Fenomena Dhamma

Tuesday, August 10, 2010

“Bagaimana asal mula alam semesta terbentuk menurut ajaran Buddha”

Diskusi: Tanya; Bhante bagaimana menurut ajaran Buddha; asal mula smua benda2 planet2 mahluk2 dan segala sesuatu yg ada dialam ini tercipta bhante. Temn2 tlg ks komen yg benar d berguna, sadhu.


Jawab: Pertanyaan diatas dalam ajaran Buddha agak jarang dibahas, sebab uraian sabda Buddha itu kurang menarik seperti ajaran agama lain yang ditutup oleh nama Tuhan/ Allah yang mencipta dan mengaturnya.

Kepercayaan kepada konsep penciptaan Tuhan/ Allah amat kuat, sejak kecil dan turun temurun, hingga membuat hampir semua orang akan menolak uraian dari sabda Buddha Gotama, yang mengungkap melalui proses dari system evolusi yang sebenarnya bekerja di alam semesta ini.

Namun demikian, hanya para ahli Astronomi dan para pakar Fisika kelak akan salut dan hormat terhadap uraian dari sabda Buddha Gotama ini. Lambat atau cepat kelak semua orang akan meyakini ajaran Buddha Gotama yang sesuai dengan IPTEK atau Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Modern. Tunggu saja waktunya!


Bhante sudah copy sabda Buddha tentang asal mula segala sesuatu di alam semesta ini, silahkan anda baca pelajari dengan baik. Selain itu dibawah ada komentar dari teman-teman yang isinya hampir sama. Sebab, Buddha Gotama bersabda di berbagai tempat yang isinya kadang bersambung, silahkan simak semuanya.


KUMPULAN SABDA SANG BUDDHA (Kehidupan dan alam kehidupan)


Disusun oleh : Tanhadi

1. Beliau menjelaskan, ketika alam-semesta mulai mengembang, alam yang telah ada barulah alam surga (alam-dewa).

Dan demikian mereka hidup, terdiri dari batin saja, senantiasa berbahagia, badannya mengeluarkan cahaya, bergerak di angkasa dengan jayanya, dan bertahan begitu sampai masa yang sangat lama sekali.
Pada waktu itu bumi hanya terdiri dari massa air semata dan semuanya gelap kelam.
Tidak ada bulan atau matahari, belum ada tata-surya, bintang belum terlihat, belum ada perhitungan waktu bulan, pertengahan-bulan, tahun atau musim, belum ada laki-laki dan wanita, hanya makhluk itu saja yang ada.

Lalu setelah jarak waktu yang sangat lama, buih-buih yang menggiurkan terbentuk diatas permukaan massa air dimana makhluk-makhluk itu berada.

Bentuknya seperti lapisan yang terbentuk diatas susu panas yang mendingin. Warnanya seperti dadih-susu (susu yang mengental) atau mentega, dan rasanya seperti madu murni.

Lalu, beberapa makhluk yang bersifat rakus berkata: "Saya berkata, apa yang seperti ini !, lalu mencoba buih itu dengan jarinya. Ketika ia melakukannya, dia menyukainya, dan keinginan timbul diantara mereka. Jadi mereka mulai berpencar memakannya. Setelah itu, cahaya badannya menghilang; lalu bulan dan matahari, siang dan malam, bulan dan pertengahan bulan, tahun dan musim, terjadi.

