Fenomena Dhamma

Sunday, March 15, 2015

Kisah Cara me-RUBAH TAKDIR NASIB BURUK jADI BAIK & CEMERLANG…


Empat Nasehat Liao Fan Bagian 1 - Bagaimana Membangun Nasib.

 

 07 December, 2010- Written by  Hengky Suryadi

Budaya-Tionghoa.Net | Membangun  nasib  adalah  untuk  membentuk  nasib  daripada  terikat  olehnya. Pelajaran  ini  adalah  membicarakan  tentang  prinsip  dan  pengetahuan  yang  diperlukan  untuk  mengubah  nasib.  Berdasarkan  pengalamannya,  Liao  Fan  mengajarkan  anaknya  jangan  terikat  nasib  dan  berusaha  sebaik  mungkin  melaksanakan kebaikan serta menghindarkan segala perbuatan tidak baik.


"Seseorang seharusnya tidak menolak melakukan perbuatan baik yang sekecil  apapun  dan  berani  berbuat  sesuatu  kesalahan,  yang  dianggap  adalah  hanya  suatu  kesalahan  kecil".  Bila  seseorang  melakukan  sesuatu  yang  baik,  sudah pasti  nasibnya  akan  berubah,  seperti  kata  pepatah  "Menghindari  segala  perbuatan tidak baik dan mempraktekkan segala yang baik, akan  mengurangi  bencana  dan  mendatangkan  kebaikan"  atau  "Orang  berbuat  baik,  manfaatnya  belum  kita  terima,  tetapi  bencana  sudah   menjauhi,   orang   berbuat   kejahatan,   bencana   belum  menimpa,  akan  tetapi  manfaat  baik  yang  telah  kita  miliki  sudah  menjauh". Ini adalah prinsip yang harus senantiasa diingat untuk membangun  nasib.

"Menghindari segala perbuatan tidak baik dan mempraktekkan 
segala yang baik, akan mengurangi bencana dan mendatangkan 
kebaikan" 

"Orang berbuat baik, manfaatnya belum kita terima, tetapi 
bencana sudah menjauhi, orang berbuat kejahatan, bencana 
belum menimpa, akan tetapi manfaat baik yang telah kita miliki 
sudah menjauh". 

Sejak  kecil  saya  telah  kehilangan  ayah,  ibu  menganjurkan  saya  untuk  belajar  ilmu  pengobatan,  selain  untuk  menghidupi  diri  sendiri  dan  menyembuhkan  orang  lain,  juga  merupakan  keinginan  ayah  saya.  Maka  saya  belajar  ilmu pengobatan untuk memenuhi kehendak ibu.  

Pada suatu hari di Vihara Che Yin She, saya bertemu seseorang yang sudah tua,  berpenampilan   anggun   bagaikan   seorang   malaikat,   ia   berkata   :   "Anda  ditakdirkan  sebagai  seorang  pejabat,  tahun  depan  anda  adalah  seorang  "Siu Chai"  (Gelar  seorang  siswa  setelah  lulus  ujian  di  Kabupaten),  mengapa  tidak belajar?" 

Saya  memberitahukan  alasannya,  serta  menanyakan  nama  dan  asal  usulnya. Orang tua itu berkata : "Nama keluarga saya Khong, berasal dari propinsi Yin Nan, ahli ilmu Sau Tze Huang Cik Cing Se (Sejenis ilmu Tiongkok kuno untuk  meramal), ditakdirkan untuk diwariskan kepada anda." 

Saya  memberitahu  ibu  hal  ini  dan  mengundang  Tuan  Khong  pulang  serta  menetap  sementara  di  rumah.  Ibu  ingin  saya  melayani  Tuan  Khong  dengan  baik,  setelah  menguji  keahlian  menghitung,  meramal  nasib  saya,  ternyata  segala  hal  besar/kecil  yang  diramalnya  adalah  tepat  sekali,  sehingga  saya  percaya  dan  mulai  belajar  untuk  mempersiapkan  diri  menghadapi  ujian  "Siu Chai". 
Tuan  Khong  meramalkan  lagi  bahwa  untuk  ujian  tingkat  Kabupaten, 
untuk  gelar  "Thun  Sen"  akan  mendapat  ranking  14,  untuk  ujian  tingkat  Kotamadya  akan  mendapat  ranking  72,  ujian  di  tingkat  Propinsi  mendapat  ranking 9. Tahun berikutnya, saya mengikuti ujian di 3 lokasi dan lulus tepat sesuai  ranking  yang  diramalkan  Tuan  Khong.  Oleh  karena  itu  saya  mohon diramalkan  nasib  seumur  hidup. 
Tuan  Khong  meramalkan,  bahwa  pada  ujian tahun  x  saya  akan  mendapat  ranking  ke  berapa,  tahun  y  akan  mendapat  tambahan tunjangan makanan dari pemerintah, tahun z akan mendapat gelar  "Kung Sen", pada tahun xx akan diangkat sebagai Bupati di propinsi She Cuan  selama  3,5  tahun  dan  meletakkan  jabatan  pulang  kampung.  Meninggal  pada  umur 53 tahun, tanggal 14 Agustus diantara jam 1-3 pagi dan tidak mempunyai anak. Sejak itu, semua ujian yang saya ikuti lulus dengan ranking seperti Tuan  Khong  ramalkan. 
Tuan  Khong  juga  meramalkan  bahwa  saya  akan  menerima  tunjangan  beras  dari  pemerintah  (dahulu  gaji  dibayar  dengan  beras,  bukan  uang) sebesar 91 she 5 thou, baru akan naik pangkat "Kung Sen", tetapi waktu menerima gaji 70 she, saya sudah naik pangkat sebagai "Kung Sen", karena itu saya  mulai  meragukan  ketepatan  ramalan  Tuan  Khong,  tetapi  tidak  diduga  surat permohonan untuk mengisi lowongan "Kung Sen" ditolak, sampai tahun Ting  Mau  atasan  dari  penguji  menemukan  bahwa  hasil  ujian  saya  yang mengandung  usulan-usulan  serta  pandangan  kepada  pemerintah  baik  sekali dan  tidak  tega  memendam  bakat  seseorang,  maka  memerintahkan  untuk mengajukan  permohonan  secara  resmi  ke  pejabat  penguji.  Kenaikan  pangkat "Kung Sen" tersebut dihitung kembali, tunjangan beras yang saya terima tepat 91 she 5 thou. 

