Fenomena Dhamma

Wednesday, March 25, 2015

Empat Nasehat Liao Fan Bagian 3 - Cara Membuat Dan Mengumpulkan Kebaikan.



  
07 December, 2010- Written by  Hengky Suryadi

Budaya-Tionghoa.Net | BAB III-CARA MEMBUAT/MENGUMPULKAN KEBAIKAN.


Bab  sebelumnya  membicarakan  tentang  cara-cara  untuk  merubah  kesalahan kita pada kehidupan ini, sebenarnya untuk meyakinkan bahwa kehidupan yang  baik  tidak  akan  menjadi  buruk.  Bagaimanapun  kita  masih  tidak  sanggup  mengubah  kehdupan  buruk  menjadi  baik,  walaupun  kita  selalu  berbuat  baik  pada kehidupan ini, kita tidak tahu kejahatan apa yang kita telah lakukan pada  kehidupan  yang  lalu,  sehingga  balasan  atas  perbuatan  kejahatan  tersebut  masih  berlanjut  pada  kehidupan  ini.  Oleh  karena  itu,  untuk  mengubah  kehidupan  buruk  menjadi  baik,  kita  tidak  hanya  mengkoreksi  kesalahan  kita  tetapi  juga  harus  melaksanakan  segala  jenis  kebaikan  untuk  membangun  kebajikan.


Hanya cara ini kita dapat terlepas dari karma buruk kehidupan lalu. Pada saat akumulasi  kebaikan  kita  bertumpuk,  kehidupan  buruk  pasti  akan  berubah  menjadi  baik,  dengan  demikian,  praktek  kita  untuk  mengubah  nasib  dapat  terbukti. Seperti tertulis dalam buku I Ching . . . . . 

"Keluarga  yang  melakukan  banyak  kebaikan  akan  mengakumulasi  nasib  baik dan bertahan terus dari generasi ke generasi" 

Mari saya memberi contoh. Suatu ketika ada satu keluarga yang bernama Yen, sebelum mereka menyetujui lamaran atas putrinya dari seorang laki-laki yang  akhirnya menjadi ayah Konghucu, mereka menyelidiki perbuatan masa lalu dari  keluarga  laki-laki  tersebut.  Setelah  menemukan  bahwa  keluarganya  selalu  berbuat baik dan mengumpulkan kebajikan. Keluarga Yen merasa yakin bahwa  putrinya akan dinikahkan dengan keluarga yang akan menjadi sebuah keluarga  yang kelak keturunannya akan makmur, tidak memperhatikan bahwa sekarang  mereka   bukan   keuarga   berada.   Benar   saja,   putri   mereka   melahirkan  "Konghucu".

Suatu  ketika  Konghucu  memuji  Shwun,  seorang  raja  pada  awal  zaman Tiongkok atas kebesaran sifat baktinya kepada orang tuanya, Beliau berkata :

"Karena kebesaran sifat bakti Shwun dan leluhurnya, maka keturunan mereka  akan terkenal dan dihormati dan bertahan sampai banyak generasi". 

Perkataan   Konghucu   ini   terbukti   oleh   sejarah.   Sekarang   saya   akan menunjukkan  beberapa  kejadian  nyata  bahwa  kebajikan  dapat  diperoleh  melalui perbuatan baik.

Di  Propinsi  Fukien,  ada  seorang  terhormat  yang  bernama  Rong  Yang  yang memegang  jabatan  pemerintah  sebagai  guru  dari  raja.  Leluhurnya  adalah  tukang  perahu  sungai  yang  menyeberangkan  penumpang  di  sungai,  suatu  ketika terjadi banjir raksasa karena angin topan, menghanyutkan penduduk dan  harta benda, rumah, hewan dan barang-barang mereka terbawa arus.   Para  tukang  perahu  lain  menggunakan  kesempatan  ini  meraih  barang-barang  yang  terapung.  Tetapi  kakek  dan  kakek  buyut  Rong  Yang  hanya  menolong  orang  yang  hanyut  dan  tidak  mengambil  satupun  barang-barang  dari  sungai.  Tukang  perahu  lain  semua  menertawai  dan  mengatakan  bahwa  kakek  dan  kakek  buyutnya  sangat  bodoh.  Beberapa  saat  kemudian,  ketika  ayah  Rong  Yang lahir, keluarga Rong Yang lambat laun menjadi kaya. Suatu hari, seorang  Malaikat  yang  menjelma  sebagai  seorang  Bhiksu  Tao  mendatangi  keluarga  Yang  dan  berkata  :  "Leluhur  Anda  telah  mengumpulkan  banyak  kebajikan,  keturunan  anda  harus  mendapat  kekayaan  dan  reputasi,  ada  satu  tempat  khusus untuk membangun kuburan leluhur anda".

Maka  mereka  mengikuti  nasehat  Bhiksu  tersebut  dan  tidak  lama  kemudian, lahirlah Rong Yang. Pada umur 20 tahun, Rong Yang sudah lulus ujian negara  dan diangkat sebagai pejabat berpangkat tinggi. 

"Raja  bahkan  menganugrahi  kakek  dan  kakek  buyut-nya  jabatan  honoris. Sampai sekarang keturunannya masih sangat makmur dan ternama". 

Contoh  lain  seperti  Zi  Cheng  dari  propinsi  Nimpo,  Chehkian.  Zi  Cheng  adalah seorang  pejabat  di  pengadilan.  Dia  adalah  seorang  yang  adil,  ramah,  rendah  hati  dan  jujur.  Suatu  saat,  hakim  pengadilan  menghukum  seorang  kriminal  dengan memukulinya sampai darah membasahi lantai, kemarahan hakim masih  belum reda dan meneruskan hukuman tersebut. Zi Cheng berlutut dan mohon  agar berhenti memukuli tawanan tersebut. Hakim berkata . . . . . . 

"Anda memohon keringanan hukumannya, tetapi bagaimana saya tidak marah bahwa orang ini telah melanggar hukum". 

Zi  Cheng  berkata  :  "Bahkan  banyak  pemimpin  dan  penguasa  pemerintah korupsi  dan  tidak  mengikuti  jalan  yang  sebenarnya,  bagaimana  seseorang  dapat  mengharapkan  rakyat  biasa  untuk  mentaati  hukum  dan  peraturan?  Tambahan lagi, siksaan berat dapat memaksa tergugat yang sebenarnya tidak  bersalah  untuk  mengakui  kesalahan  atas  kejahatan  yang  sebenarnya  tidak  dilakukannya.  Untuk  kasus  demikian,  kita  harus  lebih  hati-hati  dan  mengerti.  Walaupun  kasus  kejahatan  ini  dapat  diungkapkan  seharusnya  juga  jangan  senang, karena adalah suatu aib, mengapa harus marah?"

Hakim  tersebut  tergugah  oleh  perkataan  Zi  Cheng  dan  berhenti  memukul. Walaupun Zi Cheng berasal dari keluarga yang miskin. Dia tidak pernah dapat  disogok. Bila para hukuman kekurangan makanan, dia selalu bawa dari rumah  sendiri walaupun dia sendiri yang harus menanggung kelaparan. Kasih sayang  demikian selalu dipraktekkannya walaupun dia telah mempunyai 2 orang anak.

Anak  yang  pertama  bernama  Shou  Chen  dan  yang  kedua  bernama  Shou  Zi, kedua-duanya  mendapat  jabatan  tinggi  di  pemerintah,  bahkan  keturunannya  tetap memperoleh posisi baik di masyarakat untuk jangka waktu panjang.   Ini ada cerita nyata lain yang terjadi pada masa Dinasti Ming. Suatu ketika, ada  segerombolan bandit muncul di Propinsi Fukien. Raja memerintahkan Jenderal  Hsieh memimpin tentara untuk mengamankan tempat tersebut. Jenderal Hsieh  tidak  ingin  ada  penduduk  yang  tidak  berdosa  menjadi  korban  pada  saat  pelaksanaan misi ini.

Karena  itu,  dia  berusaha  mendapatkan  daftar  nama  penjahat  tersebut,  lalu dengan  sangat  teliti  dan  rahasia  memberikan  bendera  putih  kecil  kepada  penduduk untuk dipasang di pintu sebagai tanda bahwa mereka tidak terlibat  dan  bila  tentara  masuk  ke  kota  tidak  menyerang  rumah  yang  berbendera.  Dengan  tindakan  ini,  Jenderal  Hsieh  dapat  menyelamatkan  puluhan  ribu  jiwa  rakyat yang tidak berdosa.

Setelah  itu,  anak  Jenderal  Hsieh  berhasil  meraih  juara  dalam  ujian  negera tingkat tinggi dan menjadi penasehat raja. Cucunya Pei Hsieh juga meraih juara  dalam ujian negara.

Cerita nyata lain adalah keluarga Lin di Fukien. Diantara leluhurnya ada seorang ibu tua yang sangat suka berdana. Setiap hari dia membuat onde beras untuk  diberikan kepada fakir miskin dan selalu memberi berapapun yang diminta.

Ada seorang Bhiksu Tao setiap hari dan berturut-turut selama tiga tahun setiap kali meminta 6 atau 7 buah onde. Ibu tersebut selalu memenuhi permintaannya  dan   tidak   pernah   menunjukkan   ketidaksenangan.   Bhiksu   Tao   tersebut,  sebenarnya  adalah  jelmaan  seorang  Dewa  untuk  menguji  ketulusan  dan  kebaikan  ibu  tersebut,  menyadari  bahwa  ibu  tersebut  benar-benar  tulus  dan  baik lalu berkata : "Saya telah makan onde buatan ibu selama 3 tahun dan saya  tidak  dapat  membalas  kebaikan  ibu.  Mungkin  saya  dapat  membantu  anda  dengan  cara  ini  "  Tanah  di  belakang  rumah  ibu,  adalah  tempat  yang  sangat  baik untuk membangun kuburan leluhur. Bila anda dimakamkan di sana kelak,  maka jumlah keturunan anda yang bergelar di pemerintah adalah sebanyak 1  pon biji wijen".

Ketika ibu tua tersebut meninggal, keluarga Lin mengikuti nasehat Bhiksu Tao tersebut dengan menguburkannya di tempat yang ditunjuk. Generasi pertama  ibu  tersebut,  9  orang  lulus  ujian  negera  dan  berlanjut  terus  sampai  generasi  berikutnya.

Contoh  nyata  lain  adalah  ayah  dari  seorang  sejarahwan  pemerintah  yang bernama Chi Feng. Suatu hari di musim dingin, ayah Chi Feng dalam perjalanan  menuju sekolah, ia menjumpai seorang yang telah membeku kedinginan tetapi  masih  bernafas,  dia  segera  membuka  mantelnya  dan  membalut  badan  orang  tersebut  lalu  membawanya  pulang  dan  menyelamatkannya.  Malam  itu  dia  bermimpi  bahwa  seorang  Dewa  berkata  kepadanya  :"Anda  telah  menolong  seorang  yang  hampir  meninggal  dengan  ketulusan  yang  dalam,  ini  adalah  sebuah  kebajikan  yang  sangat  besar.  Saya  akan  mengutus  Jenderal  Han  Chi yang  terkenal  dari  kerajaan  Sung  untuk  dilahirkan  sebagai  anak  anda".  Anak  tersebut lahir dan diberi nama Chi.

