Fenomena Dhamma

Friday, October 29, 2010

APA DEFINISI TUHAN YME / ALLAH ITU ?

SERI-6-7 DEFINISI ALLAH/ TUHAN.


Kalau ditanya: “Apakah Tuhan YME / Allah itu ada?”
Pasti dijawab : “Ada.”
Lalu ditanya lagi: “Ada berapa Tuhan YME /Allah itu?”
Maka dijawab: “Ada, hanya Satu”
Kemudian ditanya lanjut: “Dimanakah Tuhan YME/ Allah itu?”
Jawabannya beraneka ragam; di surga, di hati, di atas, di mana-mana.


Hal ini menunjukkan ketidaktahuan dan kebodohan Manusia. Sebab jawabannya tdk sama. Umat Kristiani menyebut yesus adalah Tuhan, yesus adalah anak Allah, yesus adalah Allah, yesus adalah anak maria, yesus adalah roh kudus, yesus adalah penebus dosa umat manusia, yesus adalah gembala domba. Sementara umat Islam mengatakan tiada Tuhan selain Allah, tak ada Tuhan kecuali Allah. Jadi mana yang benar?
Inilah yang disebut ‘Pembenaran yang berbeda dengan Kebenaran’.


Manusia Menyembah dan Minta kepada Tuhan YME / Allah.

Banyak Manusia menyembah Tuhan / Allah, banyak orang memuja Tuhan / Allah. Banyak manusia mengagungkan Tuhan / Allah. Banyak orang membesarkan nama Tuhan / Allah. Banyak orang mengatakan: Tuhan / Allah Maha besar, Maha kuasa, Maha pengasih dan penyayang. Manusia percaya bahwa Tuhan adalah Sang Pencipta dan pengatur seisi alam semesta termasuk semua manusia dan hewan, bahkan malaikat, dan syetan. Manusia percaya bahwa Tuhan / Allah Maha pengampun, dapat menghapuskan segala dosa-dosa dari yang berat hingga yang ringan. Manusia akhirnya meminta dan memohon ampunan segala kebiadaban, kekejaman, kekejian, semua kejahatan seperti; pembunuhan, perkosaan, perampokan, bahkan pembantaian keji terhadap sesamanya.

Manusia percaya hanya dengan ‘berdoa minta’ ampunan dosanya kepada Tuhan/ Allah bisa diterima, lalu dosa-dosanya dapat dihapus atau lenyap hilang seketika, lalu bersih dan suci kembali. Manusia minta rejeki, minta kaya, minta sembuh, minta sukses, minta maju, minta jodoh, minta bisa punya anak, hingga minta bisa cerai dengan pasangannya bila sudah bosan dan tak cocok lagi, minta kepada Tuhan/ Allah. Buktinya: Orang tua sudah mengajarkan kepada anak-anak sejak kecil agar berterima-kasih dan meminta segala sesuatu kepada Tuhan/Allah.

Jadi sejak anak-anak hingga remaja dan dewasa sampai tua dan mati mereka sudah diprogram dalam otaknya untuk meminta-dan berterima kasih kepada Tuhan/Allah. Tak peduli orang tuanya sebagai profesor, doktor, dokter, Ir, Drs, Dra, dari yang berpendidikan sangat tinggi hingga sampai orang jelata tak berpendidikan, semua sama meminta. Kisah ajaib ini bukan cerita kosong, tapi kita dapat saksikan faktanya di mana-mana, baik dalam kehidupan nyata maupun dalam dunia maya seperti TV, Koran, Internet, Film, dsb.

Sampai datangnya bencana alam dan musibah akhirnya manusia menilai dan percaya bahwa semua bencana alam dan musibah datang dari Tuhan YME /Allah. Dan dianggap sebagai ujian dan cobaan untuk manusia agar lebih tawakal, sabar. Contonya: Tragedi Tsunami di Aceh dan Nias (se-Asia), lumpur panas PT. Lapindo di Sidoarjo, Gempa bumi, longsor, banjir, topan dan badai, angin puting beliung, dsb. Lalu, perang di Irak, Afganistan, Pakistan, Israel-Palestina, Khasmir, Mindanao, Thailand bagian selatan, dsb. Bila perlu semua bencana alam dan musibah itu, walau pun sekejam, sekeji, seberat dan sehebat apa pun harus diterima dan diambil hikmahnya, dan keuntungannya saja, jangan marah dan benci kepada Tuhan /Allah.