Sejak peristiwa ini saya percaya pada takdir, semua sudah ditentukan sejak kita dilahirkan, sehingga saya menjadi pasif terhadap kehidupan ini, tidak bergairah dan  tidak  menuntut.  Setelah  terpilih  sebagai  pelajar  negara,  saya  belajar  di sebuah  Universitas  Beijing.  Selama  1  tahun  tinggal  di  Ibukota,  saya  tertarik akan meditasi dan selalu duduk tenang tanpa pikiran, kehilangan minat belajar dan sama sekali tidak belajar lagi.

Sebelum masuk Universitas Nanjing, saya mengunjungi seorang guru aliran Zen yang  bernama  Yun  Gu  di  gunung  Chishia.  Kami  duduk  berhadapan  di  ruang meditasi  selama  3  hari  3  malam  tanpa  tidur.  Guru  Yun  Gu  lalu  bertanya  : "Sebagai penyebab orang awam tidak dapat menjadi orang arif adalah terlalu banyak pikiran kacau balau, terlalu banyak keinginan serta terikat oleh nafsu-nafsu  indranya.  Selama  3  hari  meditasi  kita,  menurut  observasi  saya,  tidak sehelai jua pikiran dan nafsu tidak baik timbul pada diri anda, mengapa?" Saya menjawab : "Tuan Khong telah meramal seluruh nasib kehidupan saya, promosi, jabatan, keuntungan, kegagalan, kematian semua telah ditakdirkan, tidak ada gunanya lagi bagi saya berpikir untuk menginginkan sesuatu, itu sebabnya tidak sehelai jua pikiran timbul dalam meditasi'. 

Guru Yun Gu tertawa dan berkata : "Saya kira anda seorang luar biasa yang telah  melatih  diri  untuk  mencapai  taraf  ini,  sekarang  saya  sadar  bahwa  anda tidak  lain  juga  seorang  manusia  awam".  Saya  merasa  heran  dan  memohon Guru  Yun  Gu  menjelaskannya  apakah  seseorang  dapat  luput  dari  nasibnya, Beliau menjawab : "Manusia awam otaknya selalu dipenuhi oleh pikiran kacau dan  angan-angan,  sudah  tentu  mereka  terikat  oleh  Chi  dari  Yin  dan  Yang sebagai  penentuan  yang  disebut  sebagai  takdir.  Kita  tidak  dapat  mengingkari bahwa takdir itu ada, akan tetapi hanya manusia awamlah yang terikat olehnya. Takdir tidak dapat mengikat orang yang berbuat banyak kebaikan. 

"Karena  akumulasi  banyak   kebajikan,  maka  akan  mengubah  takdir  menjadi lebih  baik.  Nasib  dibuat  sendiri,  penampilan  seseorang  bersumber  dari  hati, bencana    dan    keberuntungan    tanpa    pintu,    manusia    sendirilah    yang mengundangnya". 

Akumulasi  kebajikan  yang  banyak  sudah  pasti  akan  mengubah  nasib  buruk menjadi baik, yang miskin menjadi kaya, pendek umur menjadi panjang umur. Hal yang sama nasib juga tidak dapat mengikat mereka yang banyak membuat kejahatan.  Bila  seseorang  membuat  banyak  kejahatan,  keberuntungan  yang dibawa sejak lahir (takdir) akan berubah menjadi bencana. 

