Fenomena Dhamma

Tuesday, March 08, 2016

IPTEK-SAINTIS - FENOMENA ALAM - HUKUM ALAM - Gerhana Matahari Total Menurut Pandangan Islam- Rabu, 9 Maret 2016 - 10:14 wib-Arsan Mailanto-Jurnalis JAKARTA - Hari ini tepat 9 Maret pukul 07.21 WIB, wilayah Indonesia dilewati fenomena langkah yaitu Gerhana Matahari Total (GMT). Fenomena ini terjadi secara total di 11 provinsi di Indonesia, yaitu Sumatera Barat, Bengkulu, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara. Penelusuran Okezone, Rabu (9/3/2016), menurut pandangan Islam, gerhana matahari dan bulan menujukkan keesaan Allah SWT. Peredaran dan silih bergantinya yang teratur merupakan ketetapan aturan Penguasa Jagad Semesta ini. Allah SWT berfirman dalam surah Ar-Rahman: "Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan." dalam surah (Ar-Rahman: 5)





Maka semua yang menakjubkan dan luar biasa pada matahari dan bulan, menunjukkan akan keagungan dan kebesaran serta kesempurnaan Penciptanya.
Oleh karena itu, Allah SWT membantah fenomena penyembahan terhadap matahari dan bulan. Namun yang sangat disayangkan ternyata keyakinan kufur tersebut banyak dianut oleh "bangsa-bangsa besar" di dunia sejak berabad-abad lalu, seperti di sebagian bangsa China, Jepang, Yunani, dan masih banyak lagi.
Allah SWT berfirman:
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah kalian sujud (menyembah) matahari maupun bulan, tapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika memang kalian beribadah hanya kepada-Nya." (Fushshilat: 37)
Syariat Islam yang diturunkan oleh Penguasa Alam Semesta ini memberikan bimbingan dan pencerahan terhadap akal-akal manusia yang sempit dan terbatas. Orang-orang mengira, gerhana sebadai mukjizat atau tanda matahari turut bersedih. Usai salat gerhana, Nabi menjelaskan tidak ada kaitannya dengan kematian seseorang:
Berikut ini ringkasan Shahih Bukhari:
Abu Bakrah berkata, "Kami berada di sisi Rasulullah lalu terjadi gerhana matahari. Maka, Nabi berdiri dengan mengenakan selendang beliau (dalam satu riwayat: pakaian beliau sambil tergesa-gesa (surah 7/ayat 34)) hingga beliau masuk ke dalam masjid, (dan orang-orang pun bersegera ke sana (surah 2/ayat 31)), lalu kami masuk.
Kemudian beliau salat dua rakaat bersama kami hingga matahari menjadi jelas. Beliau menghadap kami, lalu bersabda, 'Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua dari tanda-tanda kekuasaan Allah, dan sesungguhnya keduanya (surah 2/ayat 31) bukan gerhana karena meninggalnya seseorang.
Abu Mas'ud berkata, "Nabi bersabda, 'Sesungguhnya matahari dan bulan tidak gerhana karena meninggal (dan hidupnya (surah 4/ayat 76)) seseorang. Tetapi, keduanya adalah dua dari tanda-tanda dari kebesaran Allah. Apabila kamu melihatnya, maka berdirilah untuk mengerjakan salat gerhana."
Senada seperti diriwayatkan Al-Mughirah bin Syubah berkata, "Terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah pada hari meninggalnya Ibrahim. Orang mengatakan, 'Matahari gerhana karena meninggalnya Ibrahim.' Lalu Rasulullah SAW bersabda, 'Sesungguhnya matahari dan bulan (adalah dua dari tanda tanda kebesaran Allah (surah 2/ayat 30)).
"Keduanya tidak gerhana karena meninggal atau hidupnya seseorang. Apabila kamu melihatnya, maka salatlah (gerhana) dan berdoalah kepada Allah sehingga ia menjadi cerah kembali.'"  (kem)

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home