Ajaran ini sangat baik kalau memang bahwa yang diajarkan seperti itu benar-benar nyata dan faktanya seperti itu.
Masalahnya, apa benar kenyataan atau faktanya memang seperti?

Jika tidak benar dan tidak sesuai kenyataan dan faktanya seperti yang diajarkan, lalu siapakah yang harus bertanggung jawab?

Coba anda belajar menjawab pertanyaan ini, namun saya minta anda jangan memutar balik fakta dan kenyataan.

Jawablah dengan benar yang sekiranya bisa diterima oleh akal sehat mansuia.

Apakah yang bertanggung jawab Tuhan YEM /Allah?

Lalu kemanakah manusia harus menuntut, atau minta keadilan?

Kalau manusianya yang harus bertanggung jawab!

Berarti ajaran tidak sesuai dengan prinsip atau konsep bahwa Tuhan YME / Allah Maha Pencipta dan Pengatur manusia dan seisi alam semesta.

Kemudian mengapa anda menjawab seperti itu? Apa alasannya?


Manusia percaya: Tuhan /Allah mencipta dan mengatur seisi alam semesta.

Sejak zaman entah berantah manusia percaya (katanya) bahwa Tuhan YEM /Allah menciptakan dan mengatur seisi alam semesta termasuk manusia dan semua hewan, dengan keagungan dan keajaiban-Nya. Meskipun manusia tak pernah melihat kebenarannya dan tidak menyaksikan sendiri ketika Tuhan YEM /Allah mencipta dan mengatur dunia dan seisi alam semesta termasuk semua manusia dan hewan, tapi herannya mereka bisa percaya saja, tanpa diselidiki terlebih dulu.

Seandainya kita mau merenungkan, setelah kita menyaksikan kenyataan ada bayi yang baru saja lahir sudah cacad jasmaninya. Misalnya matanya buta, ada juga yang mentalnya terganggu, ada lagi yang tidak punya kaki atau tangan. Bahkan ada yang kedua kaki dan kedua tangannya tidak ada sejak dilahirkan, seperti di tayangan TV swasta ‘Kejamnya Dunia’ atau ‘Hati Nurani’. Ada yang lahir kembar siam, badannya dempet (menyatu), kapalanya yang menyatu.

Dan masih banyak lagi contoh yang tidak bisa kita sebutkan seluruhnya, untuk membuktikan silahkan berkunjung ke yayasan Tuna-Netra. Atau pergi ke persimpangan jalan lampu merah, di sana pasti anda akan menemui dan langsung menyaksikan begitu banyak orang cacad jasmani, seperti apa yang disebutkan diatas, bahkan masih banyak lagi yang sakit lepra, dll. Mereka semua umumnya didera penderitaan yang sangat berat, hanya kita tidak tahu sebab kita yang tidak mengalaminya.

Andaikata semua manusia diciptakan dan diatur oleh Tuhan YME, sungguh tidak adil, bahkan boleh dibilang bahwa Tuhan YME sangat kejam, keji. Karena faktanya terbalik dengan apa yang ditulis dalam kitab suci agama, bahwa Tuhan YME Maha kuasa, Maha besar, penuh kasih sayang, adil, dsb. Pasalnya melihat bukti banyak sekali manusia yang sejak lahir sudah tersiksa, hingga selama hidupnya sampai mati seperti disebutkan di atas.

Apalagi, kalau dikaitkan dengan peristiwa bencana alam dan musibah serta perang di seantero dunia, pembantaian dan penjagalan manusia di atas manusia yang tak bersalah hingga ratusan, ribuan bahkan jutaan korban manusia sia-sia.

Misalnya di Indonesia sebut saja tragedi G.30.S. PKI, tragedi Mei 1998, DOM. Aceh, termasuk korban Tsunami di Aceh-Nias, berbagai gempa bumi di Bantul-Sukabumi, dsb, Bom Bali 1-2, dsb.
Bisa dibayangkan kalau semua peristiwa itu di ciptakan dan di atur oleh Tuhan YME, berarti Tuhan YME lebih kejam dari manusia, apapun alasannya.

Bagimana dengan contoh kasus Verry Idham Henyansyah alias ‘Ryan Penjagal’ yang membantai 11 orang dan masih akan ada lagi.

Ryan adalah termasuk seorang agamis, mengerti dan taat agama, guru ngaji, pendiam santun, dan soleh, dsb. Namun, kenyataan dia bisa mencabut nyawa orang lain, tanpa minta izin Tuhan YME lagi, begitupula hukuman mati di Arabsaudi, Mekkah, Iran yang umatnya taat beragama, th 2007 ada 2700 lebih orang dieksekusi mati, di Indonesia 67 orang dieksekusi mati.