Selama 20 tahun anda hidup sesuai dengan apa yang diramalkan Tuan Khong dan  tidak  membuat  sesuatu  untuk  mengubahnya  dan  terikat  oleh  nasib  anda sendiri.  Saya  bertanya  :  "Menurut  guru,  apakah  seseorang  dapat  mengubah nasibnya dan melepaskan diri dari takdir?" Guru menjawab : "Kita membentuk nasib  sendiri,  baik  atau  buruk  juga  ditentukan  oleh  diri  sendiri.  Bila  saya  berbuat  jahat,  bencana  akan  menimpa  saya,  bila  saya  berbuat  baik,  maka  keberuntungan akan datang kepada saya. Tertulis juga dalam buku kebijakan kuno,  bila  seseorang  menginginkan  kekayaan,  reputasi,  anak  laki/perempuan, panjang  umur,  ia  akan  mendapatkannya,  hanya  dengan  membuat  banyak kebajikan untuk melepaskan diri dari genggaman nasib. 

Mencius pernah mengemukakan bahwa apa yang kita inginkan dapat tercapai dan  kita  sendiri  yang  harus  melaksanakan,  ini  adalah  yang  berkaitan  dengan kebajikan,  kebaikan  moralitas  diri  sendiri,  akan  tetapi  yang  berkaitan  dengan kekayaan,  kejayaan,  reputasi,  itu  adalah  harus  melalui  pemberian  orang  lain, bagaimana kita memperolehnya?" Guru berkata lagi : "Perkataan Mencius benar, tetapi  anda  belum  menangkap  arti  sebenarnya.  Hui  Neng  (guru  besar  dari aliran Zen) pernah mengajarkan: "Semua ladang kebajikan berada di hati, bila kita  mencari  dari  dalam  diri,  semuanya  dapat  tercapai,  perbuatan  baik  akan mengundang  keberuntungan  dan  perbuatan  tidak  baik  akan  mengundang bencana. Keberuntungan dan bencana tidak lain tidak bukan hanyalah refleksi dari  dalam  diri  kita  sendiri.  Bila  kita  mencari  dalam  diri  kita,  bukan  hanya menemukan  kualitas  sifat  luhur  jati  diri,  tetapi  juga  kekayaan,  reputasi  serta segala keinginan duniawi dan akhirat". 

Bila  segala  keberuntungan  memang  sudah  ditakdirkan  milik  kita,  kita  akan memperolehnya walaupun tidak mengejarnya, akan tetapi bila tidak demikian, walaupun  dengan  cara  menipu,  mencuri,  berusaha  mati-matian  mengejarnya kita tidak akan memperolehnya. 

Guru  berkata  lagi  :  "Bila  seseorang  mencari  keberuntungan  dari  luar  bahkan berbuat  kejahatan  untuk  memperolehnya,  dia  tidak  hanya  kehilangan  segala budi baiknya, tetapi termasuk segala keberuntungan yang ditakdirkan menjadi miliknya,  lebih-lebih  lagi  ketamakan,  kebencian  yang  berada  dalam  benak seseorang  akan  mengurangi  keberuntungannya,  karena  itu  kita  harus  sadar, bahwa   tidak   ada   gunanya   bila   kita   dengan   membabi   buta   mencari keberuntungan. Apa yang diramalkan Tuan Khong tentang kehidupan anda?" 

Saya  memberitahukan  semua  yang  diramalkan  Tuan  Khong  tentang  saya kepada guru. Guru bertanya: "Apakah anda merasa berhak mendapat posisi di pemerintahan  atau  seorang  anak?"  Setelah  lama  mengintrospeksi  perbuatan dan  sikap  saya  masa  lalu.  Saya  menjawab  :  "Tidak,  saya  tidak  berhak mendapat  posisi  di  pemerintah  atau  seorang  anak,  mereka  yang  mendapat 
posisi di pemerintah, semua mempunyai penampilan yang baik sedangkan saya tidak, saya juga tidak banyak membuat kebajikan untuk membangun nasib baik, saya  tidak  sabar  dan  tidak  displin,  bicara  seenaknya  tanpa  memperdulikan perasaan orang lain, sombong dan bangga diri. Semua ini adalah tanda-tanda bahwa saya tidak bernasib baik juga tidak berbudi, bagaimana mungkin saya mendapat posisi di pemerintah." Selanjutnya, kita lihat mengapa Tuan Liau Fan tidak mempunyai anak. 

Menyenangi  kebersihan  adalah  baik,  tetapi  merupakan  suatu  problem  jika kesenangan tersebut sudah melampaui batas. Seperti pepatah kuno "Kehidupan akan tumbuh dari debu bumi, air yang terlalu jernih tidak menghasilkan ikan". 

Alasan  saya  tidak  berhak  mendapat  anak  adalah:  pertama  saya  terlalu menyenangi  kebersihan,  mengakibatkan  kurang  memperhatikan  orang  lain. Alasan kedua adalah saya cepat marah dan emosi. 

Keharmonisan adalah suatu latihan untuk semua kehidupan, kasih sayang dan kebajikan  adalah  dasar  untuk  memproduksi  dan  kemarahan/emosi  adalah sumber kegersangan. 

Alasan  ketiga  adalah  saya  terlalu  mementingkan  reputasi  dan  tidak  mau berkorban apapun untuk kepentingan orang lain. Alasan keempat adalah saya berbicara terlalu banyak sehingga mengkonsumsi terlalu banyak "Chi" (energi). Alasan kelima adalah saya suka minum alkohol yang mengikis semangat saya. 