Contoh  nyata  lain  adalah  Ta  Jo  Ying,  seorang  sekretaris  pemerintah  yang tinggal di Taichou. Ketika dia masih muda, dia selalu tinggal di sebuah gunung  yang jauh. Malam hari, dia selalu mampu mendengar dan mengerti suara-suara  hantu dan makhluk halus tetapi dia tidak pernah merasa takut. Suatu hari dia  mendengar  satu  hantu  berkata  dengan  gembiranya  kepada  hantu  yang  lain  :
"Ha,  ha,  ha,...,  ada  seorang  wanita  kampung  yang  suaminya  telah  lama  meninggalkan rumah dan tidak kembali. Mertuanya berpikir anak mereka telah  meninggal  dan  memaksanya  untuk  menikah  lagi.  Besok  malam,  dia  akan  membunuh diri dan akan menggantikan saya, lalu saya dapat reinkarnasi/lahir  kembali, ha, ha, ha,..."

Roh  dari  orang  yang  membunuh  diri  harus  menunggu  orang  yang  juga membunuh  diri  di  tempat  yang  sama,  agar  dapat  meninggalkan  alam  hantu  tersebut dan dapat lahir kembali ke alam yang lebih baik/tinggi.

Tuan  Ying  mendengar  ini,  segera  pulang  menjual  tanah  dan  rumahnya, mendapat  4  lian  uang  perak,  dia  menulis  sepucuk  surat  atas  nama  suami  wanita  kampung  tersebut  dan  dikirim  beserta  4  lian  uang  perak  ke  rumah  wanita  tersebut.  Mertua  wanita  itu  mendapati  bahwa  surat  itu  bukan  tulisan  anaknya dan menyelidiki uang perak lalu berkata : "Surat mungkin palsu, tetapi  perak  ini  adalah  benar.  Siapa  yang  akan  mengirim  begitu  banyak  uang?  Mungkin  anak  kita  masih  hidup,  kita  tidak  boleh  memaksa  menantu  kita  menikah lagi".

Karena  itu,  wanita  tersebut  tidak  jadi  membunuh  diri  dan  pada  akhirnya suaminya kembali ke rumah. Tuan Ying mendengar hantu berbicara lagi "Hah!  Sebenarnya saya dapat reinkarnasi lagi, tetapi Tuan Ying telah menghancurkan  kesempatan  saya!"  Hantu  yang  kedua  berkata  :  "Mengapa  tidak  anda  celakai  dia  saja?"  Hantu  pertama  menjawab  :  "Tidak,  saya  tidak  boleh.  Karena  Yang  Kuasa  mengetahui  kebajikannya  dan  telah  menunjuknya  menjabat  posisi  penting di alam kita kelak, bagaimana saya berani mencelakainya"

Setelah  Tuan  Ying  mendengar  ini,  dia  menjadi  lebih  rajin  mempraktekkan kebaikan  dan  mengumpulkan  kebajikan.  Suatu  saat  terjadi  kelaparan,  dia  membeli   makanan   untuk   yang   miskin   dan   yang   memerlukan,   selalu  bersemangat membantu orang yang mengalami kesulitan darurat. Bila sesuatu  berjalan  tidak  lancar,  dia  selalu  introspeksi  diri  daripada  berkeluh  kesah  menyalahi  orang  lain,  bahkan  sampai  hari  ini,  keturunannya  masih  tetap  makmur.

Ada  seorang  yang  bernama  Feng  Chu  Hsu  yang  tinggal  di  Chanso,  Propinsi Chiangsu,  ayahnya  sangat  kaya.  Bila  ada  bencana  kelaparan,  ayahnya  selalu  menyumbang  padi  dan  seluruh  uang  hasil  sewa  sawah  kepada  yang  miskin.  Suatu  malam,  dia  mendengar  hantu  bernyanyi  di  luar  rumahnya  :  "Bukan  bercanda! Bukan bercanda! Seorang dari keluarga Hsu akan lulus ujian negara!" Hal ini terjadi beberapa hari dan benar saja, tahun itu anaknya Feng Chu lulus  ujian.   Sejak   itu,   dia   lebih   rajin   dan   tekun   melakukan   kebaikan   dan  mengumpulkan  kebajikan.  Dia  selalu  memperbaiki  jembatan-jembatan  yang  rusak, melayani orang-orang yang sedang berpergian dan Bhiksu-bhiksu. Suatu  hari dia mendengar hantu bernyanyi lagi : "Bukan bercanda! Bukan bercanda!  seorang dari keluarga Hsu akan lulus level tinggi ujian negara".

Benar, Feng Chu lulus ujian negara tingkat tinggi dan menjadi Gubernur di dua propinsi.

Contoh  cerita  nyata  lain  adalah  seorang  yang  bernama  Kung  Shi  Tu  yang tinggal di Chia Shing, propinsi Chehkiang. Tuan Tu bekerja di pengadilan dan  selalu bermalam di penjara berbicara dengan para tawanan. Bila dia menemui  ada   yang   tidak   bersalah,   dia   akan   menulis   surat   keterangan   untuk  menjernihkan perkara terdakwa tersebut dan diserahkan kepada hakim untuk  ditindak lanjuti. Hakim akan menyelidiki dan membebaskan dakwaannya.

Karena usaha Tuan Tu ini, sepuluh orang yang benar-benar tidak terlibat dalam kasus kriminal sesuai yang didakwa kepadanya dapat dibebaskan dan mereka  sangat berterima kasih kepada hakim yang bijaksana tersebut. Tuan Tu yang  secara diam-diam membiarkan hakim yang menerima jasa atas perbuatannya,  juga  menulis  surat  kepada  Hakim  Agung  yang  mengatakan  :  "Bahkan  di  pengadilan  kota  banyak  tawanan  yang  sebenarnya  tidak  bersalah,  apalagi  di  seluruh negeri, saya menyarankan agar hakim agung setiap lima tahun sekali  mengutus  penyelidik  untuk  memeriksa  kembali  kasus  kriminal  tawanan,  hukuman  dapat  dikurangi  atau  dibebaskan  untuk  mencegah  tawanan  yang  tidak bersalah tetap ditahan di penjara".

Hakim  Agung  menyampaikan  sarannya  kepada  raja  dan  disetujui.  Tuan  Tu diangkat  juga  sebagai  salah  seorang  penyelidik  untuk  mengurangi  hukuman  tawanan  yang  tidak  bersalah.  Suatu  malam  dia  bermimpi  seorang  Malaikat  mendatangi dia dan berkata : "Sebenarnya anda tidak berhak untuk mendapat  seorang  anak  pada  kehidupan  ini,  akan  tetapi  karena  tindakan  anda  untuk  mengurangi hukuman tawanan orang yang tidak bersalah adalah sesuai dengan  keinginan Yang Kuasa, anda akan dianugrahi tiga anak dan mereka semua akan  berpangkat tinggi".

Setelah itu, istrinya hamil dan melahirkan tiga orang anak dan semua menjadi orang terpandang dalam masyarakat.

Contoh cerita nyata lain adalah Tuan Ping Bao yang tinggal di Chianshing. Ping adalah  anak  bungsu  dari  tujuh  bersaudara  dari  seorang  pejabat  di  Chichou,  Propinsi  Anhui.  Dia  menikah  dengan  seorang  putri  dari  keluarga  Yuan  di  Propinsi Pinghu dan adalah teman baik kakek anda. Ping Bao sangat pintar dan  berpengetahuan luas, akan tetapi tidak pernah lulus ujian negera.

Dia mempergunakan seluruh waktunya untuk menekuni ajaran Buddha dan Tao. Suatu hari, ketika dia sedang mengadakan perjalanan ke Danau Liu, dia tiba di  sebuah  kampung  dan  melihat  sebuah  Vihara  usang  yang  sangat  memerlukan  renovasi.  Dia  melihat  rupang  Boddhisattva  Guan  Yin  berdiri  dalam  keadaan  basah  kuyup  kehujanan  karena  atap  gentengnya  retak.  Ping  mengeluarkan  semua  uangnya  diberikan  kepada  Bhiksu  pemilik  Vihara  untuk  biaya  renovasi  Vihara  tersebut.  Bhiksu  tersebut  berkata  :  "Ini  adalah  pekerjaan  besar,  saya  takut  uang  ini  tidak  cukup  untuk  memenuhi  keinginan  anda".  Ping  Bao  lalu  mengeluarkan  semua  barang  dan  pakaian  mewah  miliknya  dan  menyerahkan  kepada   Bhiksu   tersebut.   Pelayannya   coba   membujuknya   untuk   tetap  mempertahankan pakaian mahal tersebut, tetapi dia menolak dan berkata : "Itu  tidak masalah bagi saya, yang penting rupang Boddhisattva Guan Yin tetap baik,  tidak masalah bagi saya bila tidak memakai pakaian ini". Mendengar perkataan
Ping Bao, Bhiksu tersebut dengan berlinang air mata berkata : "Memberi uang  dan  pakaian  bukanlah  hal  yang  sulit  untuk  dilakukan,  tetapi  ketulusan  yang  dalam dari Anda sangat berharga dan sulit ditemukan".

Setelah  Vihara  tersebut  selesai  direnovasi,  Ping  Bao  membawa  ayahnya mengunjungi  dan  menginap  di  Vihara  tersebut.  Malam  itu,  Ping  bermimpi  bahwa Satria Pelindung Dharma Vihara yang bernama Chie Lan, mengucapkan  terima kasih dengan berkata : "Karena kebajikan anda ini, anak dan keturunan  anda  akan  mendapat  jabatan  tinggi  di  pemerintah  untuk  jangka  waktu  yang lama".  Akhirnya,  anak  dan  cucu  kedua-duanya  lulus  dalam  ujian  negara  dan  diangkat sebagai pejabat negara.

Contoh nyata lain adalah seorang yang bernama Li Chi dari propinsi Jian Shu, ayahnya adalah seorang pegawai di pengadilan propinsi. Suatu ketika, ayah Li  mengetahui   bahwa   ada   seorang   tawanan   dihukum   mati,   dia   berusaha  memohon   keringanan   hukuman   untuk   tawanan   ini.   Ketika   tawanan   ini  mengetahui usaha ayah Li untuknya, dia berkata kepada istrinya : "Saya begitu  berhutang   budi   kepada   orang   ini,   tetapi   saya   tidak   ada   cara   untuk  membalasnya,     maukah     anda     mengundangnya     ke     rumah     dan  menikahinya?  
Mungkin  ini  akan  menyenangkannya  dan  kesempatan  saya  untuk   hidup   lebih   besar   lagi".   Istri   tawanan   tersebut   menangis   dan  mendengarkan  permintaan  suaminya,  dia  tidak  ingin  melakukannya,  tetapi  hanya cara inilah dia dapat menolong suaminya pada saat ini. Karena itu, pada  saat  ayah  Li  datang  berkunjung  ke  rumahnya  pada  hari  berikutnya,  dia  menawarkan  minuman  arak  dan  menyampaikan  keinginan  suaminya.  Ayah  Li  menolak tawarannya untuk menikah, tetapi tetap berusaha keras menjernihkan  kasus  tersebut. 
Akhirnya  tawanan  tersebut  dibebaskan,  dia  bersama  istrinya datang ke rumah ayah Li untuk berterima kasih dan berkata : "Kebajikan yang  seperti  anda  lakukan  ini  adalah  sangat  sulit  ditemukan  pada  zaman  ini,  bagaimana  saya  membalas  budi  anda?  Anda  tidak  mempunyai  anak  laki-laki,  bagaimana kalau anda menikahi putri saya, hanya inilah cara saya membalas  budi anda, terimalah!"