(Digha Nikaya III: 85)

2. Bila "maha-dewa" adalah pencipta dan pengendali segalanya, maka tiada gunanya manusia berbuat apapun, sebab manusia bagaikan wayang-kulit dari kehendak "maha-dewa" sebagai dalangnya, dan dengan sendirinya "maha-dewa" itulah penanggung jawab dari semua tindakan manusia yang tidak terpuji. Sang Buddha menyatakan argumentasi-nya sebagai berikut:

Ada beberapa pertapa dan kaum Brahmana yang percaya dan mengajarkan, bahwa apapun yang dialami manusia, menyenangkan, menyakitkan atau netral, semuanya disebabkan oleh keinginan "maha-dewa". Saya menemui dan bertanya pada mereka, apakah benar mereka mengajarkan demikian, mereka ternyata mengiyakan, lalu saya berkata: "Apabila demikian, tuan yang terhormat, mereka yang membunuh, mencuri dan berzina pula atas kehendak "maha-dewa" tersebut. Mereka harus berbohong, berfitnah dan berkata kasar serta bergunjing, disebabkan karena kemauan-nya. Mereka harus menjadi serakah, pembenci dan berpandangan salah karena kemauan "maha-dewa" tersebut". Mereka menyandarkan semuanya sebagai keputusan "sang maha-dewa" akan kehilangan gairah keinginan dan daya-upaya untuk berbuat ini atau tidak berbuat itu.
(Anguttara Nikaya I: 173)

3. Satu lagi, juga ada pendapat bahwa kejahatan dan penderitaan disebabkan oleh para iblis. Tetap, tak dapat diterangkan mengapa "maha-dewa pengasih" tidak dapat menyelamatkan orang-orang tak berdosa. Mengapa "maha-dewa pengasih" membiarkan penderitaan terjadi? Oleh karenanya, adanya penderitaan yang mengerikan dan tanpa tujuan itu merupakan bukti tidak adanya "maha-dewa maha-pengasih" tersebut. Sang Buddha bersabda:
Dengan mata, seseorang dapat melihat pandangan memilukan;
Mengapa "maha-dewa" itu tidak menciptakan secara baik?
Bila kekuatannya demikian tak terbatas, Mengapa tangannya begitu jarang memberkati,
Mengapa dia tidak memberi kebahagiaan semata?
Mengapa kejahatan, kebohongan dan ketidak-tahuan merajalela.
Mengapa memenangkan kepalsuan, sedangkan kebenaran dan keadilan gagal?.
Saya menganggap, "maha-dewa" adalah ketak-adilan. Yang membuat dunia yang diatur keliru.

(Jataka VI: 208)

4. Dibalik kenyataan bahwa alam manusia adalah yang terbaik dari segala alam, namun terlahir sebagai manusia adalah kesempatan yang sangat jarang, oleh karena kita seharusnya menggunakan sebaik mungkin kesempatan tersebut. Sang Buddha bertanya:
"Yang mana lebih banyak - pasir diujung kuku saya, atau pasir seluruh bumi?"
"Guru, jauh lebih banyak pasir di bumi ini. Sangat sedikit pasir di ujung kuku Guru. Satu sama lain tidak dapat dibandingkan."
"Demikian pula, makhluk yang dilahirkan sebagai manusia adalah sangat sedikit. Jauh lebih banyak yang terlahir dalam alam-alam lainnya. Oleh karenanya engkau hendaknya melatih dirimu, dengan senantiasa berpikir: "Kita akan hidup sebaik mungkin".

(Samyutta Nikaya II: 262)

5. Puluhan khotbah Beliau menampilkan alasan untuk meruntuhkan sistim kasta dan menegakkan persamaan martabat dan harkat manusia.(Lihat, sebagai contoh, Assalayana Sutta - M, II: 147; Ambattha Sutta - D, I: 88; Vasala Sutta - Sn: 116) Beliau bersabda:

Apabila engkau memperhatikan pepohonan atau rumput, Tanpa mengetahuinya,
Mereka tampak beraneka macam dan ragam, Ada bermacam jenisnya