Hukuman mati ditembak atau dipancung berarti nyawanya ditentukan dan diambil (dicabut) oleh manusia lainnya. Jadi ajaran dan fakta tidak sesuai, mana yang benar?

Berarti kata-kata dan ajarannya bertolak belakang dengan fakta!

Malah dilihat dari penelitian akhir-akhir ini banyak sekali orang taat agama, ahli agama justru mau dijadikan robot pembom bunuh diri (jihad).

Sementara para agamawan mengatakan bahwa hidup dan mati manusia ada di tangan Tuhan YME, jadi manusia tak punya hak untuk mengambil nyawa manusia lainnya.

Apa definisi tentang Tuhan YME / Allah itu?

Kalau ditanya: “Apakah Tuhan YME / Allah itu ada?”
Pasti dijawab : “Ada.”
Lalu ditanya lagi: “Ada berapa Tuhan YME /Allah itu?”
Maka dijawab: “Ada, hanya Satu”
Kemudian ditanya lanjut: “Dimanakah Tuhan YME/ Allah itu?”

Jawabannya pasti beraneka ragam, maka jawabannya: “Di surga, di dalam hati, di dalam daging dan darah kita, di dalam otak pikiran kita, ada di atas, ada di mana-mana, ada juga yang menjawab relatif (sulit ditebak)”.

Jadi bila dihitung jumlahnya bisa banyak, sebab tiap orang akan menjawab sesuka hatinya, bukan berdasarkan kebenaran, fakta dan kenyataan.

Alasannya, sebab mereka yang berani menjawab pertanyaan itu sendiri juga, sebenarnya tidak tahu sama sekali tentang keberadaan Tuhan YME / Allah itu.

Mengapa mereka begitu yakin kepada Tuhan YME /Allah? Yah, kembali kepada pendidikan sejak dini anak-anak, mereka sudah diajarkan oleh orang tuanya begitu.

Kalaupun orang tuanya ditanya hal yang serupa maka jawaban akan persis sama.

Mengapa demikian? Pasti jawabannya; “Katanya”, kata si anu, atau karena dari guru agama mengajarkan begitu, tahu dari buku kitab suci, atau sebab baca dari buku kitab sucinya mengajarkan begitu.

Namun, yang amat disayangkan mengapa mereka begitu sangat percaya tanpa diteliti dan dibuktikan lebih dulu kebenarannya. Hanya asal percaya begitu saja, atau ditelan mentah-mentah, istilahnya ‘dogma’ yang artinya percaya secara membabi-buta, tanpa mau diselidiki lebih dulu kebenarannya.

Bila saya uraikan jawaban satu persatu maka, semua jawaban anda adalah ‘Gombal belaka’, alias tidak ada yang benar.

Misalnya Tuhan YME /Allah itu hanya ada satu, lalu di jawab ada di mana-mana; berarti banyak bukan satu, sebab di mana-mana itu indikasinya dibeberapa tempat.

Jika jawabannya ada di dalam hati; berarti juga banyak bukan satu, alasannya manusia jumlahnya banyak dan Tuhan YME /Allah ada di dalam hati tiap orang, berarti banyak, dsb.

Apalagi kalau ditanya: “Seperti apa gerangan Tuhan YME/Alllah itu?”. “Apa bentuk kongkrit Tuhan YME /Allah itu?”

“Apakah Tuhan YME/Allah itu sama seperti makhluk hanya lebih agung, lebih kuasa, lebih pengasih dan penyayang, dsb.

Kalau benar Tuhan YME /Allah itu makhluk, berarti adalagi yang mencipta Tuhan YME /Allah itu?

Alasannya, jika ada makhluk sebesar apa pun pasti ada yang menciptanya lagi. Kemudian siapakah yang menciptakan Tuhan YME /Allah itu?

Bila dikatakan bahwa Tuhan YME /Allah itu adalah zat (dzat) yang tak nampak, mengapa tadi menjawab Tuhan itu ada seperti makhluk, dan Tuhan YME /Allah itu satu.

Berarti anda sudah melihatnya, dimanakah? Dijawab: Di surga, di dalam hati, dsb. Jawabannya berputar-putar, berbelait-belit tak jelas menurut kebenaran, alias membingungkan, bikin pusing kepala.

Malah ada fakta mengatakan dan ditulis di TV: Tiada Tuhan kecuali Allah, Tak ada Tuhan selain Allah, Tiada Tuhan melainkan Allah.

