Fenomena Dhamma

Saturday, July 16, 2011

“ SUAMI SUKA MENYAKITI HATI DAN MEMUKUL, APA BAIKNYA CERAI SAJA? “

DISKUSI DHARMA FACEBOOK.

Diskusi Dharma; Tanya: Bhante, gimna menghadapi orang yang sering menyakiti kita baik dengan kata2 maupun perbuatan sedangkan utuk menghindarinya tak mungkin karena orang tsb adalah suami sendiri. saya menganggap ini semua karma yang harus saya terima apakah saya harus pasrah menerima ini semua? seandainya saya bercerai apakah akan menimbulkan karma baru, mengingat anak2 masih kecil. Teman2 tolong kasih koment yang benar dan berguna, sadhu.

Teman2 anggaplah yang minta saran atau komen adalah saudara, adik atau kakak anda yang dalam keadaan RT seperti itu, kira2 apa yang anda harus lakukan atau sumbang saran kepada mereka. Sebab orang RT seperti ini banyak dan beraneka macam problemnya, dari yang ringan hingga yang berat. Mereka tertarik hidup RT tapi terjebak dengan perbedaan pendapat,

salah paham, mudah tersinggung, cepat emosi, mau menang sendiri. Mereka tidak siap Mental dari Awal, begitu selisih pendapat RIBUT bukan menyelesaikan Masalah tapi NAMBAH MASALAH, jadi MAKIN RUMIT. Parahnya ada yang sampai Rebutan Suami/ Istri, rebutan Harta, rebutan Anak, dsb.

Namo Buddhaya, Mungkin ini pembelajaran buat kita semua, termasuk juga untuk anak-anak dari penanya. Bahwa untuk berumah tangga haruslah berhati-hati, mulailah dari pacaran, pada saat pacaran bukan bersenang-senang, tapi memperhatikan sifat dan prilaku pacar, kemudian mencari tau alasan dia berumah tangga.

Kalau tidak berhati-hati, akan jadi malapetaka. Banyak orang yang memilih cara, sebelum memiliki pacar, mereka mulai dengan banyak melakukan kebajikan, selama pacaran ditingkatkan lagi kebaikan, semoga ketemu jodoh yang baik.

Bila semua usaha yang baik telah dilakukan dan tetap ketemu jodoh yang kurang baik, barulah boleh mengatakan itu adalah buah karma buruk. Lalu dengan kondisi sekarang bagaimana ? Kalau ada yg ingin memukul kita, lalu kita diam dan kita biarkan dia memukul, terus pasrah. Ini nggak benar, ini bukan buah karma buruk, tetapi tindakan yang menyakiti diri sendiri(Kalau celaka, siapa yang akan mengurus anak)..

Kalau memang dia memukul dan kamu tidak bisa menghindar, ajak anak kamu untuk tinggal di rumah orang tua kamu atau orang tua suami, sehingga dia mungkin nggak berani mukul, sambil bicara ke suami bahwa kamu tidak mau disakiti, kalau perlu bilang pada orang tua untuk menasehati. Selain itu, seuai dengan saran rekan-rekan diatas, cobalah berbuat baik, tidak membenci lalu baca paritta sesuai yg disarankan rekan-rekan diatas.

Kalau masih tidak mempan juga, tidak bercerai, tapi kamu pindah ke rumah orang tua kamu, dan terakhir kalau memang semua cara telah ditempuh dan hasilnya tidak ada. Maka kamu dapat lakukan, tetap tinggal dirumah orang tua kamu sampai dia sadar. Demikian menurut saya secara pribadi, mohon koreksi Bhante bila ada yang tidak tepat dan salah. Semoga kita semua berbahagia, sebahagia semua mahluk yang meperoleh kebahagiaan karena menjalankan Dhamma. Sadhu 3x

Teman2 trims atas dedikasi dan komennya yang berguna.

Tidak menjamin masa pacaran bisa melihat seseorang itu baik atau tidak... krn pd masa pacaran biasanya belum ada masalah yg macam2 seperti sudah menjadi keluarga. Justru timbul masalah jika sudah berkeluarga.. "Mengapa ?" krn pd saat pacaran belum ada banyak urusan yg melibatkan kedua belah keluarga dan anak2.. Walaupun tidak semua yg sudah ber RT mengalami hal tsb.. Biasanya hal seperti ini terjadi krn tekanan berat yg diterima oleh seseorang dan pelampiasannya pd pasangan hidupnya..

Jika kita seorang Budhis, sudah pasti kita mengerti akan "karma perbuatan dan hutang karma dan jodoh karma".. Dan hukum sebab akibat tidak dapat dihindari... Cobalah untuk mengoreksi diri sendiri dulu sebelum menyalahkan orang lain atau pasangan hidup kita... Apakah kita sudah benar ? dan hanya diri sendirilah yg dapat menangani masalahnya sendiri...

baik didlm keluarga maupun antara suami n istri.. Pihak keluarga lebih baik jangan ikut terlibat krn tidak baik.. biarlah mereka menyelesaikan masalah RT nya sendiri krn masalah2 lain masih banyak dlm hidup ber RT.. biarlah mereka bisa mandiri dan jangan bergantung pd uluran tangan orang lain walaupun orang tua sekalipun..