Ayah Li menerimanya dan segera melahirkan seorang anak laki-laki dan diberi nama Li Zhi. Li lulus ujian negara tingkat tinggi pada saat dia hanya berumur
dua puluh tahun.

Anak Li yang bernama Gao, cucu dari Lu dan cicitnya Da Wun semua lulus ujian negara level tinggi dan diangkat sebagai pejabat pemerintah.

Sepuluh  contoh  di  atas  semua  menceritakan  kebajikan  yang  berbeda  dan dilakukan  orang  yang  berbeda  pula.  Walaupun  perbuatannya  berbeda,  tetapi  tujuannya  sama  yaitu  "berbuat  baik".  Bila  kita  lebih  mendalam  meneliti  kebajikan, kita akan menemukan banyak perbedaan.

Ada kebajikan yang sejati dan palsu, kebajikan yang lurus dan kebajikan yang miring, kebajikan yang tersembunyi (Yin) dan kebajikan yang terbuka (Yang),  yang  benar  dan  salah,  yang  tegak  atau  yang  condong,  yang  penuh  atau  setengah penuh, yang besar atau yang kecil, yang mudah dan yang sulit.

Perbedaan  jenis-jenis  kebajikan  ini  masing-masing  mempunyai  peraturannya tersendiri  yang  harus  benar-benar  dipelajari  dan  dimengerti.  Jikalau  tidak,  kadang kala kita mengira telah berbuat kebaikan, tetapi sebaliknya kita malah  berbuat  kesalahan.  Sekarang  saya  akan  menjelaskan  perbedaan  jenis-jenis  kebajikan tersebut satu persatu.

Apa  yang  disebut  kebajikan  sejati  dan  palsu?  Pada  zaman  dinasti  Yuan, sekumpulan  pelajar  mengunjungi  guru  besar  Jung  Feng  di  Gunung  Tianmu,  satu murid berkata : "Buddha selalu mengajarkan hukum karma, yang baik dan  buruk adalah ibarat bayangan badan, akan mengikuti kemana saja kita pergi".

Ini menjelaskan bahwa perbuatan baik selalu mengundang keberuntungan dan berbuat jahat selalu mengundang bencana.

Lalu mengapa ada orang yang berbuat baik, tetapi keluarga dan keturunannya malah  hidup  menderita,  di  lain  pihak,  orang  yang  selalu  banyak  membuat  kejahatan  mendapat  kehidupan  baik,  mana  hukum  sebab  akibatnya?  Apakah  tidak ada standarnya dalam ajaran Buddha?

Guru Jung Feng berkata : "Manusia umumnya buta oleh kejadian sehari-hari, mereka  tidak  membersihkan  pikiran  mereka  dari  hal-hal  yang  tidak  baik  dan  salah persepsi, karena itu perbuatan yang baik dianggap salah dan yang salah  dianggap betul, ini sudah umum pada zaman sekarang. Lagi pula, orang-orang  ini  tidak  menyalahi  diri  atas  kesalahan  persepsi  ini,  malah  menyalahi  Yang  Kuasa tidak adil atas nasibnya yang jelek ini!"

Murid  kedua  berkata  :  "yang  baik  adalah  baik  dan  yang  jelek  adalah  jelek, bagaimana  mereka  dapat  salah  menafsir?"  setelah  mendengar  ini,  guru  Jung  Feng meminta mereka masing-masing mengeluarkan pendapat masing-masing  tentang apa yang baik dan apa yang salah.
Murid  ketiga  berkata  :  "Memarahi  dan  memukul  orang  lain  adalah  salah,  menghormati orang lain adalah baik". Guru menjawab : "Belum tentu".

Murid keempat berkata : "Tamak dan mengambil uang orang lain adalah salah, mengalah adalah benar". Guru menjawab : "Belum tentu".

Murid-murid  lain  semua  mengatakan  ini  adalah  benar,  itu  adalah  salah,  akan tetapi guru selalu menjawab : "Belum tentu". Lalu murid-murid bertanya : "Apa  yang dianggap baik dan yang salah?"

Guru  Jung  Feng  menjawab  :  "Berbuat  sesuatu  untuk  kepentingan  orang  lain adalah  baik,  untuk  kepentingan  diri  sendiri  adalah  salah.  Bila  kita  berbuat  sesuatu untuk kepentingan orang lain, tidak masalah bila kita memarahi atau  memukul orang tersebut, ini adalah tetap dianggap baik. Bila tujuan kita adalah  untuk kepentingan diri sendiri, tidak peduli bagaimana kita bersikap mengalah  atau sopan santun, tetap dianggap salah".

Karena itu, bila kita berbuat sesuatu hanya untuk kepentingan orang lain, orang banyak,  ini  adalah  kebajikan  sejati.  Bilamana  berbuat  sesuatu  hanya  untuk  kepentingan diri sendiri, ini adalah kebajikan palsu.

Bila kebajikan tersebut benar-benar bersumber dari hati nurani kita, ini adalah kebajikan sejati, bila kita berbuat kebaikan hanya karena ini adalah baik, maka  dianggap kebajikan palsu. Sebagai tambahan, bila kita berbuat kebaikan tanpa  mengharapkan  balasan,  ini  adalah  kebajikan  sejati,  kita  berbuat  baik  untuk  tujuan  tertentu  diri  sendiri,  ini  adalah  kebajikan  palsu.  Orang  yang  ingin  mempraktekkan kebajikan perlu merenungkan perbedaan ini.

Apa yang dimaksud kebajikan lurus dan miring. Kita sering menganggap orang yang ramah adalah orang baik, tetapi orang bijak dan orang suci menganggap  orang yang berani berbuat dan bercita-cita tinggi adalah orang baik.

Ini  karena  orang  berani  berbuat  dan  bercita-cita  tinggi  mudah  dididik  dan dibimbing  dan  mungkin  kelak  akan  berhasil  meraih  cita-citanya  dengan  cemerlang.  Sedangkan  orang  yang  terlalu  hati-hati  dan  kaku  tidak  dapat  berbuat sesuatu yang cemerlang.

Untuk orang yang selalu bertindak kaku dan terlalu hati-hati, mungkin mereka selalu  disenangi  semua  orang,  tetapi  karena  kepribadiannya  yang  lemah,  mereka sangat mudah terbawa arus, tidak dapat berbuat apa-apa. Orang suci  selalu  berkata  bahwa  orang  jenis  ini  adalah  pencuri  kebajikan.  Dari  sudut  pandang  ini,  kita  dapat  melihat  bahwa  pandangan  orang  suci  adalah  sangat  berbeda dengan orang awam.

Apa yang dianggap baik oleh orang awam, orang suci menganggap tidak baik, apa  yang  dianggap  tidak  baik  oleh  orang  awam,  orang  suci  menganggapnya  baik.   Langit, Bumi, Dewa/Dewi, Malaikat mempunyai pandangan yang sama dengan  orang suci. Orang baik diberi berkah, orang jahat dihukum. Apapun tanggapan  orang  suci  bahwa  suatu  hal  ini  baik,  mereka  juga  beranggapan  demikian,  mereka  tidak  menilai  sesuatu  dari  segi  pandangan  orang  awam.  Karena  itu,  seseorang yang ingin mengumpulkan kebajikan jangan tertipu dan terpengaruh  oleh  hanya  untuk  memenuhi  dan  menyesuaikan  pandangan  dan  kebiasaan- kebiasaan umum manusia di masyarakat. Sebaliknya, mereka harus melatih diri  agar  selalu  jujur  dan  rendah  hati,  tidak  hanya  ingin  mencari  nama  atau  menyenangkan orang dengan tujuan mendapat simpati. Seseorang harus selalu
berusaha   mempertahankan   kemurnian   hatinya   jangan   sampai   terjadi  penyimpangan.

Kebajikan lurus berasal dari keinginan yang selalu hendak menolong orang lain. Kebajikan miring timbul atas kerakusan untuk menyenangkan orang lain untuk  mendapat  simpati  dan  selalu  berpura-pura.  Memberikan  kasih  sayang  kepada  orang lain adalah kebajikan lurus. Iri hati, kemarahan adalah kebajikan miring.  Kebajikan lurus adalah bila seseorang bersikap sopan, kebajikan miring adalah  bila seseorang bersikap tidak tulus.

Apa yang dimaksud dengan kebajikan tersembunyi (Yin) dan kebajikan terbuka (Yang). 

Bila  seseorang  berbuat  baik  dan  orang  lain  mengetahuinya,  ini  disebut kebajikan   Yang,   bila   orang   berbuat   baik   dan   tidak   ada   orang   yang  mengetahuinya, ini yang disebut kebajikan Yin.  Kebajikan Yin pasti diketahui Langit/Tuhan dan sudah tentu akan diberi berkah yang  berlimpah-limpah,  orang  yang  mempraktekkan  kebajikan  yang  diketahui  orang hanya akan menikmati reputasi yang baik.

Reputasi adalah suatu rezeki, tetapi Yang Kuasa menganggap ini adalah suatu pantangan dan tidak memberkahi orang yang mencari reputasi.

Kita dapat melihat, bahwa orang yang mempunyai reputasi tinggi, tetapi tidak didukung  oleh  perbuatan  kebajikan,  lambat  laun  malah  merupakan  suatu  bencana,  karena  orang  lain  iri  dan  ingin  mencelakakannya.  Seorang  yang  benar-benar tidak melakukan kesalahan dan selalu mau menerima fitnahan/caci  maki  orang  tanpa  membalas  atau  membela  diri  untuk  hal-hal  yang  tidak  dilakukannya, kelak keturunannya akan makmur mendadak dan berhasil.

Dengan ini, kita dapat melihat betapa pentingnya untuk mengerti perbedaan- perbedaan   kecil   antara   kebajikan   Yin   dan   Yang,   jangan   sampai   salah  menafsirkannya.

Dalam  melaksanakan  kebaikan,  ada  juga  yang  kadang  kita  anggap  sebagai suatu kebaikan, tetapi nyatanya tidak demikian, dan apa yang kita anggap tidak baik, ternyata adalah baik. Ini adalah kebajikan benar dan salah. Sebagai salah  satu contoh, pada zaman Chun Chiu, ada sebuah kerajaan yang bernama Lu,  saat  itu  ada  kerajaan  lain  yang  memperbudakkan  rakyat  kerajaan  Lu.  Pemerintah  kerajaan  Lu  mengeluarkan  peraturan  bahwa  barang  siapa  yang  menebus  kebebasan  rakyat  kerajaan  Lu  yang  diperbudak  tersebut,  akan  mendapat  hadiah  dari  pemerintah.  Saat  itu,  seorang  murid  Konghucu  yang  bernama  Dz  Gong  membayar  uang  tebusan  membebaskan  budak-budak
tersebut,  tetapi  dia  tidak  mau  menerima  hadiah  yang  diberikan  pemerintah.  Setelah  Konghucu  mengetahui  hal  ini,  Beliau  sangat  tidak  senang  dan  berkata :"Dz Gong, anda telah berbuat kesalahan".