Timbul pertanyaan: Mana yang benar? Apa bedanya Tuhan YME dan Allah?

Sebab, mereka semua sama-sama penyembah Tuhan YME /Allah, tapi satu kelompok mengklaim kata-kata yang bisa berbeda jawabannya seperti itu.

Dalam satu kesempatan kelompok yang menyatakan Tiada Tuhan melainkan Allah, Tak ada Tuhan selain Allah, Tiada Tuhan kecuali Allah juga mengatakan bahwa Tuhan YME adalah Maha pengasih dan penyayang, dsb.

Sungguh lucu sekali, dan sangat tak masuk akal sehat, ironis!


Apakah doa permintaan kepada Tuhan YME /Allah itu dikabulkan?

Banyak pemuka agama menyatakan dengan tegas bahwa doa permintaan kepada Tuhan YME /Allah itu pasti terkabul, asal percaya saja. Sebab Tuhan YME /Allah sudah berjanji akan mengabulkan semua doa permintaan manusia yang percaya kepada-Nya. Jika belum terkabul jangan bosan terus berdoa meminta, mungkin satu saat Tuhan YME /Allah akan mendengar doa anda.

Apakah benar demikian? Kalau Tuhan YME /Allah bisa mendengar doa anda berarti Tuhan YME /Allah itu punya telinga, jadi bagaimanakah devinisi Tuhan YME /Allah itu?

Andaikata semua doa permintaan manusia dikabulkan oleh Tuhan YME /Allah, misalnya manusia berdoa minta kaya, minta sehat, minta cerdas, minta selamat, minta sukses, minta mobil, dan minta segalanya. Dan bila benar Tuhan YME /Allah itu bisa mengkabulkan semua doa permintaan manusia.

Logikanya berarti manusia tidak perlu sekolah, tidak perlu belajar, tidak perlu bekerja, tidak perlu ke dokter, tidak perlu buka usaha, buka toko, tidak perlu polisi, tidak perlu ada rumah sakit, dsb. Lalu untuk apa ada guru, ada sekolahan, ada rumah sakit, ada dokter, ada bermacam pabrik dan untuk apa ada pemerintahan?

Andai segala sesuatu tinggal berdoa minta kepada Tuhan YME /Allah lalu dikabulkan. Secara ‘Rasional’ berarti semua manusia hanya tinggal tidur, lalu bangun berdoa minta makan, minta mobil, dan minta uang yang banyak, anak-anak minta susu, es krim, minta coklat, dsb. Maka semuanya akan datang dari langit, apa ada?

Betapa enaknya hidup mansuia bila segala sesuatu tinggal berdoa minta Tuhan YME /Allah lalu dikabulkan.

Tapi barangkali hal itu hanyalah mimpi di siang bolong, janji yang tak akan terwujud. Sebab buktinya anda bisa saksikan rakyat miskin ada di mana-mana bahkan di seluruh dunia, keselamatan tidak ada jaminan, kejahatan merebak dan merajalela. Bahkan perang yang membantai sesama manusia masih banyak terjadi, dimana pelakunya orang-orang yang taat agama.

Faktanya, anda mau makan saja harus kerja cari uang, anda sakit harus pergi ke dokter lalu makan obat, baru bisa sembuh, anda ingin kaya harus kerja keras, usaha, dsb. Anda ingin cerdas harus belajar ke sekolah, anak anda mau minum susu anda harus beli.

Maka ada baiknya ajaran agama harus direvisi atau diperbaiki dengan benar, agar jangan membuat orang jadi pemalas, hanya menjadi peminta-minta dalam segala hal.


Banyak Doa Permintaan yang melecehkan Tuhan YME /Allah.

Gara-gara Pemuka agama yang menyatakan bahwa doa permintaan kepada Tuhan YME /Allah itu pasti terkabul, maka banyak umatnya berdoa meminta kepada Tuhan YME /Allah dengan semau-maunya.

Contoh bukti baik para pemuka agama mimpin doa istighosah (doa bersama), berdoa minta agar Tuhan YME /Allah menghentikan bencana alam, musibah, perang, korupsi, dan semua kejahatan. Tapi faktanya bencana alam, musibah, perang, korupsi, dan semua kejahatan masih terus merajalela.

Para Koruptor, para perampok, para penjahat atau pencuri berdoa meminta misalnya, Oh Tuhan YME /Allah tolong kami mau korupsi, mau merampok, atau mencuri semoga berhasil sukses dan terbebas dari KPK, penjaga, dan polisi, tapi karena sedang sial akhirnya tertangkap juga oleh KPK atau polisi.

