Apakah saya seorang A-theis? Sebuah percakapan Imajiner…


(Agama hrs sesuai dg Akal Sehat (Cerdas)-serie ke-1)


Agama itu seperti pakaian yang anda pakai
Jika pakaian ini sudah sempit atau kekecilan, anda tidak lagi memakainya,
anda melepaskannya, lalu mencari pakaian baru....

Jangan sekali-kali serahkan kehidupan anda kepada agama anda,
dan jangan sekali-kali anda mau mati demi agama anda,
tapi serahkanlah hidup anda kepada usaha-usaha
mengembangkan ilmu pengetahuan dan
usaha-usaha mengalahkan penderitaan umat manusia.
Ilmu pengetahuan dan kebahagiaan manusia jauh lebih penting
ketimbang agama anda.

― ioanes rakhmat


Kata orang beragama, agama diturunkan Tuhan Allah ke dunia
tak lain untuk membuat manusia mengalami kebebasan;
tapi, kataku: “Burung-burung camar yang berterbangan di atas laut,
kendatipun jelas-jelas tidak beragama, hidupnya jauh lebih bebas,
dibandingkan manusia yang beragama.

― ioanes rakhmat



(1) Seseorang bertanya dengan sangat sopan kepada saya: Maaf, Pak Ioanes, apakah anda sekarang seorang ateis?

(2) Saya menjawab: Apa yang membedakan seorang beragama dari seorang ateis?

(3) Orang itu menjawab: Seorang beragama percaya pada adanya Tuhan Allah, seorang ateis tidak percaya.

(4) Saya bertanya: Apakah Tuhan Allah itu dalam pemahaman anda?

(5) Orang itu menjawab: Tuhan Allah itu suatu entitas di luar dunia, yang maha kuasa, transenden, maha agung.

(6) Saya bertanya: Lalu apa hubungan Tuhan Allah yang semacam itu dengan dunia, dengan anda?

(7) Dia menjawab: Tuhan Allah yang transenden itu menciptakan agama-agama untuk kehidupan manusia dalam dunia, dan saya memilih percaya pada satu agama.

(8) Saya melanjutkan: OK-lah, jika Tuhan Allah bagi anda suatu entitas yang transenden, saya juga percaya pada hakikat yang transenden.

(9) Katanya dengan kaget dan tak sabar: Oh, jadi anda masih percaya pada Tuhan Allah? Betulkah?

(10) Saya jawab: Oh saya tak katakan saya percaya pada Tuhan Allah seperti yang anda percayai, tapi saya akui ada suatu hakikat besar yang transenden.

(11) Tanyanya penasaran: Jika hakikat besar yang transenden yang anda akui itu bukan Tuhan Allah, habis apa?

(12) Saya jawab: Saya sedang berpikir dalam kerangka sains, ilmu pengetahuan, ketika saya  mengatakan ada hakikat yang transenden.

(13) Dia bertanya: Saya tak paham, bisa Pak Ioanes jelaskan?

(14) Saya jawab: Semua ilmuwan, khususnya yang bergelut dalam dunia material, tahu/sadar, objek kajian sains tak pernah bisa habis.

(15) Lanjut saya: Kalangan saintis tahu, selalu ada wilayah yang lebih besar, yang belum bisa dimasuki sains untuk dikaji, dan terus menantang sains.

(16) Dia memotong: Wilayah yang kudus, wilayah “the sacred”, wilayah ilahikah?

(17) Saya merespons: Uups, saya tak mengatakan itu wilayah ilahi, tapi wilayah yang selalu mentransendir sains, kawasan yang selalu “beyond the present science”.

(18) Dia bertanya: Wilayah yang bagaimana, apakah dalam wilayah yang anda sebut itu ada hakikat yang dinamakan Tuhan Allah?

(19) Saya merespons: Nah, sebaiknya anda mendengar dulu, jangan terus mendesakkan keyakinan anda.

(20) Dia menyerah: OK deh, saya bersedia mendengar dulu.

Mohon maaf tulisan ini (Status di-atas) bukan untuk men-Diskriditkan atau me-Lecehkan ajaran Agama-apapun yang anda Anut. Namun, tujuan mulia dari tulisan ini untuk membuka Wawasan anda dengan Benar, dan menempatkan apa yang Benar pada Posisinya yang Benar, kira2 demikian.