Untuk  tetap  sehat,  seseorang  seharusnya  tidak  bergadang  sepanjang  malam tanpa istirahat/tidur. 

Alasan  keenam  saya  tidak  mempunyai  anak  adalah  saya  suka  bergadang sampai larut malam, tidak memelihara energi, selain ini saya masih mempunyai banyak  kesalahan  yang  terlalu  banyak  jika  diutarakan.  Guru  berkata  :  "Lalu menurut anda, ada banyak hal di dunia ini yang anda tidak pantas memilikinya, tidak hanya reputasi dan anak?" 

Mereka   yang   memiliki   jutaan   dollar   pada   kehidupan   ini,   pasti   telah mengumpulkan  banyak  kebajikan  berdana  pada  masa  lalunya.  Mereka  yang memiliki  ribuan  dollar  juga  karena  telah  mengumpulkan  perbuatan  baik sebanyak  itu.  Mereka  yang  meninggal  karena  kelaparan,  sebenarnya  adalah karena  karmanya  harus  meninggal  dalam  keadaan  demikian.  Mereka  harus 
jelas bahwa pikiran dan perbuatan masa lampau merekalah yang membentuk nasibnya. Akibat yang kita terima sekarang hanyalah hasil perbuatan diri sendiri. Yang Kuasa tidak berbuat lebih dari hanya menghukum yang jahat sesuai apa yang  pantas  diterima  dan  menganugerahi  keberuntungan  yang  pantas  bagi yang berbuat baik. 

Bencana  dan  keberuntungan  adalah  dibuat  oleh  diri sendiri.  Orang  bijak  sadar  bahwa  keberhasilan  atau kegagalan     hidupnya     adalah     konsekwensi     dari perbuatan  dan  pikiran  sendiri,  hanya  orang  awam yang menganggap semua ini adalah nasib/takdir. 

Guru berkata : "Melahirkan anak adalah sama dengan buah tumbuh dari bibit, bila bibit ditanam dengan baik, buahnya subur, bila ditanam dengan tidak baik, buahnya  juga  tidak  subur.  Sebagai  contoh:  seseorang  bila  mengumpulkan kebajikan  untuk  ratusan  generasi,  maka  ratusan  generasi  turunannya  akan menikmatinya,  bila  hanya  mengumpukan  kebaikan  untuk  10  generasi,  maka hanya 10 generasi turunannya yang menikmati, demikian juga yang 3 generasi dan 2 generasi. Bagi mereka yang tidak mempunyai keturunan, karena mereka tidak  membuat  kebajikan,  sebaliknya  memiliki  banyak  kekacauan.  Sekarang anda menyadari kekurangan anda, anda boleh berusaha untuk mengubah apa yang menyebabkan anda tidak mempunyai anak dan posisi di pemerintah, anda harus  berbuat  baik,  sabar,  memperlakukan  orang  lain  penuh  kasih  sayang, harmonis, rawatlah kesehatan, memelihara energi dan semangat anda. 

Anggaplah  bahwa  semua  yang  lalu  sudah  berakhir  kemarin,  masa  depan dimulai hari ini. Bila anda mempunyai persepsi ini, maka anda adalah seorang yang  baru  lahir.  Bahkan  walaupun  bila  badan  kita  terikat  oleh  nasib, bagaimana  mungkin  pikiran  baik  dan  disiplin  tinggi  tidak  mendapat  perhatian Yang Kuasa? Sesuai yang tercantum dalam buku sejarah Tiongkok . . . . . . . . 

Seseorang mungkin dapat melepaskan diri dari takdir asalnya, tetapi seseorang tidak  pernah  dapat  melepaskan  diri  dari  bencana  atas  kejahatan  yang  telah dilakukannya. Dengan kata lain, setelah seseorang dapat mengubah nasib hasil perbuatan masa lampau, tetapi bila seseorang terus menerus bertingkah laku amoral,  maka  tidak  akan  ada  kesempatan  untuk  menghindari  dari  bencana 
berat. 

Guru  berkata  :  "Seperti  tertulis  dalam  buku  syair  :  Manusia  harus  selalu instrospeksi diri apakah pikiran dan perbuatan sesuai dengan hukum alam dan kehendak  Yang  Kuasa.  Bila  seseorang  mempraktekkan  cara  ini,  niscaya 
keberuntungan akan diperoleh tanpa dicari. Untuk memilih keberuntungan atau 
sebaliknya adalah tergantung pada diri sendiri. 

Tuan  Khong  telah  meramal  bahwa  anda  tidak  mendapat  posisi  di  Pemerintah dan  seorang  anak.  Kita  dapat  menganggap  ini  adalah  takdir,  tetapi  itu  dapat dirubah.  Anda  hanya  perlu  mengubah  kebiasaan  buruk  anda.  Praktekkan kebaikan  untuk  mengumpulkan  kebajikan.  Ini  adalah  usaha  anda  untuk membangun  nasib  baik,  tidak  ada  orang  yang  dapat  merampas  dari  anda. Bagaimana mungkin anda tidak dapat menikmatinya? 