Para artis berdoa meminta agar suaminya jangan tergoda wanita lain (wil), namun buktinya suaminya tetap kawin lagi, akhirnya memilih cerai. Bahkan ada para pemuka agama yang hobi poligami sampai minimal 4 istri mudanya, meski istrinya berdoa siang dan malam meminta kepada Tuhan YME /Allah agar suaminya jangan poligami.

Para pengusaha berdoa meminta berkah usahanya agar maju dan sukses.

Banyak orang berdoa dengan nada menyuruh Tuhan YME /Allah misalnya, Oh Tuhan YME /Allah tolong si A yang sedang sakit disembuhkan, si B tolong sadarkan dia agar tidak jahat korupsi, tolong sampaikan salam kepada si B kekasih-ku, tolong satukan hati kami berdua.

Tolong jaga dan bimbinglah aku ya Tuhan YME /Allah. Para wanita berdoa kepada Tuhan YME /Allah agar suaminya jangan menyeleweng, tapi tetap saja suaminya suka jajan, atau cari daun muda, istilahnya.

Ketika bencana alam, musibah, perang, korupsi, dan semua kejahatan masih terus merajalela, akhirnya semuanya mencari kambing hitam dan menyalahkan Tuhan YME /Allah sedang mencoba, sedang menguji umatnya.

Jika diteiliti dan dicermati banyak sekali orang berdoa meminta kepada Tuhan YME /Allah dengan nada melecehkan, menyuruh, menugaskan.

Semua itu bukan saja salah tapi bila dipikir dengan akal sehat ‘rasional’ berarti Tuhan/Allah itu jadi pesuruh, bisa diperintah, dsb.

Mengapa demikian? Lalu siapakah yang harus disalahkan?

Siapa yang mestinya bertanggung jawab? Sebab semua umat mengikuti saja apa yang diajarkan oleh pemuka agamanya. Lalu apakah mau pemuka agama atau ajaran agamanya bertanggung jawab atas kesalahan ini?

Akibatnya, semua saling menyalahkan, dan akhirnya semua tidak ada yang mau bertanggung jawab. Belajar agama sah-sah saja, tak salah juga, tapi sebaiknya umat harus menggunakan logika atau akal sehatnya. Hingga muncul kebijaksanaan untuk memilah mana ajaran yang salah dan benar, mana yang berguna dan tidak berguna.

Jangan asal percaya saja atau dogma percaya membabi-buta tanpa kajian lebih dulu, dengan penelitian yang cermat atas apa yang dibaca dan didengar. Lalu timbul pengertian benarnya yang menjadi kebijaksanaan akan sangat berguna menuntun anda ke jalan yang benar.

Hingga akhirnya kebijaksanaan itulah yang kemudian mengantar anda ke arah kebahagiaan dan kesejahteraan lahir dan batin.

Cara ini tak peduli agama itu namanya apa, jangan terpaku dengan merek atau nama agama tertentu. Tapi kaji lebih dulu adalah hak dan syarat mutlak bagi anda sebagai penganutnya, sebab agama tidak memaksa anda.

Doa Untuk Menyembelih Hewan.
Bila hari raya Idul Adha umat Islam harus korban hewan untuk dipotong, lalu dagingnya dibagikan kepada fakir miskin. Hal ini termasuk Ibadah dan amal sebagai umat Islam yang taat dan benar. Namun, yang disayangkan sebelum di potong hewan itu di doakan dulu misalnya: ‘Bismilah…dan terakhir Allah Huakbar’.


Bagaimana menempatkan nama Tuhan YME /Allah dengan benar.

Banyak para pemuka agama menyatakan bahwa Yesus anak Allah, kalau ditanya balik kapankah Allah menikahnya, dengan siapa, dimana?

Kadang nama Tuhan YME dengan Allah dibulak-balik, kadang Yesus disebut Tuhan kadang disebut Allah, Yesus kadang disebut Allah disebut Bapak, jadi mana yang benar? Kadang Yesus disebut Roh Kudus, Yesus juga disebut Pengembala Domba, umatnya disebut Domba (binatang) apa anda mau?

Bila dicermati khotbahnya ngawur, berbelit-belit, tak nyambung, ngomong semau-mau, seenaknya, sesukanya, tak ada norma dan batasan yang jelas antara benar dan salah.