Pandangan  orang  suci/bijak  berbeda  dengan  orang  awam,  mereka  melihat secara  keseluruhan  pengaruh  suatu  tindakan  terhadap  masyarakat  banyak,  mereka mau mengajarkan rakyat agar membangun suatu kebiasaan baik, suatu  standard  sikap  yang  baik,  suatu  moralitas.  Bukan  melakukan  suatu  tindakan  hanya  karena  keinginan  seseorang.  Rakyat  kerajaan  Lu  lebih  banyak  yang  miskin,   dengan   menolak   hadiah   pemerintah,   tindakan   Dz   Gong   tealh  mempengaruhi pikiran rakyat, bahwa menerima hadiah adalah tamak.

Sehingga  bagi  orang  yang  tidak  mau  dikatakan  sebagai  orang  tamak  atau berbuat  demikian  karena  hanya  menginginkan  hadiah  pemerintah  saja,  akan  segan/tidak  mau  menebus  budak-budak  tersebut.  Bila  ini  terjadi,  kelak  tidak  akan  ada  orang  yang  mau  menebus  budak-budak  rakyat  tersebut  lagi.  Sehingga peraturan yang baik itu tidak berfungsi dan gagal.

Bila  ingin  memotivasi  semua  orang  untuk  berbuat  baik,  Dz  Gong  seharusnya menerima hadiah pemerintah ini, bukan untuk keinginan dirinya, tetapi untuk  mempengaruhi  masyarakat  banyak,  sehingga  mereka  juga  termotivasi  mau  menebus budak.

Seorang  murid  lain  Konghucu  yang  bernama  Dz  Lu,  suatu  ketika  melihat seorang  hanyut  di  sungai  dan  menolongnya.  Belakangan,  orang  tersebut  memberi  Dz  Lu  seekor  kerbau  sebagai  tanda  terima  kasih.  Dz  Lu  menerima  hadiah itu. Konghucu sangat senang melihat tindakan Dz Lu dan berkata : "Di  masa yang akan datang, rakyat kerajaan Lu akan banyak yang menolong orang  yang  hanyut  di  sungai  daripada  menolong  orang  yang  dalam  kesusahan".  Menurut  pandangan  orang  awam,  pasti  menilai  bahwa  Dz  Gong  yang  tidak  menerima  hadiah  uang  adalah  baik,  Dz  Lu  yang  menerima  hadiah  kerbau  adalah tidak baik. Siapa yang mengetahui bahwa Konghucu malah memuji Dz  Lu dan memarahi Dz Gong? Dari ini, kita dapat melihat bahwa orang yang akan  berbuat  baik  janganlah  hanya  melihat  pengaruh  masa  sekarang  saja.  Tetapi  juga mempertimbangkan pengaruhnya untuk jangka panjang.

Seseorang  berbuat  baik  janganlah  hanya  melihat  untung  dan  rugi  bagi dirinya  .  .  .  tetapi  lihatlah  dampaknya  bagi  publik,  dampak  yang  positif  atau  negatif.   Apa yang kita buat sekarang mungkin baik . . .  tetapi untuk masa yang akan  datang mungkin akan mencelakakan/merugikan orang.

Karena itu, apa yang kelihatan baik mungkin sebenarnya adalah lawannya dan yang lawan ini suatu ketika mungkin menjadi baik.

Ada banyak hal yang selalu dibuat orang, tetapi kadangkala terbukti bahwa hal tersebut akan lebih baik dibiarkan saja, jangan dilakukan. :Memaafkan" adalah  sebuah sikap kebajikan, tetapi tidak bisa dilaksanakan tanpa suatu alasan dan  kebijaksanaan.  Bila  kita  dengan  mudah  memaafkan  seorang  kriminal  dan  melepaskannya sebelum dia sadar akan kejahatannya dan mengubah diri. Kita  akan  memberikan  sebuah  ancaman  bagi  masyarakat,  menyebabkan  lebih  banyak  bahaya  daripada  kebaikan.  Dalam  hal  ini  "memaafkan"  adalah  tidak  cocok,   orang   itu   lebih   baik   dibiarkan   tetap   dipenjara,   sehingga   tidak  menimbulkan keresahan masyarakat lingkungannya.

Contoh  lain  "memuji"  orang  adalah  suatu  sikap  baik,  tetapi  bila  terlalu berlebihan, akan membuat mereka menjadi sombong dan angkuh. "Memegang  janji"  adalah  sikap  baik,  tetapi  bila  karena  memegang  janji  secara  membabi  buta,    sehingga    menyebabkan    bencana    besar,    karena    itu    haruslah  mempertimbangkan dengan baik dan pikiran yang tenang.

"Kasih  sayang"  adalah  karakter  baik,  tetapi  jikalau  karena  kasih  sayang, sehingga  membiarkan  orang  berbuat  seenaknya,  kasih  sayang  kita  telah  mencelakakan dia, kita membuatnya berani dan bertindak sewenang-wenang,  mengakibatkan  kekacauan  dan  bencana  yang  lebih  besar  kelak.  Ini  bukanlah  "kasih sayang".

Dahulu ada seorang laki-laki dihukum mati karena merampok dan membunuh, saat  detik-detik  terakhir  ditanya  apa  permintaan  terakhirnya?  Dia  menjawab  bahwa  ingin  bertemu  dengan  ibunya.  Saat  ibunya  datang,  menangis  tersedu- sedu  dan  memeluknya,  tahu-tahu  dia  menggigit  kuping  ibunya  sampai  putus  dan berkata : "Sekarang saya dihukum mati karena kesalahan ibu, semasa kecil  bila  saya  mengambil  barang-barang  kecil  teman  dan  berbuat  kesalahan,  ibu  tidak  menegur  bahwa  itu  adalah  salah  dan  tidak  melarang  saya,  sehingga  menjadi  kebiasaan  saya  dan  makin  lama  makin  menjadi,  sehingga  jadi  perampok  ulung  dan  pembunuh".  Ibunya  sangat  menyesal  dan  menangis  terisak-isak. Akan tetapi sesal kemudian tidak ada gunanya.

Hati-hatilah, jangan sampai "kasih sayang" malah mencelakai orang yang kita sayangi.  Orang  tua-lah  yang  bertanggung  jawab  berat  atas  segala  perbuatan  baik/buruk anak. Orang tua juga yang akan menerima pahala atas perbuatan  baik anak dan menanggung dosa yang dibuat anak.

Demikian  juga  halnya  bagi  seorang  raja/pimpinan  negara,  haruslah  berperan sebagai  seorang  pemimpin,  orang  tua,  guru  bagi  rakyat,  sehingga  dia  harus  memikul  tanggung  jawab  yang  sangat  berat  atas  segala  perbuatan  baik  dan tidak  baik  rakyat.  Bila  seluruh  rakyat  berbuat  kebajikan,  maka  kebajikan  ini  adalah karena jasa raja/pimpinan negara dapat memimpin dengan baik, maka  pahala raja/pimpinan negara tersebut adalah luar biasa. Akan tetapi bila rakyat  berbuat  kejahatan,  maka  dosa  yang  harus  ditanggung  raja/pimpinan  negara  adalah lebih dalam dari lautan.

Yang disebut di atas adalah contoh-contoh yang kelihatannya adalah kebaikan, tetapi  sebenarnya  tidak.  Ini  harus  benar-benar  direnungkan.  Apa  yang  dimaksud kebajikan tegak dan condong. Pada zaman dinasti Ming, ada seorang  Perdana Menteri yang berwibawa bernama Wen Yi Lyu. Setelah pensiun, Beliau  pulang ke kampung halamannya, di sana Beliau sangat dihormati dan disegani.  Suatu ketika, seorang pemabuk datang ke rumah dan mencaci makinya. Tuan  Lyu tidak marah dan berkata kepada pembantunya : "Orang ini mabuk, biarkan  saja".  Orang  ini  semakin  lama  semakin  membuat  kejahatan  berat,  akhirnya  ditangkap  dan  dimasukkan  penjara  menunggu  saat  hukuman  mati.  Setelah  mendengar  berita  ini,  Tuan  Lyu  dengan  menyesal  berkata  :  "Dulu  saat  dia  mabuk mencaci maki saya, jika saya melapor polisi untuk menghukumnya atas  kesalahan  yang  telah  dibuatnya,  hukuman  kecil  akan  menyadarkannya,  agar  dapat lebih disiplin, sehingga tidak membuat kejahatan besar, maka sekarang  dia tidak dihukum mati. Dulu karena berhati baik dan takut disalah pahami oleh  orang2  bahwa  mempergunakan  kekuasaan  menindas  rakyat  kecil,  malah  mencelakakan dia, mendapat hukuman mati". Ini adalah sebuah contoh bahwa  karena berhati baik malah menjadi sebuah bencana.

Ini  adalah  contoh  bahwa  karena  berbaik  hati,  malah  membuat  kesalahan.  Di bawah ini diberi contoh lagi tentang kelihatannya seseorang berbuat tidak baik  tetapi sebenarnya berbuat baik.

Suatu ketika ada sebuah daerah karena kekurangan makanan sehingga banyak orang  mengalami  kelaparan.  Perusuh-perusuh  di  siang  bolong  merampok  di  mana-mana. Ada satu keluarga kaya melapor kepada polisi, tetapi polisi tidak  menghiraukan, maka para perusuh semakin berani dan situasi bertambah parah  dan mencekam. Dalam keadaan terpaksa keluarga kaya itu mengambil tindakan  dan  menghakimi  sendiri  dengan  menangkap  dan  menghukum  para  perampok  tersebut. Dengan cara ini, tempat itu menjadi aman dan perusuh-perusuh tidak  berani  merampok  lagi.  Sikap  ego  yang  dilakukan  keluarga  kaya  tersebut,  akibatnya menguntungkan setiap orang.

Karena  itu,  kita  tahu  bahwa  berbuat  baik  adalah  tegak  dan  berbuat  salah adalah condong. Bila ada kasus yang perbuatannya berdasarkan maksud baik  berakibat buruk dan perbuatan dengan maksud tidak baik tetapi berakibat baik.  Ini  menjelaskan  bahwa  walaupun  dengan  maksud  baik  berbuat  sesuatu  berakibat  tidak  baik,disebut  kebajikan  condong.  Dengan  maksud  tidak  baik  tetapi berakibat baik, disebut kebajikan tegak.

Ini  adalah  pengetahuan  yang  harus  kita  tahu  agar  dapat  hidup  dengan  baik. Apa yang dimaksud dengan kebajikan penuh dan kebajikan setengah?   Dalam buku I Ching tertulis . . . .  

Tidak mengumpulkan kebajikan tidak akan mendapatkan keberuntungan, tidak mengumpulkan kejahatan tidak akan binasa. 

Penentuan  masa  depan  kita  adalah  tergantung  pada  pengumpulan  kebajikan dan  kesalahan  kita.  Ibarat  mengumpulkan  barang  dalam  tong,  bila  rajin  mengumpulkannya  akan  penuh  dan  bila  malas  mengumpulkannya  tidak  akan  penuh.