Lalu perhatikan ngengat dan kumbang, Atau serangga kecil seperti semut;
Mereka tampak beraneka macam dan ragam, Ada bermacam jenisnya;.
Dan pada makhluk ber-kaki empat, Yang besar dan kecil, Mereka tampak beraneka macam dan ragam, Ada bermacam jenisnya Perhatikan makhluk yang merayap pada perutnya, Ular dan hewan melata lainnya. Mereka tampak beraneka macam dan ragam,
Ada bermacam jenisnya. Perhatikan ikan Dan semua yang hidup di air
Mereka tampak beraneka macam dan ragam, Ada bermacam jenisnya
Perhatikan burung yang beterbangan Mereka yang bepergian melalui angkasa;
Mereka juga tampak beraneka macam dan ragam, Ada bermacam jenisnya
Pada semua makhluk-makhluk itu, Macam dan ragamnya dapat terlihat;
Pada manusia tidak ada perbedaan diantaranya. Tidak dirambut atau kepala, ditelinga atau mata, Tidak di mulut atau hidung, bibir atau alis, Adanya perbedaan yang mencolok. Tidak di leher atau bahu, Tidak di perut atau dada, Tidak pula pada kelamin
Adanya perbedaan mencolok. Tidak pada tangan atau kaki, pada jari atau kuku,
Tidak pada betis, paha atau bentuk penampilan,Adanya perbedaan ragam dan macamnya, Seperti pada makhluk lainnya. Ragam manusia tidak berbeda banyak,
Seperti makhluk lainnya. Yang berbeda antara umat manusia, Hanyalah perbedaan tak bermakna.

(Sutta Nipata: 601-602)
6. Pencerahan dicapai mengembangkan kebijaksanaan dan welas-asih, dan siapa saja, tidak tergantung dari jenis kelaminnya dapat mencapainya. Sang Buddha bersabda:

Wanita, dari perumah-tangga biasa sampai yang telah meninggalkan keduniawian,
dapat mencapai tingkat Pemenang-Arus, tingkat Yang-Kembali-Sekali,
tingkat Yang-Tak-Kembali, tingkat Arahat .

(Vinaya V: 254).

7. Oleh karenanya wanita seharusnya diperlakukan sama dan mendapat kesempatan yang sama dengan kaum lelaki. Pandangan Sang Buddha pada kemampuan pencapaian Pencerahan oleh wanita dirangkum dengan baik oleh seorang murid Beliau bernama Soma.

Kodrat sebagai wanita tidaklah berperan Tatkala batin tenang dan kokoh,
Tatkala pengetahuan berkembang hari ke hari, Dan ketika dia merenungkan Dhamma.
Seseorang yang berpikir seperti ini: Oleh karena "Saya wanita" atau "Saya pria"
Ataupun setiap pikiran "Saya adalah ......" Mara akan dapat menyapanya.

(Samyutta Nikaya I: 129)
8. Karena mengetahui bahwa setiap insan dapat mencapai Pencerahan, Sang Buddha mengajarkan Dhamma kepada semua orang, dengan harapan semuanya mempelajarinya, melaksanakannya dan saling mengajarkannya. Ketika Mara membujuknya agar mati lebih dini, Sang Buddha menjawab:

Saya tidak akan mati sebelum para bhikkhu, bhikkhuni, umat awam pria serta wanita telah mempelajari mendalami, kebijaksanaan dan terlatih, dapat mengingat ajaran, menguasai ajaran utama dan tambahan serta bermoral; sampai mereka dapat menguasai, dapat menyampaikan pada lainnya, mengajarkannya, memaklumkannya, memperdalam, menghayati, menerangkan serta membabarkannya; sampai mereka mampu membedakannya dari ajaran salah yang diajarkan oleh yang lainnya dan dapat menyebarkan kebenaran yang meyakinkan serta dapat membebaskan ini, ke segala penjuru. Saya tidak akan mati sampai tata kehidupan yang suci telah dicapai, dihargai dan dihormati; sampai ajaran kebenaran ini dikenal luas diantara dewa dan manusia.