Banyak tulisan di koran dalam ucapan duka-cita: Telah kembali kepada Allah Bapak di surga, Allah telah mengambilnya kembali, Dia telah kembali kepada Allah Bapak di surga. Semoga si A diterima disisi Tuhan YME /Allah, semoga si A dijemput oleh Tuhan YME /Allah, semoga amal ibadahnya dapat diterima oleh Tuhan YME /Allah, semoga Tuhan YME /Allah membuka pintu surga bagi si A.

Karena Tuhan YME /Allah telah mengambilnya kembali si A, semoga si A diampuni segala dosa-dosanya dan diterima disisi-Nya (bagi para koruptur perampok uang rakyat bagaimana?).

Ada buku berjudul: “Tuhan tidak Tidur” ditulis oleh Sukardi Rinarkit, apa benar penulis tahu bahwa Tuhan tidak Tidur?

Jadi penjaga siang dan malam dong, Satpam aja jaga giliran, ah yang benar aja.
Rupanya benar juga bila harus terus mendengar keluhan semua manusia dan hewan.

Bila disimpulkan: Emangnya Tuhan YME /Allah apanya kamu?

Pesuruh, penjaga pintu surga, juru-kunci (kuncen) surga?

Ada yang lebih parah yakni para teroris yang menjadi pembom bunuh diri (Jihad), sebelum melakukan bom bunuh diri dia mengucapkan: “Allah Huakbar” artinya Allah Maha besar, lalu dia meledakan bomnya yang disimpan dibadannya.

Cara efektif seperti itu dibenarkan oleh mereka para penganutnya, meskipun dirinya jadi korban, termasuk banyaknya orang lain jadi korban, malah banyak juga sesama umat agamanya (islam) yang menjadi korbannya.

Faktanya: Bom Bali 1-2, Bom JW Mariot jakarta, Bom di kedutaan asing, Bom di Irak, Bom di Pakistan, Bom di Afganistan, di India di Shanghai, dsb.

Aktifis bom bunuh diri (Jihad) ini tak mengenal kritik, kecaman, kutukan dan anehnya lagi tak peduli bulan Ramadhan (puasa) bahkan hari raya Idul Fitri. Tengok saja di Afganistan ribuan orang jadi korban, dan di Irak selama bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri tercatat 440 orang korban bom bunuh diri bahkan di mesjid.

Bila dinilai dari sudut norma-norma kehidupan manusia yang beradab, hal itu sungguh merugikan diri sendiri dan orang banyak.

Apapun alasannya, cara bom bunuh diri (Jihad) tidak manusiawi, satu-satunya cara harus ‘disadari’ bahwa hal itu sebaiknya segera diperbaiki atau dibuang.


Manusia secerdas, sehebat apa pun tidak tahu Tuhan YME /Allah itu?

Manusia secerdas dan sehebat apa pun, sebenarnya tidak pernah tahu dan tidak akan tahu tentang Tuhan YME /Allah itu.

Manusia awalnya tidak tahu tentang Tuhan YME /Allah itu, namun akibat ketidak tahuannya, begitu melihat luasnya alam semesta, luasnya lautan, dsb. Maka manusia hanya mengira-ngira bahwa alam semesta dan seisinya termasuk manusia yang amat unik, lalu mengarang sendiri bahwa Tuhan YME /Allah menciptakan dunia dan seisi alam semesta termasuk manusia dan hewan.

Pernyataan ini mirip orang buta ketika memegang gading gajah, lalu ditanya seperti apakah gajah itu? Jawabnya: “Seperti yang dipegangnya, Gajah itu yah lonjong bulat tapi panjang dan runcing di depannya”

Bila orang buta itu memegang telinga gajah, lalu ditanya seperti apakah gajah itu? Maka dia akan menjawab: “Oh, Gajah itu mirip mangkuk ceper, lebar tapi di tengahnya berlubang dan bau tak sedap” Anda yang matanya melek dan bisa melihat dengan jelas pasti akan mentertawakan jawaban orang buta tersebut. Namun, menurut orang buta sendiri, jawabannya ya benar seperti itu, alhasil bagaimana pun tidak akan ketemu alias tidak akan nyambung.

Inilah sebab dan sumbernya yang akhirnya di dunia ini muncul perdebatan dan argumentasi konyol, artinya tak ada gunanya sama sekali. Hingga berdampak kerusuhan, pertengkaran, pembunuhan, perang di mana si pelakunya orang-orang taat agama (Jihad-perang Salib), semua itu efek dari perebutan akulah yang benar, dan kamu yang salah, dan sebaliknya.

