu untuk minta petunjuk, dia tidak  menyangka  bahwa  Tuan  Chian  langsung  mengambil  kuas  kaligrafi mencoreti hampir seluruh tulisannya. Yu Fong tidak marah malah dengan tulus dan  ramah  menerima  koreksi  tulisannya  dari  Tuan  Chian  dan  mengubahnya sesuai dengan yang disarankan oleh Tuan Chian. 

Seorang  anak  muda  dapat  dengan  rendah  hati  dan  berkeinginan  untuk memperbaiki  diri  adalah  sangat  jarang  ditemui.  Tahun  berikutnya,  Yu  Fong lulus ujian kerajaan. 

Suatu tahun, saya ke Ibukota untuk menghadap Raja. Saya berjumpa seorang pelajar  bernama  Jian  Suo  Hsia  yang  mempunyai  segala  kwalitas  sebagai seorang pembesar tanpa menunjukkan adanya sedikitpun kesombongan, saya dapat merasakan aura dari kebajikan dan kerendahan hatinya. 

Ketika  saya  pulang  ke  rumah,  saya  mengatakan  kepada  teman  :  "Bila  Langit hendak  menganugerahi  seseorang  kemakmuran,  pertama  akan  membuka pikirannya  agar  dapat  berpikir  secara  bijak,  kebijaksanaan  yang  membuat seseorang  tersebut  menjadi  jujur,  disiplin  diri.  Langit  telah  memberi  Jian  Suo kebijaksanaan,  karena  jikalau  tidak  demikian,  dia  tidak  mungkin  sedemikian baik,   ramah,   rendah   hati,   sudah   pasti   Yang   Kuasa   akan   memberinya kemakmuran". Betul saja, ketika pengumuman hasil ujian, Jian Suo lulus. 

Ada  seorang  pelajar  bernama  Wei  Yan  Chang  dari  daerah  Jiang  Ying  yang terpelajar dan pandai menulis karya yang baik, dia sangat terkenal di kalangan pelajar.  Suatu  tahun  dia  mengikuti  ujian  kerajaan  di  Nanjing  dan  tinggal  di sebuah Vihara Tao. 

Ketika hasil ujian diumumkan, dia gagal. Dia sangat marah dan menyalahkan penguji   bahwa   penguji   tersebut   adalah   buta   karena   tidak   mengenal kemampuannya.  Pada  saat  itu,  seorang  Bhiksu  Tao  berdiri  di  sampingnya tersenyum.  We  Yang  segera  mengalihkan  kemarahannya  kepada  Bhiksu  Tao tersebut.  Bhiksu  Tao  itu  berkata  :  "Karya  tulis  anda  pasti  tidak  baik". Mendengar  itu,  Wei  Yan  malah  bertambah  marah  dan  berkata  :  "Bagaimana 
Anda tahu bahwa tulisan saya tidak baik padahal Anda tidak membacanya?". 

Bhiksu Tao berkata : "Saya sering mendengar orang berkata bahwa faktor yang terpenting  dalam  menulis  adalah  pikiran  yang  tenang  dan  karakter  yang harmonis, kemarahan dan emosi anda sekarang menujukkan bahwa anda tidak berpikiran  tenang  dan  berkarakter  keras,  bagaimana  mungkin  anda  dapat menulis karya yang baik?" 

Mendengar  perkataan  Bhiksu  Tao  tersebut,  Wei  Yan  menerima  dan  meminta nasehat. Bhiksu Taoberkata : "Lulus ujian adalah juga tergantung kepada nasib, bila  anda  ditakdirkan  tidak  lulus,  bagaimana  juga  anda  berusaha  tidak  akan lulus, anda sendiri yang harus mengubahnya". Wei Yan bertanya : "Bagaimana saya mengubah takdir?" 

Bhiksu  Tao  berkata  :  "Walaupun  Yang  Kuasa  yang  menentukan  nasib  kita, tetapi  membangun  nasib  adalah  berada  di  tangan  kita  sendiri.  Selama  anda mau  berbuat  baik  dan  melatih  kwalitas  yang  tersembunyi  di  dalam  diri,  anda mendapat apa yang anda inginkan". 

Wei Yan menjawab : "Saya hanya seorang pelajar miskin, perbuatan kebajikan apa yang dapat saya buat?". 