Dalam buku I Ching (buku tentang perubahan) tertulis : membantu orang akan membawa keberuntungan dan menghindari bencana! Pada bab pertama buku I Ching  juga  tertulis  :  "Keluarga  yang  membuat  kebajikan  akan  mewariskan keberuntungan  kepada  anak  cucunya.  Anda  percaya  itu?  "Saya  mengerti  dan percaya  apa  yang  diajarkan  guru  dan  memberi  penghormatan  yang  besar kepadanya. Lalu saya menyesali segala perbuatan2 buruk masa lalu, besar atau kecil.  Saya  menulis  keinginan  saya  untuk  lulus  dalam  ujian  negara  dan bersumpah  akan  membuat  tiga  ribu  jenis  kebajikan  untuk  menunjukkan  rasa terima kasih dan syukur kepada Leluhur, Langit dan Bumi. Setelah mendengar sumpah  saya,  guru  Yun  Gu  memberikan  saya  satu  daftar  dan  mengajarkan saya  bagaimana  mencatat  perbuatan  baik  dan  tidak  baik  yang  telah  saya janjikan.  Beliau  memberitahukan  bahwa  perbuatan  buruk  akan  menetralisir perbuatan baik yang telah saya kumpulkan. 

Bila  seseorang  berkeinginan  sesuatu  untuk  mengubah  nasib,  yang  terpenting adalah pikiran yang tenang, dengan cara ini, keinginan tersebut dapat tercapai. Mencius  menulis  dalam  bukunya  yang  berjudul  :  "Prinsip  untuk  membentuk nasib  bahwa  tidak  ada  perbedaan  antara  panjang  umur  dan  pendek  umur", sekilas  pandang,  seseorang  akan  merasa  sangat  sulit  untuk  dimengerti, bagaimana panjang umur dan pendek umur itu sama? 

Sebenarnya bila kita melihat ke dalam diri kita, kita akan menemui tidak ada perbedaan. Kita memandangnya dari segi persamaan dan hidup bermoral tanpa memperdulikan    saat    yang    baik    atau    buruk,    bila    seseorang    dapat mempraktekkan  sesuai,  niscaya  seseorang  dapat  menguasai  kekayaan  dan kemiskinan.   Oleh   sebab   itu,   bila   seseorang   sanggup   membangun   dan membentuk  nasib  sendiri,  tidak  ada  masalah  apakah  saat  ini  kita  kaya  atau miskin. 

Seperti seorang yang kaya raya tidak berbuat sembrono karena dia kaya, dan seorang yang miskin tidak berbuat kejahatan karena dia miskin, dalam hal yang sama, seseorang harus melaksanakan tanggung jawabnya untuk tetap sebagai seorang manusia sejati. 

Guru berkata : "Jika seseorang dapat mempraktekkan moralitas dalam kondisi apapun, sudah tentu dia akan mengubah miskin menjadi kaya, yang kaya dapat mempertahankan  kekayaannya  lebih  lama.  Demikian  juga  pandangan  yang sama terhadap panjang umur dan pendek umur, seseorang yang mengetahui bahwa  dia  berumur  pendek  seharusnya  tidak  berpikir  :  Saya  sudah  harus meninggal,  tidak  perlu  berbuat  kebajikan,  saya  akan  mencari  keuntungan dengan mencuri dan membunuh sewaktu saya masih sanggup. 

Sebaliknya,  seseorang  yang  sudah  mengetahui  bahwa  dia  akan  berumur pendek,  harus  lebih  rajin  melatih  diri  untuk  membuat  kebajikan,  untuk memperoleh  umur  yang  panjang  pada  kehidupan  yang  akan  datang  dan mungkin     dengan     melaksanakan     banyak     kebaikan     bahkan     dapat memperpanjang umurnya sekarang. Seseorang yang panjang umur janganlah 
berpikir,  bahwa  saya  masih  banyak  waktu  di  dunia  ini,  tidak  masalah  bila sesekali berbuat kesalahan". 

Mendapat  umur  panjang  tersebut  tidak  mudah,  malahan  harus  lebih  giat berbuat  kebajikan  dan  melatih  budi  luhur  diri,  kalau  tidak,  kita  akan  cepat menghabiskan  umur  yang  panjang  tersebut  karena  dikompensasikan  dengan tindakan amoral. 

Guru  berkata  :  "Seseorang  yang  mengerti  prinsip  ini,  akan  mengubah  umur pendek  menjadi  umur  panjang  melalui  sikap  luhur  dan  kebajikan.  Masalah hidup dan mati adalah hal yang paling kritis dalam kehidupan. Oleh sebab itu, umur  panjang  atau  pendek  juga  merupakan  hal  yang  terpenting  bagi  kita. Demikian juga masalah kaya dan miskin, reputasi baik dan jelek". 