Suatu ketika ada seorang wanita miskin mengunjungi sebuah Vihara dan ingin menyumbang  untuk  upacara  ritual  penyesalan  kesalahan/karma  buruk  yang  telah dibuatnya di masa lalu serta memohon berkah di depan Buddha, namun  karena sangat miskin, dia hanya dapat menemukan uang 2 sen di kantongnya  dan  menyumbangkannya.  Dia  sangat  heran,  karena  ketua  Bhiksu  tersebut  sendiri  yang  melaksanakan  upacara  ritual  tersebut.  Belakangan,  wanita  ini  terpilih  sebagai  dayang  di  istana  dan  membawa  ribuan  uang  emas  untuk  menyumbang lagi kepada Vihara tersebut, tetapi ketua Bhiksu hanya menyuruh  muridnya  melakukan  ritual  tersebut.  Wanita  tersebut  dengan  heran  bertanya  kepada  Bhiksu  :  "Dulu  saya  hanya  menyumbang  2  sen,  Bhiksu  sendiri  yang  memimpin upacara ritual ini, hari ini saya memberi ribuan uang emas, mengapa  Bhiksu tidak membantu saya melakukan upacara ini?"

Ketua  Bhiksu  menjawab  :  "Walaupun  dulu  sumbangan  Nyonya  hanya  2  sen, tetapi  ini  adalah  bersumber  dari  hati  yang  tulus,  perlu  saya  sendiri  yang  melakukan  upacara  agar  dapat  membalas  ketulusan  hati  Nyonya,  hari  ini,  walaupun  sumbangan  Nyonya  banyak,  tetapi  hati  Nyonya  tidak  setulus  dulu,  karena itu, cukup hanya murid saya yang melakukannya". Sumbangan uang 2  sen adalah yang dimaksud "kebajikan penuh" dan sumbangan ribuan uang mas  adalah yang dimaksud "kebajikan setengah". Contoh lain adalah seorang dewa  yang bernama Li Jung dari Dinasti Han. Dewa Li mengajak muridnya Dong Bing  Lyu suatu ilmu mengubah besi menjadi emas. Mereka akan menggunakan emas  ini untuk menolong yang miskin. Dong Bing bertanya kepada gurunya . . .

Apakah emas ini akan berubah kembali menjadi besi?

Guru menjawab : "Setelah 500 tahun kemudian, emas ini akan berubah kembali menjadi  wujud  semula".  Dong  Bing  berkata  :  "Kalau  begitu,  saya  tidak  ingin  mempelajari ilmu ini, karena akan merugikan orang yang memperoleh emas ini  500 tahun kemudian".

Sebenarnya Li Jung hanya ingin menguji hati muridnya dan dengan gembira ia berkata : "Untuk melatih diri mencapai tingkat dewa, seseorang harus membuat  3.000 jenis kebajikan. Apa yang anda katakan tadi adalah bersumber dari hati  nurani  anda  yang  tulus,  3.000  jenis  kebajikan  yang  harus  anda  laksanakan  telah terpenuhi". 
Contoh lain untuk kebajikan penuh dan setengah. Ketika kita berbuat kebaikan,  sangatlah baik bila kita membuatnya berdasarkan ketulusan yang sangat dalam,  jangan  untuk  mendapat  perhatian  atau  hadiah  dan  jangan  diingat  berapa  banyak  saya  telah  berbuat  kebaikan.  Dengan  demikian,  walaupun  perbuatan  baik yang sangat kecil akan menghasilkan buah yang baik.

Sebaliknya,  bila  kita  berbuat  baik  dengan  maksud  tertentu  mengharapkan balasan,  maka  walaupun  kita  rajin  berbuat  kebajikan,  bahkan  berbuat  baik  seumur hidup kita, kebajikan yang kita buat tersebut hanyalah dinilai kebajikan  setengah.

Sebagai contoh, saat kita menyumbang fakir miskin, kita dapat mempraktekkan apa yang disebut "sumbangan murni", misalnya : Kita menyumbangkan uang,  dalam   pikiran   kita   jangan   terus   tertinggal   pikiran   bahwa  "saya   yang  menyumbang,  barang-barang  yang  telah  disumbangkan,  kepada  siapa  yang  telah saya sumbang", ini yang disebut "tiga perputaran wujud yang kosong", ini  adalah berarti hati yang benar-benar murni dan tulus. Bilamana tidak demikian,  maka kita hanya sekedar memberi dan tidak dengan ketulusan yang dalam. Bila  kita dapat memberi dengan "sumbagan  murni", maka satu dou beras yang  disumbangkan akan membawakan keberuntungan tidak terhingga dan satu sen  yang disumbangkan dapat menghapus dosa kita yang telah dibuat ribuan eons  (lamanya  waktu  yang  tidak  dapat  dihitung  dengan  angka  lagi).  Ini  adalah  kebajikan penuh.

Bila  kita  terus  mengingat  kebaikan  yang  telah  dibuat  dan  mengharapkan balasan  atas  perbuatan  kita,  maka  walaupun  menyumbangkan  200  keping  emas bukan merupakan kebajikan penuh.

Apa yang dimaksud kebajikan besar dan kebajikan kecil? Dahulu ada seorang pejabat  yang  bernama  Jung  Da  Wei,  rohnya  dibawa  ke  akhirat  untuk  diadili.  Hakim memesan anak buah untuk membawa catatan perbuatan baik dan buruk  semasa hidupnya. Ketika catatan tersebut tiba, Jung Da sangat kaget melihat  catatan perbuatan buruknya banyak sekali memenuhi ruang sidang, sedangkan  catatan  perbuatan  baiknya  hanya  satu  gulungan  kecil.  Pegawai  pengadilan  diperintahkan   untuk   menimbang   kedua   jenis   catatan   tersebut.   Sangat  mengherankan,  catatan  perbuatan  buruk  yang  banyak  tersebut  malah  lebih  ringan  dari  catatan  perbuatan  baik  satu  gulungan  kecil  yang  hanya  setipis  sebuah sumpit. Jung Da bertanya kepada hakim akhirat . . .

Saya  baru  saja  berumur  40  tahun,  bagaimana  saya  dapat  berbuat  begitu banyak  kesalahan/kejahatan?  Hakim  menjawab  :  "Bila  timbul  satu  niat  tidak  baik, ini sudah termasuk kesalahan, bukan harus telah berbuat baru dianggap  kesalahan.  Sebagai  contoh,  bila  Anda  melihat  seorang  perempuan  cakap  lalu  timbul niat tidak baik, ini telah dianggap sebagai kesalahan".

Jun Da lalu bertanya apa yang tercatat dalam catatan perbuatan baik tersebut yang  bisa  lebih  berat  dari  catatan-catatan  perbuatan  buruk  yang  banyak  tersebut. Hakim menjawab . . . 
Suatu  ketika  raja  merencanakan  membangun  sebuah  jembatan  batu  raksasa,  Anda mengajukan usulan untuk tidak dilaksanakan rencana tersebut karena ini  adalah sebagai proyek yang sangat berat dan akan menyengsarakan puluhan  ribu rakyat yang dipekerjakan. Ini adalah salinan dari usulan Anda untuk raja.  Jun  Da  berkata  :  "Memang  saya  membuat  usulan  tersebut,  tetapi  usulan  tersebut  ditolak,  bagaimana  dapat  bisa  lebih  berat  dari  kesalahan-kesalahan  yang banyak itu?"

Hakim  menjawab  :  "Walaupun  raja  tidak  menerima  usulan  Anda,  tetapi  niat Anda  yang  baik  ini  untuk  menyelamatkan  penderitaan  puluhan  ribu  rakyat  adalah sangat besar. Bila raja menerima usulan Anda, kebajikannya akan jauh  lebih besar lagi".

Oleh  karena  itu,  bila  seseorang  berniat  berbuat  baik  untuk  manfaat  semua orang,  sebuah  perbuatan  baik  yang  kecil  merupakan  pahala  yang  tidak  terhingga besarnya. Ini yang disebut kebajikan besar.

Bila seseorang hanya memikirkan keuntungan sendiri saja, maka walaupun dia banyak  membuat  hal-hal  yang  baik,  tetapi  pahalanya  adalah  sangat  kecil.  Ini  adalah kebajikan kecil.

Apa  yang  dimaksud  kebajikan  sulit  dan  kebajikan  mudah?  Cendekiawan  kuno selalu berkata . . .

Bila seseorang hendak melatih diri agar hidup disiplin diri dan berbuat baik, dia harus  memulai  dari  perbuatan/kebiasaannya  yang  paling  sulit  diatasi,  secara  otomatis kebiasaan kecil tidak akan terulang lagi.

Fan  Chr,  adalah  seorang  murid  Konghucu,  suatu  ketika  bertanya  kepada gurunya bagaimana seseorang dapat melatih diri agar ber-prikemanusiaan yang  sangat dalam. . . . . . ?

Konghucu menjawab : "Mulai dari yang paling sulit dipraktekkan".

Yang dimaksud Konghucu "yang paling sulit" adalah menghapuskan pikiran ego, seseorang  harus  mempraktekkan  untuk  menaklukkan  apa  yang  paling  sulit  untuk  ditaklukkan.  Kita  dapat  meniru  perbuatan  seorang  guru  tua  yang  bernama Tuan Su dari daerah Chiang Shi, dia memberikan uang senilai 2 tahun  gajinya  kepada  sebuah  keluarga  miskin  untuk  membayar  denda  pemerintah,  sehingga   keluarga   tersebut   tidak   terpecah,   kalau   tidak   suaminya   akan  dipenjarakan dan tidak ada yang mencari nafkah.

Contoh lain adalah Tuan Jang dari daerah Herbei. Tuan Jang melihat seorang yang sangat miskin yang terpaksa menggadaikan istri dan anaknya karena tidak  memiliki  uang  untuk  membayar  utangnya  atau  istri  dan  anaknya  akan  kehilangan nyawa.   Karena itu, Tuan Jang memberikan tabungan yang ditabungnya selama sepuluh  tahun  kepada  orang  miskin  tersebut,  sehingga  keluarganya  dapat  berkumpul  kembali.

Contoh seperti Tuan Su dan Tuan Jang adalah sangat sulit ditemukan, mereka memberikan  apa  yang  paling  sulit  untuk  diberikan,  yang  orang  lain  tidak  mungkin korbankan, tetapi mereka memberikan dengan sukarela.

Contoh  lain  adalah  Tuan  Jin  dari  propinsi  Chiangsu,  dia  sudah  tua  dan  tidak mempunyai anak, tetangganya menawarkan putri bungsunya untuk dinikahkan  dengan  Tuan  Jin  agar  mempunyai  keturunan.  Tetapi  Tuan  Jin  tidak  tega  menghancurkan masa depan yang cerah dan panjang putri tetangganya serta  menolak  penawaran  tersebut  dan  memulangkan  putri  tetangganya  itu  ke  rumahnya kembali.

Ini  adalah  contoh  lain  dari  dapat  menaklukkan  apa  yang  paling  sulit  untuk ditaklukkan oleh seseorang. Karena itu Yang Kuasa memberkati ketiga orang ini,  keberuntungan yang luar biasa atas perbuatan istimewa mereka.