(Digha Nikaya II: 104)

9. Alam Binatang (tiracchana yoni) termasuk semua hewan menyusui, burung-burung, ikan, binatang melata dan serangga. Pada Alam Binatang; perasaan setia, mengasihi, berkorban dan sebagainya hampir tidak ada lagi, unsur pendorong utama dalam kehidupan mereka adalah sekadar naluri makan, seks dan mempertahankan hidup. Karenanya binatang saling memangsa tanpa cinta-kasih atau welas-asih, tanpa mengharapkan bantuan atau simpati dari yang lainnya. Sang Buddha bersabda tentang Alam Binatang:

Disana tidak ada kehidupan sesuai Dhamma, tidak ada keseimbangan hidup,
tidak dilakukan yang baik dan terlatih; hanya saling memangsa dan memakan yang lebih lemah.

(Majjhima Nikaya III: 250)
10. Walau alam kehidupan adalah tempat, namun sebenarnya lebih dari demikian; alam-alam tersebut terutama adalah keadaan batin. Seseorang yang anggun, berdaya dan bahagia dapat dikatakan berada di alam dewa seperti kebahagiaan dewa sebenarnya. Pula, manusia yang mengalami banyak penderitaan batin dapat dikatakan berada di alam neraka seperti penderitaan batin dapat dikatakan berada di alam neraka seperti penderitaan di alam neraka sebenarnya. Sang Buddha menegaskan, dengan bersabda:

Apabila seorang dungu berkata bahwa neraka ada dibawah laut, maka mereka sebenarnya berkata palsu tak berdasar.Istilah "neraka" adalah menunjukkan perasaan-perasaan yang menyakitkan.

(Samyutta Nikaya IV: 206)

11. Tujuan hidup tak lain adalah melepaskan diri dari samsara dan membebaskan batin kita untuk mencapai kedamaian Nibbana. Sang Buddha bersabda:

Kehidupan suci bukanlah demi keberuntungan karena mendapat kekayaan,
kehormatan dan kemasyuran, dan kehidupan bermoral; bukan pula demi keberuntungan yang dikarenakan dapat memusatkan pikiran, pula bukan untuk keberuntungan yang dikarenakan oleh pengetahuan dan kewaskitaan.
Tapi adalah sesuatu "kebebasan batin yang tak tergoyahkan" itulah yang menjadi tujuan dari kehidupan yang suci, itulah sasaran-nya, itulah titik puncaknya
(Majjhima Nikaya I: 197)
Sumber : Dasar Pandangan Agama Buddha - Ven. S. Dhammika.


Teman-teman terimakasih atas dedikah dan komentarnya.


1.mmhhh stau sy smua diatur oleh dhammaniyama,kmudian asal dr manusia yaitu dari makhluk cahaya yg memakan sari makanan kmudian makin lama berevolusi dan saling kawin dan berpencar ke sluruh penjuru.
dan awal adanya manusia sma dgn adanya bumi.


2. http://tanhadi.blogspot.com/2010/07/kumpulan-sabda-sang-buddha-kehidupan.html _/|\_ semoga bermanfaat.



3. sedikit tanggapn Bhante:tidak ada awal tidak ada akhir dalam agama Buddha...sehingga konsep penciptaan pun tidak ada di agama Buddha, karena segala sesuatu itu saling berhubungan satu sama lain...tidak ada sebab pertama dan tidak akhir yang terakhir....semuanya saling berkesinambungan......yangpaling penting, dalam agama Buddha adalah bagaimana mengendalikan pikiran, bagaimana mengola Bathin .....itu yang penting.


4. Terjadinya bumi & manusia merupakan konsep yg unik dlm agama Buddha, khususnya tentang manusia pertama yg muncul dibumi bukanlah hanya seorang tapi bnyak ini diuraikan oleh Sang Buddha dlm Digha Nikaya, Agganna Sutta & Brahmajala Sutta. Namobuddha Bhante. Kalau ada yg salah mohon dikoreksi, trims.


5. Namo Buddhaya, klo menanggapi diskusi d atas tentux membutuhkan penjelasan yang panjang dan lebar. Untuk mengetahui bagaimana kehidupan ini ato proses terbentuknya bumi dan planet lainx dan manusia,terdapat dalam sutta 'aganna sutta'.silahkan baca sendiri maka akan mendapatkan jawabannya.terima kasih.