Agama dijadikan tameng, agama yang mereka anut dijadikan dalil pembenaran sebagai alasannya. Klaim ajaran agama sebagai pembenaran bahkan terjadi terhadap sesama penganut agamanya sendiri.
Contohnya; Konflik terhadap Ahmadiyah, Lia Eden, Sekte Kiamat, dsb. Padahal agama sendiri mengajarkan tidak boleh berbuat jahat, pengrusakan, penghancuran tempat ibadah, apalagi membunuh, bahkan membantai sesama manusia sendiri.

Alasannya, bahwa siapa pun sebenarnya tidak ada yang pernah tahu dan tak akan tahu dengan sesungguhnya bahwa Tuhan YME /Allah itu ada atau tidak ada, dsb.

Jadi menurut saya; jika anda tak tahu sama sekali lebih jangan berkata bahwa Tuhan YME /Allah itu ada atau tidak ada, dsb.

Lebih baik diam dan berusahalah mengatasi apa yang terjadi di depan mata anda yang nyata ada. Daripada jadi pembohong besar, dan membodohi banyak orang, hal itu malah akibatnya berbahaya bisa masuk neraka, akhirnya akan tersiksa berjuta tahun lamanya.

Coba saja anda pikir dengan benar; Andaikata bahwa Tuhan YME /Allah itu mencipta dan mengatur seisi alam semesta termasuk semua manusia dan hewan.

Jumlah manusia 6 miliar lebih belum lagi hewan tak terhitung, malaikat dan syetan. Lalu Tuhan/Allah mengatur semua keinginan manusia, hewan, malaikat dan syetan, dsb. Walaupun dikatakan bahwa Tuhan YME /Allah itu adalah hal yang gaib atau ajaib dan tak bisa dipikirkan oleh akal manusia.
Namun manusia punya akal sehat untuk berpikir, meneliti, dan menilai segala sesuatu, alhasil bagaimana super sibuknya Tuhan YME /Allah itu.

Belum lagi doa permintaan yang beraneka macam manusia yang jumlah banyak.


Efek dari dogma, kepercayaan yang membuta kepada Tuhan YME /Allah itu.

Percaya kepada Tuhan YME /Allah itu memang bagus, tapi yang lebih bagus harus di dasari dan dilandasi oleh kebenaran yang hakiki. Artinya, anda boleh percaya kepada sesuatu apa pun, sebaiknya setelah melalui penyelidikan, penelitian yang saksama. Seperti halnya para profesor ahli penelitian agrobisnis atau tumbuhan, ilmuwan ahli astronomi (antariksa), ilmuwan ahli purbakala atau arkeologi, ilmuwan ahli geologi, ilmuwan ahli fisika, dsb.

Mereka membuat pernyataan setelah melalui penelitian berpuluh tahun, dengan serangkaian uji coba, dan didukung oleh peralatan yang memadai. Para profesor ahli ilmu apa pun yang benar dan kompeten tak akan berani membuat pernyataan sembarangan tanpa uji coba dan tanpa subtansi yang boleh dipertanggung jawabkan hasilnya.

Percaya secara membabi-buta atau dogma, adalah satu kebodohan, faktanya dengan percaya begitu saja. Akhirnya banyak orang setelah berbuat jahat sebiadab dan sekejam apa pun mereka percaya hanya dengan berdoa minta ampun kepada Tuhan YME /Allah, semua dosanya punah, tercuci bersih, hilang lenyap seketika.

Parahnya lagi hanya dengan pergi ke tempat suci yang dipercaya bisa jadi orang suci. Akibatnya banyak orang tidak takut berbuat jahat, apa pun yang mereka lakukan semau-maunya, sebab dengan pergi ke satu tempat atau tanah suci dan berdoa minta ampun semua dosa kejahatannya habis tanpa sisa lagi, jadi orang suci.

Padahal buktinya banyak orang meskipun sudah berulang kali pergi ke tempat/tanah suci dan minta ampun kepada Tuhan YME /Allah, tapi tetap berbuat jahat lagi bahkan setelah berbuat jahat lalu membantah.

Contohnya: Para oknum anggota DPR, oknum para pejabat dan oknum pemimpin rakyat yang Koruptor, ketika ditangkap oleh KPK atau Polisi dan hingga disidang pengadilan pun berani membantah.

Padahal mereka mengaku sudah pergi ke tempat atau tanah suci berulang kali, maka kalau dipikir sungguh aneh bin ajaib tapi nyata ada.