Adalah lebih mudah bagi orang yang berkuasa dan kaya untuk mengumpulkan kebajikan dibandingkan dengan orang yang miskin. Adalah sangat memalukan  bila  seseorang  menolak  untuk  berbuat  baik  walaupun  itu  adalah  hal  yang  sangat  mudah  baginya  dan  mempunyai  banyak  kesempatan.  Adalah  sangat  sulit bagi orang yang miskin dan tidak berkuasa untuk membantu orang lain,  tetapi dalam keadaan yang sulit ini, seseorang tetap berusaha untuk membantu  orang lain, pahalanya adalah tidak terhingga.

Sebagai  seorang  yang  bermoral,  pada  saat  berhubungan  dengan  orang  lain atau hal, kita membantu, bila ada kesempatan yang datang dengan sendirinya.  Membantu  yang  lain  bukanlah  tugas  yang  mudah  tetapi  mempunyai  banyak  cara untuk melakukannya.

Secara  singkat,  cara  membantu  yang  lain  dapat  diringkaskan  menjadi  10 kategori, yaitu :

1. Mendukung kebaikan. 
Bila kita melihat ada orang mencoba berbuat kebaikan, kita membantunya  agar  keinginannya  tersebut  berkembang.  Bila  kita  melihat  orang  lain  ingin
berbuat   sesuatu   yang   baik   tetapi   tidak   dapat   membuatnya,   kita  membantunya   agar   dapat   berhasil.   Dengan   cara   ini   kita   melatih
"Mendukung Kebaikan".

Sebagai  contoh,  sewaktu  Raja  Shwun  masih  muda,  di  daerah  Santung, beliau sangat sedih melihat orang menangkap ikan, tempat yang dalam dan
banyak ikan serta airnya tenang semua direbut oleh pemuda-pemuda yang  kuat, sehingga orang yang tua dan lemah tersingkir di tempat dangkal dan
airnya  mengalir  deras.  Beliau  juga  sengaja  turun  ke  air  menangkap  ikan, ketika   ada   orang   yang   hendak   merebut   tempatnya,   Beliau   sengaja  mengalah dan tidak mengeluh. Bila ada orang yang memberikannya tempat  untuk  menangkap  ikan,  Beliau  langsung  mengucapkan  terima  kasih  dan  memuji  sikap  baik  orang  tersebut.  Setelah  Beliau  melakukan  hal  demikian  selama  beberapa  periode,  akhirnya  telah  menimbulkan  suatu  suasana  keharmonisan, orang-orang semua bersikap hormat dan mau mengalah.

Tindakan Raja Shwun tersebut sesuai dengan apa yang disebut Tuan John Ruskin. Pendidikan bukan berarti mengajarkan orang apa yang mereka tidak
tahu,  tetapi  mengajarkan  orang  bersikap,  bagaimana/sepantasnya  mereka  bersikap . . .

Ini  adalah  suatu  tugas  yang  berat,  harus  terus  menerus  dan  sangat  sulit dilaksanakan.  Dengan  kasih  sayang,  meneliti,  menasehati,  membimbing,  memuji, tetapi yang terpenting adalah memberi CONTOH.

Cerita  Raja  Shwun  adalah  hanya  sebuah  contoh  untuk  menunjukkanbagaimana  orang  mempengaruhi  orang  lain  melalui  tingkah  laku,  bukan
melalui  pembicaraan/nasehat.  Bukannya  bermaksud  untuk  mendukung  orang untuk memancing/menangkap ikan, karena memancing adalah suatu
perbuatan  membunuh.  Mohon  menghentikan  olah  raga  yang  bersifat  mengambil jiwa makhluk hidup lain.

Seorang   yang   bijak   dan   pintar   seperti   Shwun   akan   sangat   mudah mempengaruhi  orang  lain  dengan  beberapa  kata  nasehat.  Mengapa  dia  tidak  hanya  menasehati  saja  daripada  menggabungkan  diri  pada  aktivitas  tersebut?

Shwun  tidak  menggunakan  kata,  tetapi  lebih  memilih  memberi  contoh kepada  orang  lain  melalui  tindakannya.  Shwun  menginginkan  nelayan
tersebut sadar dan merasa malu atas sikap keegoan mereka serta merubah  dengan  sendirinya.  Ini  menunjukkan  betapa  tulusnya  keinginan  Shwun
untuk mempengaruhi orang agar berbuat baik.

Pada  zaman  sekarang  yang  moralitasnya  rendah,  perasaan  sosial  hancur dan kekurangan rasa kepedulian terhadap orang lain dan lingkungan, sangat  sulit  menemukan  suatu  standar  sikap  yang  baik.  Karena  itu,  bila  kita  menemukan  disekeliling  kita  mempunyai  kekurangan  .  .  .  .  kita  tidak  menggunakan kelebihan kita untuk menonjolkan kekurangan orang lain. Bila  orang  lain  tidak  berbuat  baik,  jangan  menggunakan  kebaikan  kita  untuk  membandingkan atau mengukur dengannya. Bila orang lain tidak semampu  kita, jangan sengaja mempermainkannya dengan kemampuan kita.

Bahkan bila kita pintar dan tangkas, keunggulan ini haruslah disembunyikan dan tidak perlu dibanggakan. Sebaliknya, kita malah harus lebih merendah
dari sebelumnya. Kita menganggap kepintaran dan ketangkasan kita adalah  hal yang tidak penting, yang tidak nyata. Bila seseorang berbuat salah, kita sabar  dan  menyembunyikannya,  memberi  kesempatan  kepadanya  untuk  merubah, mengoreksi diri tanpa melukai harga dirinya.

Bila kita tetap menjaga harga diri orang, orang ini bahkan akan lebih hati-hati  atas  perbuatannya  di  masa  depan.  Bila  kita  melihat  kekuatan  dan
kebaikan  orang  lain,  kita  belajar  darinya,  memujinya  dan  menyampaikan  kebaikannya  kepada  orang  lain.  Pada  kehidupan  sehari-hari,  kita  selalu
menahan  diri  agar  tidak  berbicara  atau  berbuat  hal-hal  yang  hanya  mementingkan  diri,  tetapi  selalu  berbuat  hal-hal  yang  bermanfaat  bagi
masyarakat dan publik, mendukung prinsip, peraturan dan ketentuan yang  bermanfaat agar selalu ditaati oleh orang.

Ini   adalah   kualitas   dari   seorang   manusia   sejati,   selalu   memikirkan kesejahteraan, manfaat publik daripada keuntungan diri sendiri.

2. Kasih sayang dan sopan santun. 
Mengasihi dan menghormati sesama makhluk hidup lain dan benda. Seperti  kata pepatah : Sejenis beras memelihara ratusan jenis manusia", walaupun
antara manusia ada yang kaya dan miskin, keluarga dekat dan jauh, kenal  dan  asing,  bodoh  dan  pintar,  bingung  dan  bijak,  tetapi  mereka  semua  adalah  sama  harus  saling  hormat  menghormati.  Sebagai  manusia  yang  berakal budi sepantasnyalah harus menghormati orang lain dan diri sendiri.

Menghormati  pekerjaan  masing-masing,  menyenangi  kebersamaan,  taat hukum  disiplin  diri.  Kasih  sayang  dan  menghormati  makhluk  lain  seperti
hewan, mereka juga mempunyai hak untuk hidup, jangan membunuh atau  menyiksanya. Demikian juga terhadap benda, bukannya kita harus bersujud  kepada benda, tetapi dengan memelihara jangan sampai rusak, merapikan  jangan  sampai  berserakan,  menempatkan  di  tempat  yang  sesuai.  Dengan
demikian kita telah melakukan kehendak Yang Kuasa.

Kadang  kala  sangat  sulit  menilai  dari  penampilan  seseorang,  apakah  dia adalah  seorang  manusia  sejati  atau  hanya  seorang  gadungan/brengsek,  karena  orang  gadungan  bisa  berpura-pura  berlagak  sebagai  seorang  manusia  sejati.  Perbedaannya  adalah  terletak  pada  niatnya.  Niat  seorang  manusia  sejati  selalu  baik  sedangkan  orang  gadungan  adalah  tidak  baik.  Ada perbedaan yang sangat besar diantara mereka seperti hitam dan putih.  Mencius berkata . . .

Perbedaan  seorang  manusia  sejati  dan  manusia gadungan adalah terletak pada niat mereka.

Hati  seorang  manusia  sejati  selalu  dipenuhi  oleh  cinta  kasih  dan  hormat kepada yang lain. Manusia di dunia ini bermacam-macam, ada yang dekat
dengan  kita,  ada  yang  asing,  ada  yang  berjabatan  tinggi,  ada  yang  tidak,  ada yang pintar ada yang tidak, ada yang bermoral, ada yang bejat, mereka  adalah manusia.   Mereka  seperti  kita,  hidup  dan  mempunyai  daging,  darah  dan  perasaan.  Tidak ada seorangpun yang harus kita benci atau tidak dihormati. Bila hati  kita penuh dengan kasih sayang dan hormat kepada yang lain, maka adalah  sama seperti kasih sayang dan hormat kita kepada para orang suci dan bijak.  Bilamana  kita  memahami  yang  lain,  adalah  sama  seperti  kita  memahami  para orang suci dan bijak. Mengapa?

Karena  para  orang  suci  dan  bijak  ingin  manusia  di  dunia  ini  mendapat kebahagiaan dan kehidupan yang produktif.

Karena itu, bila kita mengasihi dan menghormati orang lain dan membantu mereka  mendapatkan  kedamaian  serta  kebahagiaan,  kita  telah  melakukan
tugas dari para orang suci dan bijak.

3. Membantu orang mencapai kesuksesan. 

Bila kita melihat orang berbuat baik atau tidak, kita membujuknya agar mau  berbuat  baik.  Bila  melihat  orang  mengalami  kesulitan  untuk  berbuat  baik,  kita membantunya mengatasi masalahnya dan menuntunnya agar berhasil.  Kita    jangan    cemburu    atas    keberhasilan    mereka    atau    mencoba  menyabotasenya.

Seumpama  batu  giok,  bilamana  dibuang  begitu  saja,  maka  tidak  bernilai seperti   batu   yang   tidak   berharga.   Tetapi   bila   kita   mengasah   dan  membentuknya, akan berubah menjadi perhiasan yang berharga.

Adalah  sama  juga  seperti  manusia,  seorang  manusia  perlu  dididik  dan dibimbing,  persis  seperti  batu  giok  yang  diasah  dan  dibentuk.  Bila  kita
melihat orang yang berpotensial untuk berbuat baik dan bercita-cita luhur,  kita dapat mendukung, memuji, membimbing dan memberi semangat agar
sukses untuk mencapai cita-cita luhurnya.

Bila orang lain salah menilai mereka, kita berusaha menjernihkan namanya dan membagi bebannya. Ketika kita membantu mereka agar dapat berdiri di
atas kaki sendiri dan menjadi bagian dari masyarakat yang baik, kita telah  memenuhi  tanggung  jawab  kita  dalam  membantu  orang  lain  mencapai  kesuksesan.

