Fenomena Dhamma

Sunday, March 06, 2016

IPTEK-SAINTIS-HUKUM ALAM-FENOMENA ALAM- Gerhana Matahari & Ketakutan Masyarakat Indonesia Zaman Dulu-Senin, 29 Februari 2016 - 08:30 wib (foto : BBC)-Aditya Gema-Jurnalis



JAKARTA - Gerhana Matahari bagi sebagian orang masih dianggap sebagai peristiwa sakral. Tak terkecuali bagi warga Indonesia yang tinggal di wilayah pedesaan, peristiwa ini dianggap sebagai awal datangnya bencana.

Hal itu diceritakan oleh Thomas Djamaluddin, Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) melalui sambungan telefon kepada Okezone, Minggu (28/2/2016).

Thomas kecil dilahirkan di Cirebon pada 23 Januari 1962 dari Ayah seorang TNI. Ia masih merekam dengan jelas, bagaimana masyarakat di desanya panik akan datangnya gerhana matahari.

Thomas yang menjalani masa sekolah dasar di Cirebon itu tinggal bersama neneknya kala itu. "Ketika terjadi gerhana, masyarakat di lingkungan rumah nenek langsung memukul bambu, waktu itu saya masih kecil jadi ya tidak ngerti apa-apa," ujarnya.


"Orang-orang berpikir matahari sedang ditelan oleh buto ijo, jadi banyak warga yang mukul bambu agar raksasa takut," lanjutnya.



Ia menjelaskan, kala peristiwa itu terjadi banyak anak-anak malah kegirangan melihat orang dewasa berlomba-lomba memukul bambu. "Kita yang masih kecil, senang-senang saja karena dikira ada pesta. Karena kita tidak diperbolehkan memukul bambu, jadinya kita saling menabrakan kuku masing-masing," tutupnya. (kem)


0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home