Itu  sebabnya  Mencius  tidak  menjelaskan  lagi  masalah  kaya/miskin,  reputasi baik/jelek  tersebut  di  atas,  karena  Beliau  telah  menjelaskan  tentang  umur panjang dan umur pendek dan itu adalah hal yang sama prosesnya. 

Lalu  guru  mengajarkan  kepada  saya  ajaran  Mencius  tentang  pelatihan  diri. Seseorang yang ingin melatih diri, harus melaksanakan setiap hari dan setiap saat, waspada akan perbuatan sendiri, meyakinkan diri bahwa setiap perbuatan dan  pikiran  itu  tidak  melanggar  hukum/  peraturan,  ingat  bahwa  untuk mengubah   nasib   adalah   tergantung   kepada   akumulasi   kebajikan,   agar mendapat  berkah  dari  Yang  Kuasa.  Saat  melatih  diri,  seseorang  harus  sadar akan    kesalahan    yang    telah    diperbuatnya    dan    segera    berusaha mengoreksinya/mengaku salah persis seperti kita mengobati diri saat sakit. 

Ketekunan adalah faktor utama dalam pelatihan ini dan bila hal ini telah matang segera kita menerima hasilnya. Saat ini, nasib seseorang sudah pasti berubah menjadi  lebih  baik.  Kita  harus  berusaha  menghapus  semua  kebiasaan  dan pikiran  yang  buruk.  Kita  akan  benar-benar  mendapat  manfaat  yang  nyata bilamana kita telah mencapai ke tingkatan "tanpa pikiran". 

Tadinya saya bernama Shuei Hai, yang berarti "berpengetahuan luas" setelah menerima ajaran guru ini, saya mengubah nama menjadi Liau Fan yang berarti "Melampaui/menyadari keadaan umum", menunjukkan bahwa pengertian saya akan kebenaran untuk mengubah nasib sendiri dan saya tidak ingin menyerupai manusia biasa yang membiarkan diri dikontrol nasib. 

Sejak itu, saya selalu waspada akan semua pikiran dan perbuatan saya. Saya sangat  hati-hati  dan  teliti  dalam  pikiran  dan  pengambilan  tindakan,  sehingga saya  merasa  telah  berbeda  dari  sebelumnya.  Dahulu,  saya  selalu  sembrono, tidak konsentrasi dan saya sama sekali tidak disiplin. 

Sekarang, saya sangat teliti dan hati-hati berpikir, berbicara dan berbuat, saya bahkan mempertahankan sikap ini pada saat bila sedang sendirian, karena saya sadar  Yang  Kuasa,  Dewa,  Malaikat  yang  berada  di  mana-mana  sedang mengawasi  segala  pikiran  dan  tindakan  saya.  Bahkan  bila  bertemu  dengan orang  yang  tidak  menyenangi  dan  mencaci  maki  saya,  saya  dapat  menerima dengan sabar dan tenang, tidak ada perasaan unuk melawan atau bertengkar dengan mereka.
Setahun setelah saya menemui Tuan Khong, saya mengikuti ujian dasar negara, yang  mana  Tuan  Khong  meramal  bahwa  saya  akan  mendapat  ranking  3, ternyata  saya  mendapat  ranking  pertama,  ramalan  Tuan  Khong  tidak  akurat lagi.   Tuan  Khong  meramal  bahwa  saya  sama  sekali  tidak  akan  lulus  dalam ujian akhir negara, tetapi pada musim gugur, saya berhasil lulus. Ini adalah di luar takdir saya, tetapi saya mendapatkannya.

Guru berkata : "Nasib dapat dirubah". 

Sekarang saya lebih mempercayainya! Walaupun saya telah banyak mengoreksi kesalahan  saya,  saya  menemukan  bahwa  saya  tidak  dapat  sepenuh  hati melakukan  sesuatu,  walaupun  saya  melaksanakannya,  tetapi  masih  merasa terpaksa dan tidak dengan hati yang tulus. Saya mengintrospeksi ke dalam diri dan menemukan masih banyak kekurangan. 

Banyak  orang  mempunyai  kesempatan  membuat  kebajikan,  tetapi  tidak antusias  membuatnya  atau  ragu-ragu  bila  sedang  membantu  sesama  yang memerlukan bantuan tersebut. 

Kadang-kadang  saya  memaksa  diri  berbuat  baik,  tetapi  ucapan  saya  masih tidak  ramah  dan  penuh  emosi,  saya  masih  dapat  berlaku  baik  bila  sedang tenang,  tetapi  setelah  minum  alkohol,  saya  akan  kehilangan  disiplin  dan bertindak  tanpa  dapat  mengontrol  diri.  Walaupun  saya  selalu  praktekkan kebajikan  dan  mengumpulkan  pahala,  tetapi  kesalahan  dan  kekurangan  saya sangat  banyak  sehingga  menghapuskan  perbuatan  baik  saya.  Waktu  saya banyak terbuang sia-sia dan tidak berharga, saya memerlukan waktu 10 tahun untuk mencapai 3.000 jenis kebaikan yang saya janjikan. 

Saya memohon untuk mendapat anak dan berjanji akan membuat 3.000 jenis kebajikan  lagi,  beberapa  tahun  kemudian  mama  anda  melahirkan  anda  dan memberi nama Tian Chi. 

