Fenomena Dhamma

Saturday, March 28, 2015

Jika ada se-Seorang yang begitu men-Cintai Saya


如果有人这样爱我


Pada sebuah acara makan malam bersama, seorang gadis menyampaikan keinginannya untuk putus kepada si pemuda. Sejenak, si pemuda menjadi termangu-mangu. Pada akhirnya, perlahan-lahan ia dapat menerima permintaan tersebut. Si gadis berkata:”Meskipun putus, kita masih berteman.””Ya, betul! Jika kamu memiliki kesulitan, saya pasti akan membantu.”timpal si pemuda. Sesudah kejadian yang menegangkan itu, mereka kembali seperti biasanya, tertawa-tawa, seakan-akan tidak terjadi sesuatu. Dengan tenang, mereka menyelesaikan acara makan bersama yang terakhir kalinya.

Belakangan si pemuda, setiap hari masih menelpon si gadis menanyakan:”Bagaimana keadaanmu? Sudah pulang ke rumah belum? Apakah sudah makan kenyang?”Walaupun si gadis merasa aneh, ia tetap menanggapi dengan baik perhatian dari si pemuda. Sampai pada suatu saat, tiba-tiba si gadis melampiaskan kemarahannya kepada si pemuda. Ia berkata:”Apa urusanmu?”

Ternyata, si gadis sedang bertengkar dengan kekasihnya yang baru. Si pemuda yang malang menjadi tempat pelampiasan amarah si gadis. Sejak kejadian itu, si gadis tidak lagi mendapat telepon dari si pemuda. Sebenarnya si gadis merasa agak janggal, akan tetapi ia tidak menghiraukannya. Lewat beberapa hari, si pemuda belum kunjung menelepon si gadis. Ia mulai berpikir:”Apa mau dia? Saya baru mengatainya 2 patah kata sudah menjadi marah. Sungguh keterlaluan! Sudahlah, memang salah saya, memarahinya tanpa dasar. Lebih baik saya yang menelepon, sekalian memberitahu: sebagai pria jangan berpandangan  sempit, amarah sesaat seorang wanita jangan diambil hati.”

Namun, walau telah setengah hari mencoba menghubungi, tak juga kunjung berhasil. Tidak mengapa jika tidak bisa menjawab telepon, masalahnya operator telepon seluler mengatakan: telopon yang anda tuju sedang tidak aktiv/berada di luar jangkauan. Si gadis mulai merasa aneh. Pertama-tama, ia mengunjungi tempat di mana di pemuda bekerja. Teman-teman sekantor mengatakan jika ia telah lama mengundurkan diri. Kebetulan bos di tempat itu adalah teman si pemuda. Si gadis bertanya kepada sang bos:”Dimana keberadaan si pemuda sekarang?”Sang bos menjawab:”Tidak tahu! Saya sendiri juga sedang mencarinya.”

Tak berhasil mendapatkan informasi dari tempat kerja si pemuda, si gadis langsung menelepon ke rumah si pemuda. Orang rumah mengatakan jika si pemuda telah pergi ke luar negri. Dalam hati si gadis bertanya-tanya:”Bagaimana mungkin bisa ke luar negri, padahal keadaan ekonomi keluarganya pas-pasan?”(Sebenarnya masalah keadaan ekonomi keluarga si pemuda adalah salah satu penyebab mereka putus hubungan). Meskipun dia hendak ke luar negri tanpa memberitahu saya, teman-temannya  pasti tahu, sungguh membingungkan. Si gadis pulang ke rumah dengan membawa banyak kecurigaan.

Tiba-tiba si gadis menemukan sepucuk surat dalam kotak suratnya. Ia membuka & membaca surat tersebut, ternyata berasal dari si pemuda. Usai membaca, ia baru merasa benar-benar yakin jika si pemuda sedang berada di luar negri. Hanya saja, si pemuda tidak menyebutkan dimana tempatnya. Si gadis merasa si pemuda begitu menjengkelkan, pergi tanpa pamit.

Sejak saat itu meskipun si gadis tidak pernah bertemu lagi dengan si pemuda, akan tetapi secara rutin menerima surat darinya, lebih-lebih pada hari-hari spesial. Semisal: saat ulang tahun si gadis, ia akan memberikan ucapan selamat & kado. Ketika hari valentine, si pemuda tidak lupa memberikan ucapan selamat & seikat bunga segar. Sewaktu hari natal, tidak perlu dipertanyakan lagi...Sampai-sampai di waktu si gadis mengikuti ujian masuk perguruan tinggi, ia mendapat kiriman kartu pos yang berisi kata-kata penyemangat.

Meskipun si gadis telah lama tidak berjumpa dengan si pemuda, ia tetap dapat merasakan perhatian darinya. Si gadis merasa aneh, setiap surat yang dikirim untuknya selalu tanpa alamat. Apakah ada orang yang mengantarkannya secara khusus? Sungguh aneh! Sepertinya ada orang yang langsung menaruh surat itu ke dalam kotak suratnya!