Secara umum, di dalam masyarakat, orang yang berbuat baik lebih sedikit, lebih  banyak  yang  jahat.  Manusia  biasa  lebih  banyak  yang  bersifat  buruk  seperti  membela  diri  walaupun  salah  serta  menyingkirkan  orang  yang  berlainan  pendapat  dengannya,  sehingga  orang  baik  dalam  masyarakat,  kecuali dia mempunyai iman dan pendirian yang sangat kuat, dapat dengan  gigih  melawan  segala  rintangan  dan  godaan.  Bilamana  tidak,  maka  akan  sangat sulit baginya untuk bertahan.

Lebih-lebih  orang  yang  bercita  luhur  ingin  berbuat  kebajikan,  mempunyai karakter  keterbukaan  dan  rendah  diri,  berterus  terang,  tidak  licik.  Mereka kurang  memperhatikan  penampilan  dan  tidak  bisa  menyanjung-nyanjung  orang   lain.   Sebaliknya   orang   yang   kurang   berpendidikan   dan   tidak  berwawasan  luas  sering  menggosip  dan  menyalahkan  mereka,  sehingga  merupakan sebuah tantangan berat bagi mereka. Seorang yang baik mudah  sekali disalahkan secara tidak adil.

Bila  ini  terjadi,  maka  para  tetua,  orang  bijak  harus  selalu  berusahamembimbing  orang  yang  salah  tersebut  ke  jalan  yang  benar,  serta
melindungi dan mendukung mereka, yang baik supaya tetap berbuat baik.  Mereka  yang  dapat  tetap  bertahan  selalu  berbuat  kebajikan  dan  tidak
berbuat kejahatan pasti mendapat pahala yang besar sekali.

4. Menasehati orang agar berbuat baik 
Bila  kita  melihat  orang  berbuat  salah,  kita  harus  dan  jangan  segan  menasehati   dan   menunjukkan   bahwa   kesalahannya   tersebut   akan
mengundang  bencana  besar  atau  menyakiti  dirinya  sendiri  dan  harus  berupaya  untuk  tidak  berbuat  kesalahan  tersebut.  Mintakan  kepada  orang  yang tidak mau berbuat baik atau mau berbuat sedikit kebaikan saja, bahwa  dengan  berbuat  baik  pasti  mengundang  keberuntungan  bagi  dirinya.  Kebaikan   bukan   saja   hanya   harus   dilaksanakan,   tetapi   juga   harus  dilaksanakan secara spontan dalam skala yang besar.

Kita semua mempunyai hati nurani, jati diri yang luhur, tetapi karena terlalu  sibuk  mengejar  kekayaan,  reputasi  telah  membuat  kita  lupa  akan  jati  diri  sendiri.  Kita  bersedia  membungkuk  serendah  mungkin  untuk  memperoleh  apa  yang  diinginkan.  Ketika  seorang  teman  telah  lupa  akan  jati  dirinya  sehingga  berbuat  sesuatu  yang  tidak  baik,  kita  dapat  menasehati  dan  memperingatinya, agar dia sadar akan tindakannya yang menyimpang.

Ibarat  kita  membangunkan  orang  yang  sedang  mengalami  mimpi  buruk,  membantunya  menghadapi  kenyataan.  Bila  seseorang  mengalami  depresi,  kita membantu melepasnya dan membuka pikirannya.

Kita  adalah  orang  yang  berbudi  bila  dapat  memperlakukan  teman  kita  dengan  kebaikan  tersebut.  Seorang  bijak  yang  bernama  Han  berkata  :
"Melalui mulut, kita hanya dapat menasehati orang sementara saja, karena  mudah  dilupakan  sejalan  dengan  berlalunya  waktu.  Tidak  ada  orang  lagi
yang  mendengar  apa  yang  telah  kita  sebutkan.  Bila  nasehat  kita  tertulis  dalam  buku,  maka  akan  menasehati  dan  mempengaruhi  orang  untuk
ratusan  generasi  di  seluruh  dunia".  Karena  itu,  menulis  untuk  menasehati  orang adalah kebajikan yang baik sekali.

Kita   dapat   menasehati   orang   dengan   kata-kata   atau   tulisan   untuk  menyebarkan  kebajikan.  Bila  dibandingkan  dengan  kategori  sebelumnya
"membantu orang untuk mencapai kesuksesan", kategori ini lebih tepat dan jelas.  Akan  tetapi  sejenis  penyakit  bila  diobati  dengan  obat  yang  tepat,
terbukti mempunyai khasiat, karena itu, tidak boleh menyerah.

Sering  pula  terjadi  nasehat  baik  kita  disalahpahami,  malah  menuduh  kita  telah  menghinanya,  kita  jangan  malah  terjebak  dalam  kemarahan,  karena  adalah  suatu  sifat  kelemahan  manusia  juga  selalu  mau  membela  diri  walaupun tahu dirinya salah, yang penting kita beritikad baik dan berbuat  sesuai  suara  hati.  Kita  malah  berdosa  bila  berdiam  diri  melihat  kesalahan  orang lain, kita telah membantu menenggelamkan orang.

Penting  juga  diperhatikan  bagaimana  kita  melakukannya.  Misalnya,  bila  seseorang yang terlalu keras kepala, kita tidak perlu membujuknya dengan
kata-kata, karena kata-kata dan energi kita akan sia-sia saja. Bila seseorang  tersebut lembut dan mau mendengar, tetapi kita gagal menasehatinya, kita
telah kehilangan kesempatan yang baik untuk berbuat baik.

Kedua   cara   tersebut   di   atas   terjadi   karena   kita   kurang   arif   untuk  mengatakan  perbedaannya.  Kita  harus  melihat  apa  yang  salah  sehingga  kelak kita dapat berbuat dengan tepat dan tidak lagi menyia-nyiakan kata- kata atau kesempatan.

5. Membantu orang yang mengalami musibah/sangat memerlukan. 

Kebanyakan   orang   cenderung   memberi   kepada   orang   yang   tidak  memerlukan dan tidak memberi kepada orang yang sangat memerlukan.

Seperti  pepatah  Tiongkok  :  "Lebih  banyak  orang  menambah  bunga  di  pot  yang  sudah  penuh  kembang,  tetapi  jarang  orang  yang  memberi  arang  pemanas untuk orang yang terbelenggu di salju".

Ketika kita menemui orang yang dalam kesulitan besar, darurat atau bahaya,  kita  berusaha  dengan  cara  apapun  untuk  membantu  mereka  terlepas  dari  ancaman  tersebut.  Kebajikan  atas  perbuatan  ini  adalah  tidak  terhingga.  Tetapi,  seseorang  tidak  boleh  menjadi  sombong  dan  bangga  karenanya.  Manusia  hidup  di  dunia,  selalu  mempunyai  banyak  masalah,  bila  kita  menemui  orang  yang  mengalami  penderitaan/bencana,  kita  berusaha  membantu  mereka  seumpama  kita  sendiri  yang  mengalami  penderitaan  tersebut. Bila seseorang difitnah, kita membantu menjernihkan masalahnya,  memberikan  kata-kata  yang  menyejukkan  atau  bantuan  dengan  cara  lain.  Seperti kata orang kuno :

"Tidak masalah suatu bantuan itu kecil atau besar,  yang penting dapat membantu seseorang pada saat  dia sangat memerlukan".


6. Membangun struktur yang bermanfaat besar untuk publik.
Kategori ini biasanya dilakukan oleh orang yang berpengaruh dan berkuasa  besar. Bila seseorang mempunyai kemampuan ini, maka boleh membangun
irigasi, mengunjungi dan membantu orang yang mengalami bencana alam,  membuat  jalan,  jembatan.  Misalnya  seseorang  melihat  ada  retak  kecil  di
tanggul,  berusaha  menutupi  retakan  tersebut  dengan  batu/lumpur  untuk  mencegah  air  sehingga  tidak  terjadi  retakan  yang  lebih  besar  yang  dapat  mengakibatkan  banjir,  kelihatannya  ini  adalah  perbuatan  kecil,  tetapi  akibatnya adalah luar biasa.

Bila   kita   mempunyai   kesempatan,   kita   membujuk   orang   lain   turut mengambil bagian. Bahkan bila orang lain mengoceh di belakang kita, kita
jangan  putus  asa,  jangan  takut  akan  omongan  orang  dan  tugas  tersebut  sulit.    Jangan    biarkan    kecemburuan    dan    kemarahan    orang    lain  menggoyahkan semangat kita untuk berbuat baik.

7. Berdana/memberi. 
Manusia yang berada di dunia selalu berusaha mengejar uang bahkan mati  karena  uang.  Siapa  yang  benar-benar  ingin  membantu  orang  dengan
memberikan uangnya? Ketika kita menyadari kesulitan berdana ini, kita akan  sangat menghargai orang yang suka berdana untuk membantu orang yang
memerlukan,  orang  ini  adalah  orang  besar  di  mata  para  fakir  miskin.  Menurut hukum sebab akibat : "Siapa yang memberi akan mendapat, yang
tidak memberi, tidak akan menerima". Bila kita melatih diri dengan berdana,  kita  akan  menerima  keberuntungan,  jangan  takut  bahwa  bila  saya  telah
memberi,  tidak  ada  sisa  lagi  untuk  diri,  karena  semakin  banyak  yang  diberikan, semakin banyak yang akan kita dapat.

Dengan  berdana,  dapat  mengumpulkan  pahala,  dan  menghapuskan  sifat jelek  seperti  ego,  rasa  mementingkan  diri  sendiri,  kekikiran.  Hal  ini  akan  membantu  pelatihan  diri  untuk  membuat  kebajikan.  Pada  permulaan  mungkin  akan  merasa  terpaksa,  akan  tetapi  lama-kelamaan  akan  merasa  senang,  tenang  dan  bahagia,  hal  ini  akan  membersihkan  kesalahan- kesalahan yang telah kita lakukan.

Dalam ajaran Buddha, memberi adalah praktek kebajikan utama yang harus dilakukan oleh semua murid Buddha. Bila kita benar-benar mengerti arti dari
memberi  dan  ingin  memberi  semua  milik  duniawinya,  bahkan  organ  tubuhnya,  maka  orang  ini  menjalani  jalan  Buddha.  Orang  yang  paham
prinsip ini akan memberikan segala sesuatu, termasuk mata, telinga, hidung,   lidah, badan dan pikiran.

Bila  kita  belum  sanggup  memberikan  segalanya,  kita  bisa  mulai  dengan memberikan  uang.  Umumnya  orang  menganggap  pakaian  dan  makanan
adalah hidupnya.

Bila  kita  dapat  memberi  dengan  tanpa  sedikit  juga  keraguan,  kita  akan menghilangkan  sifat  pelit/kikir  disamping  itu  juga  membantu  orang  yang memerlukannya.

Bagaimanapun juga, banyak orang yang sulit melakukannya. Memang pada mulanya  sulit  dilaksanakan,  tetapi  akan  semakin  biasa  bila  telah  sering
melakukannya.    Dengan    mempraktekkan    kebajikan    "berdana"    ini,  ketenangan  pikiran  akan  diperoleh  dan  tidak  ada  yang  tidak  dapat  kita
berikan.  Ini  adalah  cara  yang  paling  baik  untuk  menghilangkan  sifat  mementingkan diri dan sebagai suatu kesempatan untuk merubah sikap kita
terhadap uang dan material duniawi.