Tapi, jng salah paham krn ada Doa yg Istimewa yaitu; “Tradisi Doanya Masyarakat Tibet yg Hebat”, krn mampu Menyadarkan dan Menyejukkan Hati Sanubari dan boleh jadi mampu memberi Inspirasi bagi anda yg benar2 Yakin kpd Dharma ajaran Buddha…

Next On…belajar sabar yah…sebab banyak Orang hanya mau tau aja… Giliran Praktik tdk mau…jd hrs Pelan2… se-Tahap demi se-Tahap…sambil cari Info dulu yah … 


Semoga berguna utk menambah Pengetahuan Dharma dan buka Wawasan, mohon maaf kalau tdk berkenan dihati anda.

Tanya-Jawab Oleh: ― ioanes rakhmat


Komentar:



KOMENTAR dan ULASAN KONGKRIT…




(Agama hrs sesuai dg Akal Sehat (Cerdas)-serie ke-1)


Agama itu seperti pakaian yang anda pakai
Jika pakaian ini sudah sempit atau kekecilan, anda tidak lagi memakainya,
anda melepaskannya, lalu mencari pakaian baru....

Jangan sekali-kali serahkan kehidupan anda kepada agama anda,
dan jangan sekali-kali anda mau mati demi agama anda,
tapi serahkanlah hidup anda kepada usaha-usaha
mengembangkan ilmu pengetahuan
dan usaha-usaha mengalahkan penderitaan umat manusia
Ilmu pengetahuan dan kebahagiaan manusia jauh lebih penting
ketimbang agama anda 

― ioanes rakhmat


Kata orang beragama, agama diturunkan Tuhan Allah ke dunia
tak lain untuk membuat manusia mengalami kebebasan;
tapi, kataku, burung-burung camar yang berterbangan di atas laut,
kendatipun jelas-jelas tidak beragama, hidupnya jauh lebih bebas
dibandingkan manusia yang beragama.

― ioanes rakhmat


 Ini komentar dari Romo Soegeng Soediro S:Menarik sekali Bahnte tulisan ini, saya sedang ber " upaya " mencari sedikit komentar, tetapi tulisan ini belum selesai kan ?


 Ini komentar dari Natali: bhante, agama trgantung masing2 org. agama asalny dari kata "a dan gama' maksudnya "tdk kacau". spt biola atau kue, yg memainkan biola org yg bgs ya merdu trdngar. yg buat kue, org yg pintar masak, kan enak. kalo tak bisa masak, kan hancur. cm agama pun ibarat buat kue atau main musik, perlu diasah dan didalami terus. tak ada kata tamat untuk belajar. org yg terus belajar biasany rendah hati. tp kalo org yg merasa uda tamat, pasti sombong. atheis atau tidak, tak perlu menghakimi. tak ada gunanya kt urusi. dunia yg beragam lbh menarik. jari tangan aj tak sama panjangnya. kalo memang kt brniat membuat tiap org beragama yg sama, cobalah dl buat jari tangan sm panjang dari jempol sampe kelingking, br kt bicara lg.



Namo Buddhaya Temen2 Yg Budiman trims atas komennya yg bgs dan berguna.
Romo Soegeng Soediro S, trims atas komennya, maaf tulisan ini dibagi menjadi 7 bagian, mengingat isinya agak ber-liku2 makin dalam dan sangat luas, tapi sungguh menarik asyik utk disimak, jadi terpaksa di-cicil biar nikmat membacanya, tdk euneuk membosankan, Romo (artinya Bapak Yg ter-Hormat) silahkan saja kl mau komen disini agar lbh nyata…tukar pendapat, bukan tukar pikiran krn ga mungkin pikiran bisa di-tukar, saling memberi dan menerima kan bgs …hehehehe…

Yg jelas Endingnya pasti Liyer alias Gelo2an Sempoyongan, siap2 aja… hehehe…    

Natali, pendapat/pandangan anda Idealnya benar secara Teori, cuma yg jadi masalah ialah bahwa Justru sdh banyak Agama di dunia malah makin Kacau, Perang Semakin Seru bahkan antar sesama Umat Agamanya sendiri dg segala cara dilakukan. Saat ini yg di-Takutkan oleh para Pemimpin Dunia adalah Perang Nuklir. Hebatnya lagi dilakukan oleh mereka yg Taat ber-Agama yg me-Nyembah Tuhan Allah, Aneh kan… tapi Nyata ada.


Natali cobalah teliti dg hati2 dg Perspektif Realita yg Luas Nyata dlm kehidupan di masyarakat baik di Indon, maupun di dunia, jng gunakan kacamata pribadi anda, jadi sempit hasilnya...Dg cara Perspektif Realita yg Luas Nyata maka anda akan terkejut menyaksikan orang2 ber-Agama tapi terjerumus ke Jurang ke-Biadaban (Pembantaian manusia), sebagian terperosok ke-cara2 Prilaku mirip Hewan (Koruptor). Alasannya, kedudukan sdh tinggi, gajih lbh dari cukup, Tunjangan berlimpah, Rumah Mewah dan Megah, Uang banyak, Hidup diatas rata orang biasa, tapi tetap msh Korupsi...lalu Orang2 Koruptor macam ini mau dibilang apa lagi...?


