Fenomena Dhamma

Friday, March 13, 2015

Makanan Sincia dan Maknanya





Budaya-Tionghoa.Net | Makanan Sincia di Indonesia sangat unik dan berbeda jauh dari negeri asalnya, berbeda juga dengan negeri lain semisal Malaysia, Singapore, Thailand, Vietnam, dsb. Kalau lebih spesifik lagi, bahkan tiap daerah akan berbeda pula, baik nama, cara masak, gaya dan rasanya.
Sebagai contoh yang paling jelas adalah keberadaan Lontong Cap Go Meh….di mana pun juga selain di Indonesia, tidak akan pernah ditemukan makanan ini, dari rasa, style, aroma apalagi nama.
Contoh yang lain adalah ‘yu sheng’ yang dengan mudah ditemukan di Singapore. Di hampir setiap rumah tangga yang merayakan Imlek, pasti ada hidangan ini, yaitu hidangan dari ikan, sesuai namanya ‘yu’ yang diiris tipis, mentah dan disajikan untuk seluruh keluarga, dengan maksud ‘ada sisa’ maksudnya adalah serba kecukupan untuk tahun-tahun berikutnya. Yu sheng ini bukan sajian umum untuk Indonesia, walaupun sekarang di restoran-restoran di Jakarta banyak yang menyajikannya.
Sajian dan rangkaian makanan Sincia yang berhasil saya cari dan dapatkan sedikit referensi adalah seperti di bawah ini. Contoh menu meja sajian Sembahyang Imlek:
Sajian Utama:
1.    Ca Rebung Iris Kasar (di dalamnya kadang disertakan juhi, haisom, abalone dan taoco)
2.    Ca Rebung Iris Halus (bersama kepiting, udang, atau hisit)
3.    Daging masak kecap (biasanya digunakan daging babi)
4.    Sosis daging masak kecap
5.    Masakan dari kaki
6.    Masakan dari paru
7.    Masakan dari lambung
8.    Sate daging
9.    Ayam O (dimasak bersama taoco dan facai)
10.  Opor Ayam
11.  Sambel Goreng (ampla, hati ayam, dan petai)
12.  Mi Goreng
Kue-kue wajib di meja sajian:
1.    Kue Keranjang (disusun 3, 4, atau 5 buah dihias dengan kertas minyak warna merah)
2.    Kue Moho (bisa diganti dengan Kue Mangkok, biasanya dicari yang berwarna merah jambu atau merah). salah satunya diletakkan di atas susunan kue keranjang.
3.    Kue Ku warna merah
4.    Kue Lapis
5.    Wajik (warna merah atau cokelat gula merah)
6.    Kue Nagasari
7.    Kue Bugis
8.    Kue Lemper (dibungkus seperti burung)
9.    Madu Mongso
10.  Bongko Cunduk, Bongko Meniran, atau Bongko Kopyor
11.  Coro Bikang
12.  Ketan Tetal (ketan warna biru disajikan dengan sambal ebi)
Manisan wajib:
1.    Tangkue
2.    Angco (kurma merah, bisa diganti dengan manisan ceremai warna merah. Biasanya manisan ini disajikan dalam piring-piring kecil atau ditusuk-tusuk seperti sate. Ditata di atas meja khusus bernama cenap. Biasanya tiap tusuk mewakili satu leluhur.)
Buah-buahan wajib:
1.    Pisang Raja atau Pisang Mas 1 sisir
2.    Tebu
3.    Srikaya
4.    Jeruk Bali, sebagai lambang persatuan (masih lengkap dengan tangkai dan daunnya)
5.    Delima merah
6.    Nanas
7.    Lengkeng
8.    Jeruk Lokam
9.    Belimbing
Biasanya buah-buahan ini dihiasi atau dibungkus dengan kertas minyak warna merah.
Makna sajian-sajian utama tsb di antara lain adalah:
Rebung
Melambangkan pengharapan baru, kehidupan baru yang lebih baik di tahun yang baru. Rebung adalah tunas bambu muda yang mulai tumbuh di musim semi, dan bentuk dari rebung yang berlapis dan bambu sendiri yang ada ruas dan buku, melambangkan tingkat-tingkat kehidupan yang diraih makin ke atas.
Mie
Jelas sekali merupakan pengharapan panjang umur. Di satu tempat dengan tempat lain berbeda, ada yang menyajikan mie, ada yang mieswa, ada yang sohun. Apapun itu mengandung arti dan makna yang sama. Kesehatan dan umur panjang.
Samseng
Diambil dari dialek Hokkian dari kata asli ‘shan sheng’ yang artinya secara harafiah ‘tiga segar’. Samseng ini adalah 3 jenis daging yang disajikan hanya di saat-saat istimewa, dalam tahun baru Imlek, Ceng Beng, atau dalam sembahyangan kematian. Samseng sendiri mengandung arti 3 hewan darat, laut dan udara. Penghormatan kepada alam semesta yang sudah bermurah hati memberikan kelimpahan pangan di tahun sebelumnya. Hewan darat biasa diwakili oleh babi, laut diwakili ikan atau kepiting, sementara udara diwakili ayam atau bebek. Bagi keluarga yang berkecukupan, kepala babi bisa disajikan, ayam utuh atau bebek utuh juga disajikan. Sementara bagi keluarga sederhana, biasa disajikan sekerat samcan, seekor ikan dan sebutir telur untuk mewakili.