Entah mengapa semua, teman-teman si pemuda menjadi baik terhadap si gadis. Mereka tidak hanya memberi kado saat ia ultah, tapi juga mengajaknya jalan-jalan. Lebih mengherankan lagi teman-teman perempuan si pemuda juga begitu baik terhadap si gadis, mereka sering mengajak belanja bersama, menelepon sekedar untuk menanyakan kabarnya.

Pada awalnya, si gadis merasa tidak terbiasa dengan perlakuan tersebut, lambat-laun ia menikmatinya. Selama itu, si gadis merasa sangat bahagia & beruntung. Sampai...suatu hari, si gadis menyadari jika si pemuda telah lama tidak mengiriminya surat. Sebenarnya, si gadis merasa janggal akan tetapi tidak terlalu mempedulikannya. Mungkin saja ia sedang sibuk, terka si gadis. Seminggu telah berlalu, si gadis belum kunjung mendapatkan surat dari si pemuda. Ia mulai merasa bingung...si gadis tidak tahu apa yang menyebabkannya merasa bingung, ia hanya ingin membaca surat dari si pemuda...Selama 2 tahun ini, si pemuda selalu mengirim surat untuk si gadis, lebih-lebih saat hari-hari spesial. Dari kejauhan, si pemuda selalu memberi ucapan yang hangat, senantiasa menemani...

Meski si gadis tidak tahu bagaimana caranya hendak membalas surat tersebut, ia mulai mencari kabar kesana-kemari mengenai keberadaan si pemuda. Ia mengunjungi kembali tempat-tempat yang dulunya pernah mereka kunjungi bersama: cafetaria, kedai teh, toko buku...Sekali mengunjungi suatu tempat, si gadis menghabiskan waktu seharian. Ia sangat berharap dapat bertemu dengan si pemuda, sayang tidak membawa hasil. Si pemuda seakan-akan hilang ditelan bumi.

Harapan terakhir si gadis ada pada mantan teman-teman sekerja si pemuda. Ia menanyakan kepada mereka tentang kabar si pemuda. Salah seorang dari mereka adalah seorang wanita. Melihat si gadis, ia tiba-tiba menangis. Si gadis bertanya kepadanya:”Ada apa?”Sang bos berkata kepada pegawai tersebut:”Berikanlah secarik kertas ini kepadanya! Dia tahu kemana harus mencari pemuda itu.”Si gadis melihat, di atas kertas itu tertera sebuah no hp. Ia merasa sangat bahagia, dalam hati berkata:”Akhirnya...kau kutemukan!”

Si gadis membuka telepon gengamnya & mulai menelpon:”Hallo...”Dari dalam telepon terdengar suara sedang memanggil seorang anak laki-laki. Meskipun si gadis sudah hampir 2 tahun tidak bertemu dengan si pemuda, ia bisa tahu jika orang yang menerima telepon bukanlah orang yang sedang dicari. Si gadis berkata:”Tolong tanya...”Tanpa menyimak lebih lanjut perkataan si gadis, si lawan bicara memotong pembicaraan.”Ya, saya tahu anda siapa. Anda pasti mencari kakak saya! Saya telah lama menanti anda. Apakah anda sekarang sedang tidak sibuk? Dapatkah kita bertemu di sebuah tempat? Saya akan bercerita panjang lebar. Anda akan mengerti.”

Secepat kilat, si gadis telah sampai di tempat dimana mereka berjanji untuk bertemu. Begitu berjumpa, si gadis segera tahu jika yang menemuinya adalah adik lelaki si pemuda. Mereka berdua sangat mirip. Tanpa menunggu lebih lama, si gadis bertanya:”Dimana kakak mu?”Mendapat pertanyaan dari si gadis, adik lelaki si pemuda tidak menjawab. Diam-diam ia mengeluarkan sepucuk surat dari dalam tas tentengnya untuk diberikan kepada si gadis.

Maaf, sebenarnya surat ini sudah sejak beberapa hari yang lalu, sudah anda terima. Karena saya tidak tahu bagaimana hendak memberikannya, barulah anda terima hari ini. Dengan terkejut, si gadis berkata:”Ternyata anda yang menulis surat untuk saya.””Bukan! Bukan! Bukan! Saya hanya mewakili kakak untuk menyerahkan kepada anda.””Untuk apa repot-repot menyembunyikan sesuatu!”Walaupun si gadis tanpak mengomel, ia tidak dapat menutupi perasaan senangnya. Ia membuka surat itu...

Xiao Lan小岚, apa kabar? Sekarang, cuaca sudah mulai berubah dingin, perhatikan kesehatan! Bagaimana dengan kuliah kamu? Jangan terlalu sering bermain-main! Maaf, saya menganggapmu seperti  anak kecil saja, begitu mengkuatirkan dirimu. Kau selalu perlu untuk diperhatikan & dilindungi. Tenanglah, saya telah meminta orang-orang untuk selalu menjaga dirimu.