Analoginya: Agama blh disamakan seperti Aturan Hukum yg ada di Pemerintah bagi para Pejabat Pemerintah, Aturan Hukum yg sdh dg susah payah dibuat, dan makan biaya/uang banyak dan mahal. Namun, faktanya…? Tetap saja banyak para Pejabat Korupsi dsb…yg diartikan Koruptor melanggar Aturan Hukum yg sdh dibuat oleh mereka sendiri…ini Lucu kan tapi Nyata ada...

Bahkan saat ini ada berita Kaget (detik.com): Koruptor saat ini sdh tdk takut lagi “Masuk Neraka dan Masuk Penjara”, Buktinya banyak Koruptor dg Pura2 Sakit, ada yg Pura2 Nangis dg Air Mata Buaya…Ajaibnya para Koruptor ini Taat Agama Sembahyang Getol me-Nyembah Tuhan Allah dari Subuh-Siang smpe Malam, Malah sdh Cium Batu Hitam 3X jadi Haji pake Jilbab…Hebat kan hahahaha…Mengapa ini bisa terjadi…?

Padahal, para Seniman, Kritikus, Koran, TV, Radio dsb sering membahas soal KORUPSI dan KORUPTOR yg akibatnya amat mengerikan krn bisa menghancurkan Negara dan Bangsanya sendiri, Korupsi bisa menyengsarakan Rakyat, Korupsi bisa menghancurkan Masa Depan Bangsanya sendiri, dst….  Tapi buktinya Korupsi tetap me-Raja Lela…

Jadi, upaya kita paling tdk kita hrs mencegah Generasi Mudanya utk tdk ter-Pancing ikut2an oleh Ulah mereka yg sdh Gelo kan. Caranya kita coba terus me-Nyuarakan Ajaran2 (Agama) yg Sesuai Akal Sehat, agar mereka bebas ber-Agama namun hrs Gunakan Akal Sehat dlm arti yg lbh Kongkrit ialah ke-Cerdasan (Bijak). Inilah alasan2 tulisan ini terus berkelanjutan hingga Tuntas…Abis…bis…bis…bis…


Namo Buddhaya...yang lebih ngeri lagi bhante sekarang banyak orang yang merasa lebih tinggi dari Sang Guru Agung,sehingga dhamma dimodifikasi sesuai keinginannya.


Agamanya memang benar tapi orangnya itu yg salah dalam menerapkan agamanya. Dikirain orang beragama tapi kelakuannya menyimpang dari agama itu sendiri.


Namo Buddhaya Temen2 Yg Budiman trims atas komennya yg bgs dan berguna.

Sdr.Sudiyanto H trims, pendapat/pandangan anda cukup simpel dan sederhana ambil mudahnya memang begitu. Namun ada banyak bukti yg umatnya taat dan patuh terhadap Agamanya, Justru sering terjadi Kerusuhan, Pengrusakan, Pembakaran Mesjid antar sesama Umat Agamanya misalnya Kasus Ahmadiyah di Indon…

Contoh lainnya; Bom Bunuh Diri utamanya di Timur Tengah, Indon juga termasuk, hasilnya tetap, menelan banyak korban tdk bersalah, menurut mereka yg melakukan Tindakan itu krn tertulis dlm kitab sucinya, dan sdh di Izinkan malah dpt Pahala pasti msk Surga. Itu baru dua contoh Bukti sedikit saja, padahal msh ber-ribu2 contoh lainnya.

Jadi, kalau di Telisik dg kaca mata yg Benar2 Asli, ini pasti ada sesuatu yg Keliru dlm Ajarannya sendiri yg diikuti/ di-Amini oleh Umatnya, hingga Efeknya menimbulkan banyak ke-Kisruhan, Kacau Balau dlm lingkup hidup manusia di seluruh dunia, sebab agama tsb di-Anut di seluruh dunia.