8. Membedakan antara ajaran yang benar dan ajaran sesat. 

Kita harus dapat membedakan antara ajaran yang benar dan ajaran sesat.  Ajaran sesat sangat membahayakan pikiran dan hati orang, dan seharusnya
berupaya    untuk    menghindarinya.    Sedangkan    ajaran    yang    benar,  kebijaksanaan,  pandangan  yang  baik  seperti  ajaran  Buddha,  Konghucu,  sepuluh perintah Allah dan sebagainya, yang mendidik kebaikan, menuntun  masyarakat ke jalan yang tepat dan benar, sehingga mendapat kehidupan  yang   baik   di   dunia   maupun   akhirat   haruslah   berupaya   dipelihara,  dikembangkan  dan  dipertahankan  jangan  sampai  lenyap  di  dunia,  jangan  biarkan orang sesat menghancurkannya.

Sejak  dahulu  kala,  ajaran  yang  benar  telah  menjadi  suatu  standar  dari kebenaran dan sebagai pedoman spiritual untuk manusia.

Bila  kita  tidak  mempunyai  keyakinan  yang  kuat,  bagaimana  kita  dapat berinteraksi  dengan  Langit  dan  Bumi?  Bagaimana  manusia  dapat  berhasil  mencapai  cita-cita  luhurnya  tanpa  suatu  standar  hidup?  Bagaimana  kita  dapat  terlepas  dari  kesengsaraan  dan  cengkraman  hidup?  Bagaimana  kita  membangun dan membentuk nasib dan melampaui siklus hidup dan mati?

Ini semua tergantung pada ajaran baik dan benar sebagai jalan penerangan.

Karena  itu,  bilamana  kita  melihat  Vihara,  tempat-tempat  peringatan  orang suci  dan  bijak  atau  foto  mereka,  kitab  suci,  Sutra  Buddha,  kita  harus  menghormati.  Bila  perlu  diperbaiki,  kita  harus  memperbaiki  ke  bentuk  semula.  Kita  membantu  menyebarkan  ajaran  Buddha,  ajaran  tentang  keadaan sebenarnya dari alam semesta dan lingkungan hidup kita, dengan  demikian kita juga telah menunjukkan hormat dan rasa terima kasih kepada  orang suci dan Buddha. Kita berupaya untuk mencapai tujuan ini.

9. Menghormati tetua.

Yang  dimaksud  tetua  adalah  orang  tua,  kakak,  atasan,  orang  yang  derajatnya lebih tinggi dari kita, yang lebih tua dari kita, yang bereputasi,
yang  berkebajikan  tinggi,  yang  terpelajar  dan  bermoral,  yang  berjati  diri,  pejabat harus dihormati.  Bersikap   hormat,   sopan,   lemah   lembut   terhadap   orang   tua,   jangan  meninggikan  suara  kita  saat  berbicara  dengan  orang  tua  atau  bila  pembicaraan orang tua tidak dapat kita terima. Bila selalu mempraktekkan  kebajikan  ini,  kita  akan  terbiasa  dan  menjadi  bagian  yang  melekat,  akan  mengubah  kita  menjadi  orang  yang  tenang  dan  lembut,  cara  ini  akan  menyentuh Langit dan Bumi serta akan mendapat balasan dari mereka.

Bila  berhubungan  dengan  atasan  kita  dan  pejabat  pemerintah,  kita  harus taat  peraturan  jangan  melanggar.  Kita  jangan  lengah  sehingga  perbuatan  kita menyimpang, karena menganggap atasan kita tidak mengetahuinya.

Bila  kita  menemukan  seseorang  berbuat  kejahatan,  walaupun  kejahatan yang  dibuat  tersebut  serius  atau  tidak,  kita  harus  menyelidiki  dengan
seksama   dan   adil.   Jangan   menyalahgunakan   kekuasaan   yang   telah  diberikan atasan kepada kita.

Bila  menghadap  raja,  seseorang  harus  bersikap  sangat  hormat  seperti menghadap Yang Kuasa. Ini adalah sikap yang benar yang harus diturunkan
kepada  generasi  yang  akan  datang.  Ini  mempunyai  hubungan  yang  langsung dan penting terhadap kebajikan yang tersembunyi dalam diri kita.

Lihatlah   keluarga   yang   mempraktekkan   kesetiaan   dan   kebhaktian, keturunan  mereka  hidup  makmur  sejahtera  dari  generasi  ke  generasi.
Karena itu, kita harus mengikuti jejak mereka menghormati tetua.

Banyak  orang  pada  saat  berbicara  dengan  orang  tuanya,  berbahasa  kasar dan nada yang tinggi, sadarkah Anda bahwa setiap kata yang Anda ucapkan  telah  diwariskan  kepada  anak  Anda,  anak  Anda  juga  telah  belajar  setiap  kata ucapan Anda tersebut tanpa ada yang ketinggalan yang akan ditujukan  kepada Anda kelak.

Tidak berbakti kepada orang tua adalah juga telah mendidik anak kita tidak berbakti kepada kita.

10. Hargailah dan sayangilah makhluk hidup.
Kita  harus  menghargai  jiwa  semua  makhluk  hidup  bahkan  sekecil  seekor  semut,  yang  juga  mengetahui  penderitaan  dan  takut  akan  kematian.
Bagaimana kita dapat membunuh makhluk lain dan makan dagingnya tanpa  merasa sedikit juga bersalah dan menyesal?

Ada  orang  mengatakan,  makhluk  ini  memang  adalah  makanan  untuk manusia  .  .  .  .  tetapi  argumentasi  ini  tidak  logis  dan  hanya  sebuah  alasan  bagi orang yang makan daging.

Selain  daging,  banyak  makanan  yang  boleh  dikonsumsi  manusia,  seperti buah,  sayuran,  sehingga  tidak  perlu  membunuh  hanya  untuk  selera  mulut.  Kita boleh tidak memakai pakaian yang terbuat dari sutra, kepompong harus direbus dahulu dan ulat sutra tersebut masih berada di dalamnya, sehingga  berjuta-juta ekor ulat sutra akan terbunuh hanya karena kesombongan dan  kebanggaan manusia.

Bila  kita  belum  dapat  putus  makan  daging,  kita  berusaha  untuk  tidak memakan  daging  dari  binatang  "yang  dipelihara  sendiri,  kita  menyaksikan  sendiri  hewan  tersebut  dibunuh,  kita  mendengar  langsung  suara  derita  hewan  tersebut  saat  dibunuh,  dibunuh  untuk  diri  kita".  Dengan  tidak  memakan 4 jenis daging hewan tersebut di atas, akan menumbuhkan welas  asih, menambah keberuntungan dan kebijaksanaan.

Hati yang welas asih membentuk seorang yang baik. Mencius berkata :

"Seseorang yang tidak welas asih bukanlah seorang manusia".

Seorang yang berkebajikan mau mengampuni dan berhati baik adalah dilihat dari hatinya yang welas asih. Seorang yang mau mengumpulkan kebajikan
juga  harus  mempraktekkan  welas  asih.  Seorang  yang  welas  asih  adalah  orang yang baik, bermoral, mau mengampuni, sedangkan orang yang tidak
welas  asih  adalah  tidak  baik  dan  tidak  bermoral.  Ini  tertulis  dalam  buku  "Kode Etik dari Dinasty Chu".

Bulan  Januari,  induk-induk  hewan  sedang  mengandung  dan  melahirkan, maka spesies betina jangan dibunuh. Mencius berkata :

"Seorang manusia yang terpuji, menjauhi dapur".

Ini adalah untuk memelihara hati yang welas asih, karena di dapur dilakukan
pembunuhan hewan untuk santapan manusia.

Menurut Ajaran Buddha, makhluk hidup terlahir sebagai hewan karena telah membuat karma buruk dan akumulasi banyak karma buruk pada kehidupan
sebelumnya,  setelah  mereka  menerima  balasannya/hukumannya,  mereka  dapat  terlahir  sebagai  manusia  lagi.  Bila  mereka  mau  melatih  diri  bahkan  dapat  menjadi  Buddha.  Daging  yang  kita  makan  hari  ini  mungkin  adalah  daging  dari  Buddha  masa  depan.  Hewan  yang  kita  lihat  hari  ini  adalah  seorang  manusia  pada  kehidupan  sebelumnya.  Mungkin  hewan  ini  dahulu  adalah orang tua kita, istri, suami, anak, sanak saudara atau teman kita.

Sekarang kita seorang manusia dan mereka adalah hewan. Membunuh dan memakan mereka akan bermusuhan dengan mereka yang dulu pernah kita
kasihi.  Bila  kita  makan  mereka,  kelak  mereka  menjadi  manusia  dan  kita  menjadi  hewan  karena  kesadisan  kita  telah  membunuh  mereka  sekarang,  sebagai balasannya, kita juga akan mengalami penderitaan yang sama yaitu  dibunuh dan dimakan.   Ketika kita berpikir demikian, bagaimana kita berani membunuh? Bagaimana  kita dapat memakan sepotong juga daging mereka? Di samping itu, bahkan  daging itu rasanya enak, hanya terasa diantara mulut sampai kerongkongan.  Setelah  ditelan,  tidak  ada  terasa  enaknya  lagi.  Tidak  ada  bedanya  antara  memakan daging dan sayuran. Mengapa kita harus membunuh bila tidak ada  kebaikannya?

Bila kita tidak dapat segera berhenti memakan daging, kita dapat perlahan- lahan mengurangi daging sampai benar-benar melepaskan daging dan hanya
makan  sayuran.  Dengan  cara  ini,  kita  dapat  mencapai  tingkat  lebih  tinggi  dari  kewelas  asihan  dalam  hati  kita.  Juga  kita  perlu  berhenti  membunuh  makhluk berjiwa, bahkan serangga.

Ketika sedang mencangkul tanah di sawah, ladang, berapa banyak serangga yang  terbunuh?  Kita  harus  sadar  akan  biaya  yang  harus  ditanggung  untuk  makanan dan pakaian diri sendiri, kita membunuh untuk keperluan sendiri.  Karena  itu,  kita  harus  hidup  sederhana,  menghemat,  hati-hati  dan  menilai  makanan  dan  pakaian  yang  kita  konsumsi  sehari-hari.  Hidup  memboros  adalah sama dengan melakukan kekerasan pembunuhan.

Berapa  seringkah  kita  secara  tidak  sadar  telah  mencelakai  dan  menginjak makhluk  hidup?  Dengan  sedikit  kesadaran,  kita  dapat  menghindarkan
kejadian  ini.  Seorang  penyair  bernama  Tung  Pwo  Su  dari  Dinasti  Sung  menulis  .  .  .  .  . Menyayangi  Tikus,  kita  tinggalkan  sedikit  beras  untuknya,  mengasihi serangga, kita tidak memasang pelita.

Sebuah kalimat yang sangat baik dan penuh welas asih! Masih banyak jenis kebajikan  yang  saya  tidak  dapat  sebutkan  semuanya.  Sejauh  kita  dapat
mengembangkan  sepuluh  kategori  yang  sangat  berharga  tersebut  di  atas,  kita dapat melipatgandakan perbuatan-perbuatan baik dan kebajikan.
Hengky Suryadi
Tulisan ini terdiri dari empat bagian :


0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home