Ketika kamu membaca surat ini, saya telah lama berada di sebuah tempat nan jauh. Saya tidak lagi bisa menjaga dirimu, di sisi lain juga merasa berat untuk melepaskan mu. Maka dari itu, saya menulis surat untuk menemani mu haru demi hari. Semoga kau tidak menganggapnya sebagai masalah. Surat ini adalah surat terakhir, karena saya tidak lagi memiliki waktu untuk kembali menulis kabar-menanyakan bagaimana keadaan mu. Saya benar-benar minta maaf.

Bukannya tidak ingin menemui mu, akan tetapi saya tidak ingin kamu mengetahui keadaan ku yang sekarang, apalagi merasa bersedih karena diri ku. Keinginan terbesarku adalah kamu bisa berbahagia. Bukankah sebentar lagi kamu akan menghadapi ujian nasional! Persiapkan diri dengan baik, jangan sampai tidak lulus ujian! Ini adalah permohonan terakhir dari saya.

Coba hitung, berapa banyak surat yang telah saya tulis untuk mu? Bukankah ada ratusan pucuk surat, mungkin 200 lebih. Semoga kau tidak menganggap saya terlalu bertele-tele. Meskipun saya segera meninggalkan mu, saya tidak menyesali hari-hari bersama mu. Bersama mu saya merasa berbahagia, meski pada akhirnya kau tidak memilih ku.

Keputusan mu adalah hal yang tepat, jika tidak, saya tidak tahu bagaimana caranya untuk berkata: kita putus. Saya tidak ingin melibatkan mu dalam masalah. Dengan keadaan ku yang sekarang, tidak mungkin bisa untuk dapat membahagiakan dirimu. Sejak kita putus, kesehatanku terus menurun. Setelah berobat ke rumah sakit, dokter mengatakan jika sisa hidup saya diperkirakan tinggal 3 bulan saja. Syukurlah, kamu telah lebih dulu minta kita putus. Jika tidak...

Kau memang pandai. Dengan sisa hidup yang singkat ini, saya telah menulis lebih dari 200 surat untukmu. Saya meminta tolong adik laki-laki saya agar secara berkala mengirimkan surat-surat tersebut kepada mu, seolah-olah sedang berada disamping-mu menemani. 2 tahun telah berlalu, perasaanmu terhadap saya sedikit-banyak mungkin telah menjadi dingin, pasti lebih bisa menerima kenyataan ini.

Surat ini adalah surat terakhir saya. Saya tidak bisa menulis surat lebih banyak. Saya tidak tahu apakah dengan memberitahukan keadaan yang sebenarnya akan mempengaruhi kehidupanmu. Jika hal ini memberi pengaruh besar, saya minta maaf. Saya tidak akan lagi bisa menghibur mu, saya hanya ingin mengatakan: wo ai ni..., ingin selamanya bisa menjaga mu. Meski pada akhirnya kau menikah dengan orang lain.

Saya masih ingin menjadi sahabat mu. Mungkinkah? Tidak mungkin, waktu yang diberikan kepada saya telah habis! Meski begitu singkat, saya tidak menyesal karena hidup saya penuh arti. Begitu pula dengan perjalanan cinta kita, walau singkat, saya merasa beharga. Terimakasih telah menjadi salah 1 bagian dalam hidup, akhir dari perjalanan cinta saya.

Seandainya saja waktu dapat kembali...kenyataannya waktu tidak dapat kembali, diri mu harus menanggung perasaan sedih & luka. Jika pengorbanan & penantian hari esok dapat membuat kita langgeng, akan saya lakukan. Masalahnya, apakah saya memiliki hari esok? Saya tetap harus meninggalkan mu.

Jika saya meninggalkan mu begitu saja berarti tidak lagi mencintai & peduli kepada mu. Tapi, air mata ini menunjukkan jika saya tidak bisa melepaskan mu begitu saja. Saya masih mencintai mu. Janganlah menangisi diri ku, mencintai diri mu adalah sebuah kebahagiaan. Cara termudah untuk memutus sebuah pertalian sangat mudah, lupakanlah segala kenangan yang ada. Xiao lan lupakanlah diri ku, saya di surga akan selalu mendoakan kebahagiaan untuk mu.
Sayang mu xxxx/xx/xx

Si gadis melihat tanggal yang tertera dalam surat itu, ternyata tepat sebulan setelah perpisahan mereka, 1 hari setelah ia memarahi si pemuda: ”Apa urusannya dengan kamu?”

Hari itu, cuaca mulai dingin, musim rontok telah tiba. Malam harinya, di depan pintu rumah si pemuda tampak seorang gadis menangis sambil memeluk sebuah surat.

Semoga berguna dan mohon maaf bila tidak berkenan di hati anda sadhu.


Penulis: Xie Zheng Ming.
Ahli Sejarah Kuno Conficius dan bahasa Mandarin.



0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home