Bhiksu berkata : "Perbuatan baik dan pelatihan kebajikan semuanya bersumber dari  hati.  Bila  anda  bermaksud  berbuat  baik  dan  mengumpulkan  kebajikan. Pahalanya adalah besar tidak ternilai! Sebagai contoh, kebajikan "rendah hati", tidak   perlu   mengeluarkan   uang,   mengapa   anda   tidak   instropeksi   diri, menyalahkan diri karena adanya kekurangan dalam karya tulis anda, bukannya menyalahi ketidakadilan penguji?". 

Sejak  Wei  Yang  Chang  mendengar  nasehat  Bhiksu  tersebut,  dia  menyadari kesalahan skapnya selama ini dan berusaha tidak berbuat kesalahan lagi. Setiap hari dia berusaha berbuat baik untuk mengumpulkan kebajikan. 

Tiga tahun kemudian suatu malam dia bermimpi bahwa dia masuk ke sebuah rumah yang sangat tinggi dan melihat sebuah buku yang tertulis semua nama peserta yang akan lulus ujian kerajaan tahun tersebut. Dia melihat ada banyak tempat yang kosong tidak terisi nama. Karena tidak mengerti apa maksudnya, dia  bertanya  kepada  orang  yang  berdiri  disampingnya  :  "Apa  ini?".  Orang  itu menjawab  :  "Ini  adalah  buku  yang  mengisi  semua  nama  peserta  ujian  yang lulus  tahun  ini".  Wei  Yang  bertanya  :  "Mengapa  masih  banyak  tempat  yang kosong?". 

Orang itu menjawab : "Makhluk yang hidup di bawah dunia ini setiap tiga tahun memeriksa para peserta ujian. Hanya nama orang yang berbuat baik dan tidak berbuat kejahatan yagn berhak tercantum di buku ini, tempat-tempat kosong di buku  ini  sebenarnya  telah  terisi,  akan  tetapi  karena  telah  membuat  banyak kesalahan akhir-akhir ini, maka nama mereka dihapus". Sambil menunjuk satu 
tempat yang kosong dari buku tersebut dia berkata : "Ah-ha, selama tiga tahun ini  anda  sangat  waspada,  disiplin  diri  dan  melatih  diri,  agar  tidak  berbuat kesalahan, mungkin nama anda akan terisi di sini, saya harap anda benar-benar memelihara  diri  jangan  sampai  berbuat  kesalahan".  Betul  saja,  Wei  Yan  lulus ujian kerajaan terdaftar dengan nomor 105 tahun itu. 

Dengan contoh-contoh di atas, kita mengetahui bahwa Yang Kuasa, Dewa/Dewi, Malaikat selalu menyaksikan tingkah laku kita. 

Karena  itu,  kita  harus  segera  berbuat  segala  sesuatu  yang  bermanfaat  bagi orang  lain  dan menghindari  segala  tindakan  yang  emosional,  kekerasan  dan mencelakai   orang   lain,   apalagi   orang   banyak.   Semua   ini   Saya   dapat memutuskan untuk diri saya. Selama saya selalu berniat baik, tidak melanggar kehendak  Langit,  Bumi,  Dewa/Dewi,  Malaikat,  rendah  hati,  sabar,  tidak 
sombong,  maka  Langit,  Bumi,  Dewa/Dewi,  Malaikat  pasti  memberkati  saya. Hanya dengan cara ini bisa sebagai fondasi untuk mendapatkan kemakmuran. 

Mereka yang selalu menipu diri dan orang lain sudah pasti tidak akan berhasil. Walaupun  mereka  makmur  sekarang,  akan  tetapi  tidak  mungkin  lama.  Orang bijak pasti tidak berpikir sempit sehingga merusak masa depan sendiri dan juga menolak keberuntungan yang pantas dia dapat. 

Di  samping  itu,  mereka  yang  rendah  hati  selalu  mencari  kesempatan  untuk belajar,  bila  seseorang  tidak  rendah  hati,  siapa  yang  mau  mengajarnya? Tambahan  pula,  orang  yang  rendah  hati  selalu  mau  mempelajari  kelebihan yang  dimiliki  orang  lain,  menganggapnya  sebagai  contoh  dan  mengikuti jejaknya.  Menganggap  kekurangan  orang  sebagai  sebuah  cermin  untuk  diri, sehingga tidak berbuat kesalahan yang sama. Dengan cara ini, kebajikan yang dibuat  oleh  orang  yang  rendah  hati  adalah  tidak  terbatas!  Bagi  mereka  yang ingin melatih diri untuk meningkatkan kwalitas jati diri, tidak dapat berhasil bila tidak melatih kebajikan "rendah hati". 