Demikian pula umat Katolik dan Kristiani yang sama-sama menyembah Yesus.
Umatnya saling mengklaim paling benar, paling baik, paling suci. Akhirnya timbul perpecahan aliran berbagai macam, satu sama lainnya tidak mau rukun dan bersatu,

Hobinya cari ‘Onar dan Perang Pembantaian Manusia’ membuat ‘Kartun Nabi Muhamad’ dan ‘Buddha Bar’ dari Paris hingga ke seluruh dunia.

Kesalahan cara mengajar anak.

Sudah lazim orangtua memberi pendidikan pertama lalu guru mengajar agama kepada anak di sekolah. Namun, sayangnya orangtua selalu mengajar anaknya untuk berterimakasih kepada Tuhan YME/Allah dalam setiap tindakan. Contoh; Waktu mau makan dengan doa misalnya terimakasih Tuhan YME/Allah atas berkat-Mu, memberi saya makan, terimakasih Tuhan YME/Allah saya diberi rejeki…, terimakasih Tuhan YME/Allah saya sudah disembuhkan. Terimakasih Tuhan YME/Allah saya sudah lulus ujian, terimakasih Tuhan YME/Allah saya sudah dapat jodoh istri/suami yang baik, dsb.

Walaupun jelas-jelas orangtua yang mencari uang siang malam untuk nafkah anak, untuk biaya sekolah, untuk biaya ke dokter dan beli obat, untuk biaya pernikahan, dsb. Tapi, kenapa orangtua selalu mengajarkan berterimakasih kepada Tuhan YME/Allah, inilah kesalahan yang amat fatal. Kesalahan cara mengajar anak sejak dini seperti itu yang tak pernah disadari, malah dibenarkan, padahal sudah jelas salah dan keliru.

Ajarkan Realita Hidup Kenyataan.

Ajari anak tentang Realita hidup sebagaimana kenyataan yang ada. Misalnya; Saya berterimakasih kepada mama dan papa (ayah dan ibu), atas kerja kerasnya hingga saya mendapatkan makanan, dan segala keperluan hidup saya. Saya berterimakasih kepada guru atas bantuannya yang telah mendidik dan mengajarkan ilmu pengetahuan hingga saya lulus dalam belajar dan sukses dalam karir serta bisa berkarya. Saya berterimakasih kepada dokter atas bantuannya yang telah memeriksa dan memberi obat hingga saya bisa sembuh dari sakit.


Kesimpulan:
Sejarah kehidupan manusia yang Percaya dan Menyembah Tuhan YME/Allah, sejak awal manusia Adam dan Hawa punya dua putra Habel dan Kain selalu bertengkar. Hingga saat ini timbul perang pembantaian manusia yang tak pernah berhenti, bahkan dengan alat-alat yang lebih canggih, terakhir senjata Nuklir tinggal tunggu saja waktunya akan sampai.

Lalu apa peran Tuhan YME/Allah atas peristiwa perang pembantaian manusia?
Apakah Tuhan YME/Allah yang menciptakan dan mengatur semua itu?
Karena manusia percaya bahwa Tuhan YME/Allah yang menciptakan dan mengatur hidup manusia dan dunia ini.

Cobalah pikir dan renungkan dengan baik dan benar!
Sebab manusia memiliki akal sehat atau ‘logika’

Semoga uraian ini tidak dianggap melecehkan umat beragama, atau menghina agama tertentu. Namun saya mengajak anda semua untuk meneliti, mengkaji, berpikir dan merenungkan ajaran agama yang benar. Untuk mendapatkan pengertian yang benar hingga bisa menjadi Kebijaksanaan yang dipuji oleh semua orang bukan hanya oleh kelompoknya saja.

Mohon maaf bila uraian ini kurang berkenan dihati anda semua, harapan saya anda semua sadar dan mengambil hikmahnya dan manfaatnya. Terimakasih atas perhatiannya. Semoga kita semua maju dalam kebenaran universal, agar kita memperoleh kedamaian dan kebahagiaan dalam hidup ini dan selanjutnya.
Selanjutnya saya akan menguraikan tentang “ Kebenaran dan Pembenaran ”

Sabbe satta bhawantu sukhitatta.
Semoga semua makhluk hidup bahagia.
Waskito.
Pemerhati agama dan sosial.

1 Comments:

  • At 7:40 PM , Blogger My life my adventures said...

    maaf saya kira apa yang anda tulis terlalu timpang (hanya melihat dari satu sisi) anda tidak melihat dari sisi lain nya, apabila tulisan anda inu dijadikan panutan sampai mati juga tidak akan pernah bertemu dengan kebenaran.....

    Pesan saya: pahami dulu akar masalah,
    Kemudian sampaikan secara objektif

     

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home