Sdr.Harijono AH, iya benar, bhante agak tersungging dikit krn merasa badan Gemuk jadi mau ketawa ikut2an Patungnya yg Besar lagi Tertawa ada di Cemara Asri Medan…hehehe…singkatnya sebab orang china itu sukanya duit dan maunya kaya raya, banyak Hoki katanya, jadi Ngarang lah bikin Patungnya yg Mirip Orang banyak Duit banyak Rejeki…ya…hasilnya Patung Gendut Tertawa Renyah lah…Biyauw-Kin lah…biar Rame aja…Inilah contoh kacaunya dlm lingkup Umat Buddha saat ini, cuma dlm taraf msh bisa ditoleransi lah... Kalau di Telisik dg Kaca Mata yg Benar2 Asli hal itupun sdh Keluar dari “PAKEM” ajaran Buddha yg Asli Ortodok.

Yah pokoknya Liyer lah… Maaf yah kl salah, jd kita ini termasuk Keppo juga...


Wawancara imajiner ini (sudah berlangsung lama) yang menggambarkan pandangan dunia sains dengan yang merasa " ber-agama".Sebetulnya mereka sedang mencari pemahaman dari " perbedaan menjadi persamaan " kearah Satu adanya.Dua-duanya menyadari bahwa - Ia yang tak terwujud, sedang wujud Nya tak tergambarkan, karena pikiran tak mampu mencapai Nya dan kata-kata tak dapat menerangkan Nya. Mereka memahami - kata-kata hanyalah produk pikiran hingga tak dapat digunakan untuk menggambarkan kebenarn Nya.


Mereka menyebut hakekat yang transenden - sukar dipahami, diluar pengertian dan pengalaman manusia biasa.Mereka pun menyadari bahwa - Agama adalah sesuatu yang bersifat sangat individu, dalam pengertain setiap orang harus menjalaninya sendiri.


Dunia sains dan yang mengaku "ber-agama' sama-sama memaklumi bahwa ada " sesuatu yang di luar jangkauan mereka ". Agama adalah berkah dan Agama adalah rahmat bagi seluruh alam.


MASALAHNYA adalah apakah kita semua sudah "agamis' bukan sekedar mempunyai agama. Agama adalah laku. " Jadilah Lembah " kata Lao Tze " rendahkan dirimu, dan kau akan menjadi subur....Air hujan akan menggenang, kau dapat menampungnya" Dan kemudian , agama pun betul betul menjadi Rahmat bagi Alam semesta.Agama manapun merupakan jalan, dan setiap jalan menuju yang satu dan sama. Ada yang menyebut Allah, Bapa di Surga, Tao, Buddha, Satnaam, Ahura Mazda, Hyang Widhi, Gusti - apa saja - Ia Satu dan Sama-.



Romo Soegeng Soediro S, trims atas komennya bgs sekali bhante salut iya benar. Memang sdh lama artikel ini tapi isinya menarik utk disimak dan membuka wawasan kita. Utamanya bagi Gerenasi Muda yg sedang belajar mencari Kebenaran terlalu Fanatik dan mempersoalkan tentang Tuhan Allah.


Mohon maaf tulisan ini (Status di-atas) bukan untuk men-Diskriditkan atau me-Lecehkan ajaran Agama-apapun yang anda Anut. Namun, tujuan mulia dari tulisan ini untuk membuka Wawasan anda dengan Benar, dan menempatkan apa yang Benar pada Posisinya yang Benar, kira2 demikian.

Tapi, jng salah paham krn ada Doa yg Istimewa yaitu; “Tradisi Doanya Masyarakat Tibet yg Hebat”, krn mampu Menyadarkan dan Menyejukkan Hati Sanubari dan boleh jadi mampu memberi Inspirasi bagi anda yg benar2 Yakin kpd Dharma ajaran Buddha…

Next On…belajar sabar yah…sebab banyak Orang hanya mau tau aja… Giliran Praktik tdk mau…jd hrs Pelan2… se-Tahap demi se-Tahap…sambil cari Info dulu yah … 

Semoga berguna utk menambah Pengetahuan Dharma dan buka Wawasan, mohon maaf kalau tdk berkenan dihati anda.




Teman2 trims atas dedikasi dan komennya yang berguna. Karma baik ini kita limpahkan kepada para Guru Dharma, para Leluhur d Ortu yg msh hidup atau yg sdh meninggal dan semua makhluk yang telah meninggal semoga mereka dapat menerimanya dan ikut berbahagia, sadhu.
Sabbe satta bhawantu sukhitatta.
Semoga semua makhluk hidup berbahagia.
Penyusun Ven.Sudhammacaro.




Comments

Popular posts from this blog

HUBUNGAN ANTAR SHIO JANGAN SALAH MEMILIH JODOH

" NAMA-NAMA BUDDHIS "

“ Fangshen cara membayar Hutang Karma Buruk dengan cepat dan Instan “