6. Sprt halnya konsep manusia didunia, segala sesuatu tdk diciptakan misalnya benua2 didunia, ilmu2 didunia. Hal diatas akan jelas bila mempelajari Abihdamma. Mohon koreksi ya Bhante! Klo salah.


7. Rasa ingin tau dan pnasarn adalh sift smua org. Namn blm tntu smua org mngtahui/mndpkn'y. Sy sdh ktakn klw kt trkena pluruh jgn brtny siapa yg mnmbk kt atau brtny dri bahn ap sj pluruh trbuat. Hal yg plng pntg sgrahlh mnymbuhkn luka kt. Gagal memahami hal ini, akan lebih parah lg.


8. Namaste Bhante dan teman2. Asal mula alam semesta dapat dilihat di DIGHA NIKAYA III:85 yaitu Khotbah Sang Buddha tentang Kehidupan dan Alam Kehidupan. Atau bisa disearch di internet atau diklik langsung pada Blog Pak Tanhadi spt yg disebutkan Pak Agga Citto.


9. Namo budhaya bhante,selamat siang,Sang Buddha hanya mengajarkan daun yang ada dalam genggamanNya,dan itu sudah cukup untuk mengakhiri penderitaan,yang dikatakan:Hidup adalah Dukkha,dan Dukkha itu ada sebabnya,Dukkha juga bisa lenyap,dan ada jalan yang dapat melenyapkan Dukkha,yaitu:JALAN MULIA BERUAS DELAPAN..PRAKTEKKANLAH..!


1 0.Salam bante. Menurut saya sgala sesuatu di semesta ini Pikiran kitalah yang menciptakan, kita dan semua mahkluk beserta alam selalu berevolusi &beradaptasi.
Ini hanya pendapat, jika salah mohon dikoreksi.


11. Ada muncul dari tiada. Betapa mungkin mencari sumber tiada. Mengapa mencari ujung sebuah mangkok. Mengapa mencari titik awa akhir sebuah bola. Semua itu kosng dan hampa. Sebenarnya memang awanya tidak ada apa apa. Namo Buddhaya.

12. Namo budhaya bhante met siang.bumi di ciptakan oleh tuhan beserta alam semesta nya yg harus kita pelihara,dan spasang manusia dari situlah lahir manusia melahirkan trus kturunan,demikian juga mahluk hidup.manusia di berikan akal lebih daripada mahluk hidup,dari situ lah mungkin manusia dengan klebihan akal akan trus menciptakan sgalanya dan trus sampai skrg ini.maaf bhante klu kmtr nya salah mohon bimbingan nya.sadhu3x.


13. Faktor utama & kekuatan paling dahsyat di alam semesta adalah pikiran.


14. asal mulanya tak dapat diketahui, pertanyaan semacam ini sama dengan mempertanyakan berapakah awal bilangan (yg terkecil), bagi non buddhis akan menjawab 1 adalah awal bilangan, 1 adalah bilangan terkecil, namun dalam ajaran buddha 1 bukanlah awal, 1 bukanlah yg terkecil karna masih ada 1/2 yg lebih yg lebih kecil dari 1, dan yg lebih kecil dari 1/2 adalah 1/4, yg lebih kecil dari 1/4 sama dengan 1/8, dan begitu seterusnya, jadi tak dapat diketahui berapa bilangan yg terkecil itu, begitu pula dengan asal mula benda2 planet dan mahluk2 di alam tak dapat diketahui asal mulanya, jadi untuk menjawab pertanyaan semacam itu kita dapat menggunakan ilmu matematika yg jawabannya yaitu sama dengan tak berhingga/tak terdefinisikan.


15. Salam bhante . Menurut saya sgala sesuatu di semesta ini Pikiran kitalah yang menciptakan, kita dan semua mahkluk beserta alam selalu berevolusi &beradaptasi. Ini hanya pendapat, jika salah mohon dikoreksi.