Tersebut dalam Sutra Buddha : "Bagi mereka yang menginginkan kekayaan dan kekuasaan,  pasti  mendapat  kekayaan  dan  kekuasaan,  menginginkan  jabatan dan reputasi, pasti mendapat jabatan dan reputasi. Seseorang yang bercita-cita besar  dan  mempunyai  sutu  tujuan  untuk  dicapai  adalah  seperti  pohon  yang berakar.  Pohon  yang  berakar  akan  tumbuh  mekar  dengan  cabang-cabang, ranting-ranting,  daun-daun  dan  berbunga.  Seorang  yang  menetapkan  tujuan, untukmencapainya  haruslah  melatih  kerendahan  hatinya  dalam  setiap  pikiran dan  tindakannya,  berusaha  terus  walaupun  hal  yang  dihadapi  tersebut  tidak penting, sepele seperti setitik debu".

Bilamana  seseorang  dapat  melatih  diri  sampai  tingkat  ini,  sudah  pasti  akan menyentuh hati Langit dan Bumi. 

Lagi  pula,  saya  sendiri  adalah  yang  membangun  kemakmuran  diri.  Bila  saya benar-benar  ingin  membangunnya,  saya  pasti  berhasil.  Lihat  saja  orang  yang menginginkan  kekayan  dan  kekuasaan.  Pada  mulanya,  mereka  tidak  tulus, hanya karena terpikir saja. Bila mereka senang, mereka berusaha mengejarnya, bila minatnya turun, berhenti berusaha. Mencius pernah berkata kepada Raja Shuan Chi : "Paduka menggunakan musik sebagai pelipur lara, akan tetapi itu adalah  sebuah  kesenangan  individu.  Bila  Paduka  mengembangkan  dari  hati yang  dalam,  sehingga  berbagi  kebahagiaan  dengan  rakyat,  sehingga  Paduka dan  rakyat  menikmati  kebahagiaan  tersebut  bersama.  Inilah  yang  disebut kebahagiaan sejati". 

Jika sebuah pemerintah negara dapat mengerti kebenaran ini, pemerintah dan rakyat  bekerja  sama  membangun  kemakmuran  dan  menikmatinya  bersama, Berbuat  apa  yang  disenangi  rakyat,  tidak  berbuat  apa  yang  tidak  disenangi rakyat.  Inilah  yang  disebut  "mengikuti  hati  rakyat".  Harus  menggunakan kebijaksanaan   untuk   berbuat   kebaikan   demi   mengumpulkan   kebajikan, 
membangun  kekayaan.  Membantu  negara-negara  terbelakang,  negara  yang miskin di seluruh dunia, memelihara lingkungan, maka kekayaan yang dibangun tersebut  baru  ada  nilainya,  ada  artinya.  Bila  hanya  ingin  memiliki  sendiri kekayaan tersebut, maka bencana besar telah mengintai. 

Saya rasa ini sama untuk orang yang ingin memperoleh hidup yang lebih baik dengan  mengubah  nasibnya.  Seperti  contoh,  saya  ingin  lulus  ujian  kerajaan. Bila  orang  dapat  menyadari  kesalahannya,  mau  mengoreksi  diri  dan  mulai mengembangkan    kebesaran    hatinya    dengan    rajin    berbuat    kebaikan, mengumpulkan  kebajikan,  berusaha  meningkatkan  kwalitas  karakter  sendiri, akan  membangun  nasib  dan  kemakmuran  yang  berkepanjangan,  semua keberuntungan  akan  datang  dengan  sendirinya  serta  terhindar  dari  segala malapetaka.

Hengky Suryadi
Tulisan ini terdiri dari Empat bagian :


Komentar

Postingan populer dari blog ini

" NAMA-NAMA BUDDHIS "

“大悲咒 | Ta Pei Cou (Mahakaruna Dharani) & UM-MANI-PAD-ME-HUM”

“ Fangshen cara membayar Hutang Karma Buruk dengan cepat dan Instan “