Setiap  kali  saya  melakukan  satu  kebaikan,  saya  mencatat  di  sebuah  buku, mama saya buta huruf, menggunakan bulu angsa sebagai pena dan mencelup ke  dalam  tinta  membuat  satu  lingkaran  merah  di  kalender  untuk  menandai setiap  perbuatan  baik  yang  telah  dilakukannya.  Kadang  kala  dia  memberi makanan   kepada   orang   miskin,   atau   membeli   binatang   di   pasar   lalu melepaskannya  di  hutan,  dia  mencatat  semua  ini  dengan  lingkaran  merah  di kalender, dia sering dapat mengumpulkan lebih dari 10 lingkaran merah dalam satu hari. 

Setiap  hari  kami  mempraktekkan  ini  selama  empat  tahun,  3.000  kebajikan dapat diselesaikan. Sekali lagi saya membuat persembahan di rumah kita. Pada tanggal  13  September  tahun  yang  sama,  saya  membuat  permohonan  ketiga, untuk lulus dalam ujian pada level "Jinshr". Saya berjanji akan membuat 10.000 kebaikan, tiga tahun kemudian permohonan saya tercapai, saya lulus ujian level 
Jinshr,  dan  diangkat  sebagai  Bupati  di  Propinsi  Baodi.  Di  kantor,  saya menyediakan sebuah buku kecil untuk mencatat kebaikan dan kesalahan yang telah saya buat dan menamakannya "Buku Disiplin Pikiran". 

Buku tersebut dinamai "Buku Disiplin Pikiran" dengan harapan untuk membantu Tuan Liao Fan menghindari diri dari keegoisan dan pikiran-pikiran tidak baik. 

Sejak  hari  itu,  saya  mencatat  semua  perbuatan  baik  dan  buruk  saya  dalam buku  tersebut  dan  meletakkannya  di  atas  meja  saya.  Setiap  petang  saya membakar  dupa  di  sebuah  altar  kecil  di  kebun  untuk  melaporkan  segala perbuatan  saya  kepada  Yang  Kuasa.  Suatu  kali,  mama  saya  sangat  prihatin ketika  melihat  saya  tidak  dapat  membuat  banyak  kebaikan  dan  bertanya  : "Dahulu  kala,  saya  dapat  membantu  anda  membuat  banyak  kebaikan  dan sanggup   menyelesaikan   3.000   kebaikan.   Sekarang,   anda   berjanji   akan membuat  10.000  kebaikan,  di  kantor  ini  kesempatan  kita  untuk  berbuat kebaikan sangat kecil, berapa lama janjimu dapat dipenuhi?" 

Malam itu, setelah mama saya berkata hal ini, saya bermimpi bertemu dengan seorang  malaikat  dan  saya  mengatakan  masalah  saya  dalam  menyelesaikan 10.000  kebajikan  tersebut.  Malaikat  tersebut  berkata:  "Ketika  anda  menjabat sebagai Bupati, anda menurunkan pajak untuk sewa ladang bagi para petani, itu  adalah  kebajikan  yang  besar  sekali,  pahala  ini  telah  mencakup  10.000 kebajikan  yang  anda  janjikan,  janji  anda  telah  terpenuhi".  Memang  petani  di Propinsi  Baodi  harus  membayar  pajak  yang  sangat  tinggi  ketika  saya  tiba  di sana. Saya menurunkan pajak atas ladang padi tersebut hampir setengahnya, akan tetapi saya masih merasa aneh... 

Bagaimana  malaikat  tersebut  mengetahui  tentang  penurunan  pajak  tersebut? Tuan Liao Fan tetap meragukan dan heran bagaimana hanya sebuah perbuatan dapat menandingi 10.000 kebajikan. 

Kebetulan, guru besar aliran Zen, Huang Yu sedang melakukan perjalanan ke gunung  U  Thai  dan  singgah  di  Baodi,  saya  mengundangnya  ke  rumah, menceritakan  tentang  mimpi  dan  bertanya  apakah  itu  dapat  dipercaya?  Guru Huan Yu berkata : "Ketika membuat kebaikan, seseorang harus jujur dan tulus serta  tidak  mengharapkan  balasan  atau  bertindak  salah.  Bila  seseorang 
membuat  kebaikan  dengan  jujur  dan  tulus,  tentu  saja  hanya  satu  perbuatan dapat    dibandingkan    10.000    kebajikan.    Selain    itu,    tindakan    anda denganmenurunkan  pajak  di  Propinsi  ini,  bermanfaat  bagi  lebih  dari  10.000 penduduk, anda telah meringankan penderitaan rakyat karena harus membayar pajak  yang  tinggi.  Anda  sudah  pasti  akan  memperoleh  keberuntungan  yang sangat besar dari tindakan ini". 