Maksud sajian samseng ini adalah mengucap syukur atas apa yang sudah didapat sepanjang tahun sebelumnya. Semua disajikan dengan cara direbus yang mengandung makna kesederhanaan dan ucapan syukur.
Daging
Biasanya daging babi yang berlapis, atau nama lain adalah samcan, yaitu bagian belly, yang konon bagian terbaik karena berlapis selang seling daging dan lemak. Dan menunjukkan tingkat-tingkat kehidupan yang naik. Kata ‘samcan’ adalah dari dialek Hokkian ‘shan cheng’, yang artinya 3 lapis. Kata ‘samcan’ hanya dikenal di Indonesia.
Ayam
Yang dimasak dengan berbagai cara, masak-o, opor, melambangkan pengharapan penghidupan yang makmur. Jaman dulu, di pedesaan (sampai sekarang juga masih), makan daging ayam merupakan kemewahan tersendiri, dan hanya pada kesempatan khusus bisa dilakukan. Di Indonesia, khususnya di Jawa, masak-o yaitu masak dengan tauco melambangkan warna tanah yang memberikan penghidupan para petani, sementara dimasak opor melambangkan warna emas.
Sebenarnya opor di Jawa terdiri dari 2 macam, opor putih dan opor kuning. Opor putih di sini lebih banyak diminati oleh kalangan emak-emak (sebutan), yaitu para wanita Tionghoa yang sudah membaur dengan kebiasaan setempat mengenakan baju kurung (bukan kebaya) dan sarung selayaknya penduduk setempat. Penampilan unik ini hanya ada di Jawa. Inilah yang disebut emak-emak atau golongan Tionghoa babah. Sebutan Tionghoa babah adalah golongan yang sudah berasimilasi dan berbaur dengan penduduk lokal, sementara Tionghoa totok adalah golongan yang baru datang dari China dan belum berbaur.
Sementara opor kuning, biasa dimasak oleh penduduk asli dengan menambahkan kunyit, dengan alasan “luwih ayu” (lebih cantik), tidak pucat dan lebih menyehatkan badan karena kunyit sebagai penyeimbang santan. Seperti diketahui bahwa fungsi kunyit sangat baik untuk kesehatan tubuh.
Makna warna kuning diasosiasikan dengan emas, yang berkonotasi kemakmuran dan kemakmuran. Saya pribadi lebih suka opor kuning, yang memang terlihat lebih cantik dan rasanya lebih “sedep”.
Kue Keranjang
Nama sebenarnya adalah ‘nian gao’ (baca: nien kau) atau nama lain dalam dialek Hokkian disebut ‘thi kue’ artinya kue manis. Kata ‘gao’ sendiri juga berarti tinggi, jadi nama ‘nian gao’ bisa bermakna ‘tahun tinggi’, maksudnya tiap tahun makin meningkat (kesuksesan). Kue keranjang terbuat dari beras ketan dan gula, sehingga lengket dan manis sekali. Melambangkan kerekatan dan kerageman anggota keluarga, dan semua harapan baik dan manis. Ada juga yang berpendapat bahwa kue keranjang ini adalah untuk ‘menyuap’ Dewa Dapur yang melapor ke Kaisar Langit supaya apa yang dilaporkan yang manis-manis serta mulut sang dewa lengket susah berkata yang jelek.
Jeroan (babi atau ayam)
Melambangkan mutiara, segala sesuatu yang berharga yang diharapkan akan berlimpah di tahun yang baru.
Wajik, kue ku dan moho
Wajik yang berwarna merah dari ketan, berbentuk kerucut melambangkan pengharapan baik, yang makin tinggi. Kerageman dan keeratan anggota keluarga juga terlambang di sini. Kue ku dan moho yang berwarna merah, sama juga melambangkan persatuan anggota keluarga. Dan warna merah, sesuai dengan legenda untuk menakuti monster yang bernama “Nian” (baca: nien), yang takut warna merah dan suara keras. Legenda ini sudah banyak diceritakan di mana-mana.
Pisang Emas atau Pisang Raja
Nama pisang dalam bahasa Mandarin adalah ‘xiang jiao’ (baca: siang ciau). Kata xiang yang berarti harum, melambangkan pengharapan keharuman keluarga, seluruh anggota keluarga membawa kemuliaan dan tidak memalukan perbuatannya dalam masyarakat. Warna kuning yang melambangkan emas sudah jelas artinya, kemakmuran yang diharap.
Jeruk, Belimbing dan buah lainnya
Semua melambangkan pengharapan baik, kemakmuran, kesejahteraan, kepintaran, dsb. Secara prinsip, semua perlambang adalah untuk kebaikan seluruh anggota keluarga.

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home