16. Bhante,gmana cara mengendalikan keinginan memiliki sesuatu/seseorang yg kita tahu itu tdk mungkin.sy sendiri kurang jls ini ke inginan hati atau pikiran.makasi atas sarannya.


17.Namo buddhaya. Hal ini diceritakn olh buddha bkn sekedar utk pemuasan rasa ingin tahu ataupun sbgi perdebatan dgn umat lain,Buddha menceritakn hal tsbt lbh krg spti berikut; Stlh bumi hancur,dlm jangka wktu yg lama,akn terbntk lg bumi yg baru,bhwa susunan bintang2 di ruang angkasa mengikuti hukum astrofisik shgga posisi mrka dipengaruhi 1 sama lainnya. Akan ada kondisi yg sesuai lg utk trbntknya bumi yg baru (jrk antara matahari dn bumi,komposisi materi bumi dll),Bumi br ini akn trlht sgt indah dr kejauhan dn akn ada yg mendktinya dn mencoba rasa manis yg diproduksi tanaman dibumi (bagaikn proses pembntkn gula,fotosintesis olh tanaman)..
Krn terikat olh rasa yg manis ini,mrka trs menerus mencicipinya sampai2 tubuh mrka yg halus mjdi kasar (krn zat gula adlh zat padat,dn sblmnya tbh mrka bkn padat),krn tubuh mrka mjdi pdt,mk rupa mrka trlht jauh lbh berbeda,ada yg terbntk mjdi lbh indah,ada yg trbntk mjdi lbh jelek,yg indah mengejek yg jelek,dn yg jelek mengucilkn diri...
Dr proses inilh trbntk makhluk2 dibumi,dn krn moral mrk smkin menurun ini (keserakahan trhdp rasa manis dn pengejekan),mk gula yg diproduksi (tanaman) bumi smkin hari smkin krg manis,akn tetapi makhluk2 ini tlh terlanjur mjdi padat tubuhnya shgga mrk khlgn kemampuan mrk,dn tdk dpt lg kmbli ke asal mrk yg dahulu,dn melalui proses evolusi,trbntk lah kelamin,dn mulailah trlht adanya hubungan seks,Mrka yg berhubungan seks dikucilkan krna dianggap rendah,Moral smkin menurun,dn usia manusia semakin lama semakin menurun...
Bila seseorg mengecam kaum homoseksual dgn alasan bhwa homoseksual itu bknlh hal yg alamiah,dn kayaknya cacian dn pengucilan trhdp kaum homoseksual terulang kembali spti halnya dl trhdp kaum heteroseksual,bgtlh pandangan dunia ini yg selalu berubah menurut perkembangan zaman. Saddhu3x...


18. Bila kta paham bgaimana penciptaan manusia mka scra otomatis penciptaan alam semesta bsa terjawab...penciptaan manusia dsni adl proses terbntkny benih yg menjadi janin.


19. Biarkan semua di atur oleh hukum alam (niyama), yang terpenting kita harus berusaha mengakhiri penderitaan ini, dengan banyak berbuat kebajikan.