Setelah mendengar kata-kata guru Huan Yu, hati saya dipenuhi oleh perasaan bersyukur dan segera memberikan semua tabungan saya kepada Beliau untuk dibawa  ke  gunung  U  Thai,  saya  memesan  agar  uang  itu  dipergunakan  untuk mempersembahkan  makanan  Vegetarian  bagi  10.000  Bhiksu  dan  membantu saya menyalurkan pahala atas tindakan ini. 

Dari tindakan Liao Fan ini, dapat dinilai bahwa Beliau adalah seorang dermawan yang  dapat  bertindak  cepat,  MEMBERI  tanpa  sedikit  juga  keraguan  dan perasaan terpaksa, inilah penyebab Beliau memperoleh keberuntungan raksasa yang tidak ternilai. 

Liao Fan bukan berasal dari keluarga kaya, Beliau percaya hukum karma, Beliau adalah  seorang  pejabat  yang  taat  hukum  dan  bersih,  tidak  KKN,  tidak  mau mengambil uang haram. Hasil seorang pejabat negara seberapa? Tetapi Beliau rela  dan  segera  menyumbangkan  seluruh  tabungannya,  ini  adalah  sebuah tindakan luar biasa yang sulit ditemui. 

Tuan  Khong  telah  meramalkan  bahwa  saya  akan  meninggal  pada  umur  53 tahun,  tetapi  saya  tetap  hidup  sampai  sekarang  69  tahun  tanpa  menderita penyakit  apapun,  walaupun  saya  tidak  memohon  panjang  umur  dari  Yang Kuasa. Sekarang saya berumur 69 tahun, dan telah hidup lebih 16 tahun dari yang telah ditakdirkan. Dalam buku Su Ching Tiongkok tertulis . . . 

"Hukum   alam   tidak   mudah   dipercaya   dan   tidak mungkin   tetap   saja/tidak   berubah,   terlebih-lebih takdir tidak mungkin tidak berubah". 

Sejak itu saya percaya, orang yang berkata bahwa bencana dan keberuntungan adalah takdir, pasti dia adalah seorang awam, jika dia berkata bahwa bencana dan  keberuntungan  adalah  tergantung  kepada  hati  masing-masing  individu, berbuat  kebaikan  akan  mendapat  nasib  yang  baik,  orang  ini  pasti  seorang manusia sejati, seorang bijak dan seorang Nabi. 

Tian Chi anakku, saya tidak mengetahui perjalanan kehidupan anda bagaimana? Akan  tetapi  kita  selalu  bersiap  untuk  menghadapi  keadaan  yang  paling  jelek, karena itu, walaupun dalam keadaan makmur, tetaplah hidup sederhana, bila segala sesuatu berjalan lancar, tetaplah bersikap mawas diri dan waspada, bila anda kaya raya, tetaplah hidup hemat dan sederhana, bila disayangi/didukung orang,  janganlah  sombong,  bila  dijunjung  tinggi/dihormati  orang,  janganlah membanggakan diri, bila anda berpendidikan tinggi dan berpengetahuan luas, tetaplah menghormati orang, jangan malu bertanya, karena setiap orang pasti ada  kelebihannya  yang  tidak  kita  ketahui,  pasti  ada  orang  yang  lebih  pintar, lebih hebat dari kita. Selalulah laksanakan sedemikian rupa, berpegang teguh pada  moralitas,  kontrol  diri,  maka  kita  akan  memiliki  budi  luhur,  mengubah nasib dan mendapat berkah. 


Selalu melatih diri agar nama baik leluhur tidak tercemar, setiap hari berusaha memperbaiki serta menebus dosa orang tua, ke atas selalu ingat jasa negara dan   masyarakat   yang   telah   membimbing   kita,   ke   bawah   berusaha mensejahterakan  istri  anak,  selalu  bersiap  untuk  membantu  orang  yang memerlukan,  selalu  berdisiplin  ketat  terhadap  diri,  selalu  instropeksi  dan 
mengoreksi  diri.  Suatu  saat  bila  anda  merasa  puas  dalam  keadaan  begini, menganggap   diri   adalah   seorang   yang   sempurna,   tidak   mempunyai kesalahan/kekurangan, maka anda telah mengalami kemunduran. Orang-orang pintar  di  dunia  karena  merasa  diri  adalah  orang  sempurna  sehinga  menolak melatih  moralitas  dan  membentuk  akhlak  yang  baik,  tidak  dapat  memajukan 
usahanya,   semua   ini   karena   kelengahan   mereka,   malas   dan   hanya menginginkan kesenangan. 


Tian Chi, ajaran Guru Yun Gu benar-benar sangat tepat dan berbobot, sebagai manusia   sepantasnyalah   giat   mempelajarinya,   tekun   mempraktekkannya, bijaklah  mempergunakan  setiap  detik  waktu  anda  untuk  melatih  diri,  mengisi diri, jangan menyia-nyiakannya. 

”Nilai      suatu      kehidupan      bukanlah berdasarkan  seberapa  banyak  yang  kita dapat,  melainkan  berdasarkan  seberapa banyak  kita  telah  memberi  kepada  yang benar-benar memerlukan”.

Hengki Suryadi.

Catatan Admin : Tulisan ini terdiri dari Empat bagian.


0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home