20. Namo buddhaya. Tdk semua topik diskusi itu bermanfaat,Bila kita tdk bijaksana dlm memilih topik,mk pikiran akn dikuasai olh kerumitan dn hasilnya kita akn kehlgan ktngan diri,didlm diri yg tdk tenang,tdk akn trdpt pengertian yg jelas...
Yg jls asal mula dr ide/konsep/teori adlh pikiran,Dlm arti,pikiran adlh sbgai pelopor trbntknya ide2,Terbntknya badan,pikiran,beserta unsur batiniah lainnya (fisik dn mental) adlh trgntg pd kesadaran awal (kesadaran penghubung antar 2 khdpn),munculnya kesadaran awal ini trgtg pd faktor pembentuk, munculnya faktor pembntk ini tergtg pd ktdkpahaman trhdp dhamma, singkatnya,awal mulanya adlh ktdkpahaman trhdp dhamma,olh krna ktdkpahaman ini,mk makhluk akn terus menerus bertumimbal lahir, bila ktdkpahaman ini lenyap,mk lenyap jglh kelahiran kembali..
Alam semesta terbatas atau tdk adlh suatu pandangan (konsep/ide/teori) yg mana kt ketahui bhwa konsep/ide/teori itu sndiri hanya bisa ada (keberadaannya trgtg pd) pikiran ini, sdgkn kita jg tlh mengetahui bhwa keberadaan pikiran ini sndiri trgtg pd hal2 lainnya,dn inilh yg perlu disadari dr hukum sebab akibat ini: Semuanya yg bersifat trgtg pd hal lain (tdk stabil) adlh sndirinya sumber dukkha (ktdkpuasan). Ini jg tlh diperumpamakn Buddha: Bagaikn seorg yg tertusuk ank panah yg beracun,tetapi ia malahan bertanya sana sini ttg hal2 yg tdk berguna (siapa org yg memanahnya, dr suku apa,berumur berapa,dn strsnya) dn bknnya secepatnya mengobati lukanya yg mematikan...
Saddhu3x.

Kesimpulan:
Pertanyaan diatas dalam ajaran Buddha agak jarang dibahas, sebab uraian sabda Buddha itu kurang menarik seperti ajaran agama lain yang ditutp oleh nama Tuhan/ Allah yang mencipta dan mengaturnya. Kepercayaan kepada konsep penciptaan Tuhan/ Allah amat kuat, sejak kecil dan turun temurun, hingga membuat hampir semua orang akan menolak uraian dari sabda Buddha Gotama yang mengungkap melalui proses dari system evolusi yang sebenarnya bekerja di alam semesta ini. Hingga menutup akal sehatnya (dogma), yang tidak mau meneliti bersifat kajian.

Namun demikian, para ahli Astronomi dan para pakar Fisika kelak akan salut dan hormat terhadap uraian dari sabda Buddha Gotama ini. Lambat atau cepat kelak semua orang akan meyakini ajaran Buddha Gotama yang sesuai dengan IPTEK atau Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Modern.

Karma baik ini kita limpahkan kepada para Guru Dharma dan semua makhluk yang telah meninggal semoga mereka dapat menerimanya dan ikut berbahagia, sadhu.

Sabbe satta bhawantu sukhitatta.
Semoga semua makhluk hidup berbahagia.
Ven.Sudhammacaro.
Penyusun

4 Comments:

  • At 9:02 AM , Blogger Manusia Hina said...

    Buka alamat ini kang ndak usah panjang lebar jelaskan ini itu,,,
    http://www.al-habib.info/review/al-quran-asal-mula-alam-semesta.htm
    Sudah yakini apa anda yakini,,,ndak usah menghina agama lain,,,ISLAM : SELAMAT agama adalah jalan dan aturan,,,yang selamat itu pelaku/manusia bukan ajarannya,,,meskipun budha kalo gak bener ya gak ISlLAM,,,tapi kalo bener Ya ISLAm,

     
  • At 9:03 AM , Blogger Manusia Hina said...

    bfbvc

     
  • At 10:03 AM , Blogger Winadi Wiratama said...

    Terima kasih bhante atas artikel yang telah di post, bisa sangat bermanfaat bagi saya. Bersabarlah bhante menghadapai komentar yg sifatnya SARA dan tidak berbobot. :)

     
  • At 9:03 PM , Blogger Adhinata Kurniawan said...

    Selamat Siang Bhante.
    NB

    sebenarnya, saya belum bisa menjawab pertanyaan dalam diri saya tentang asal mula kehidupan dan alam semesta dari pembabaran dhamma di halaman ini.. sudikah kiranya bhante menjelaskan kembali pada saya.. mungkin by email ke adhinata_z@yahoo.com

    terima kasih bhante.
    NB

     

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home