Kasian juga kalau sampai membawa bawa urusan RT kita pada orang tua. Mereka orang tua kita juga akan ikut sedih.. walaupun tidak dilibatkan sekalipun mereka sudah mengerti dan sedih. Saran saya : rubahlah sikap dan sifat kita yang dapat menimbulkan pertengkaran dalam RT antara suami dn istri. Pelajarilah apa sebenarnya yg sudah terjadi dlm RT..dan lakukanlah yg terbaik untuk pasangan hidup kita... sedikit demi sedikit niscaya akan menimbulkan kebaikan dlm RT kita... OK


1. sy pernah dengar cerita suami sgt jahat(suka memukuldan mencacimaki istrinya) dan istri tsb ada yg memberitahu supaya membaca parita karaniyamettasutta sambil mengirimkan pancaran metta/cintakasih kepada suami jahat tsb ..bbrp lama kemudian..sang suami perangainya berubah...mjd suami yg lbh bersikap baik kpd istrinya, lalu ada pula seorg bpk berseteru dg adik bosnya...sampai mau dipecat dan diapun membaca parita tsb tak hentinya sambil membayangkan wajah bosnya...tak lama dia bukannya dipecat tp malah dpt hp baru...ini kisah nyata loh...percaya atau tdk buktikan sendiri...


2. Namo Buddhaya Bhante, untuk menyikapinya adalah dengan mengubah diri kita dulu, mari kita intropeksi diri selama ini apakah kita juga sudah berlaku baik dgn pasangan hidup kita. Mengapa hrs menunggu, mengapa bukan kita yg memulai dgn perlakuan yg lebih baik, mudah2an akan membuahkan perubahan. Selain itu juga bisa menerapkan meditasi cinta kasih...


3. Pasrah!!!Itu sama saja dgn menyia2kan kehidupan.Kalau mank ini karma buruk kita knp gak diterima n dijalani saja dgn senang hati.Anggap aj menjalani hukuman.(Kan karma ini akibat perbuatan kita sendiri).Apalagi sdh sampai mempunyai anak.(Kasihan anak kita ntar jd anak yg tdk mempunyai kehidupan yg baik tanpa org tua).Y kalau suami kita memperlakukan kita dgn tdk baik.Mk drpd pasrah kan kita bs utk memilih memperlakukan suami kita sebaik mgkn.

(Bgmnpun suami kita itu adlh manusia.N seberapa jahat seorg manusia dia tetap akan mempunyai hati nurani.Jd suatu saat dia pasti akan sadar dgn semua perbuatannya.).N kalau itu terjadi bukankah itu berarti karma buruk kita berubah menjadi karma baik.N disamping itu lakukanlah kebajikan...(Krn kebajikan pasti akan berbuah karma baik...).Intinya:Jgn mudah menyerah!!! Terlahir sbg manusia adalah berkah utama.Jd jgn membls kebencian dgn kebencian.Itu gak akan ada akhirnya.Ini adalah hidup kita jd kitalah TUAN-nya.Jgn hny Pasrah!!!)



4. Namaste, Bhante. Just Share. Semua kebahagiaan berawal dari pikiran.Sblm kt "menuding" org laen, hendaknya kt "bercermin". mgkn kt sndri yg tlah menyebabkan kekurang harmonisan di dlm keluarga. Ingat, di dalam agam Buddha bukan larangan utk bercerai, namun ini adalah final choice. Pilihan terakhir. Sblm hal itu diambil, hendaknya kita cari pilihan dan solusi lain, mgkn dg berubah, lbh perhatian, mengerti dan menyayangi pasangan kita.


5. Namo omitofo bhante, Ada sedikit saran dari saya:
1.Kesabaran ; kita jadikan suami kt guru kesabaran , krn kesabaran tidak bisa meminta kpd org atau dewa dewi
2.Cinta Kasih; sebarkan cinta kasih seluas mungkin, karma baik akan kita dapatkan untuk sekarang atau akan Datang
3.Berusaha memaafkan; perbuatan suami dan perbuatan kita sendiri, krn kita selalu dalam menjalani kehidupan ini tidak bersikap positif
4.Karma; ini kita harus terima, krn perbuatan kita dahulu, mungkin sdh mulai berbuah/perubahan akan datang berbeda dengan pikiran kita.
5. Anak dan Suami; jadikan anak kita tetap mempunyai seorang ibu yg sangat baik, dan istri yg baik
Hindarilah perceraian karena anak masih membutuhkan seorang ibu yang baik
6.Carilah kedamai Hati; dengan pergi ke vihara, meditasi, dan cari teman, dan yang utama berusaha lah bercerita kepada org yg kamu percaya
Hanya itu Bhante, Namo omitofo.


6. Namo Buddhaya Bhante, Ijin berbagi pendapat. Hal Utama yang harus dijalankan, benar kata teman teman di atas, yaitu melihat pribadi diri & pembacaan paritta. Sebab dengan keyakinan kita terhadap paritta yang dibacakan serta manfaatnya (Karaniya Metta Sutta) akan terpancar kasih sayang pada diri yang membaca n lingkungannya. Jika memang tidak berhasil juga, n pasangan hidup walaupun sudah diarahkan untuk berubah baik tidak bisa juga.

Maka jalan terakhir adalah menempuh hidup masing masing. Untuk perbuatan fisik/memukul sungguh perbuatan yang tidak bisa ditolerir/tidak jantan. Hewan saja tidak untuk disakiti apalagi terhadap orang orang terkasih.

MENCARI SEBAB N SOLUSI PERTENGKARAN DENGAN WAKTU N KEADAAN YANG TEPAT. akan lebih baik jika didampingi oleh yang dianggap sebagai panutan/bijaksana oleh kedua belah pihak. Semoga kita semua tetap tersadarkan untuk menjalani hidup ini seperti yang telah diajarkan oleh Guru Besar Kita.Terima Kasih Bhante. Saddhu, Saddhu, Saddhu....


7. Kehidupan rumah tangga demikian adalah hal yg dirasakan hampir 90 persen perumah tangga. Kita berusa mengubah kekurangan kita dan menerima kekurangan dia itu akan lebih baik dari pada bercerai.


8. bhante dan teman2 mohon ijin sumbang suara karena terlanjur lihat, mungkin menurut sy tergantung level parah atw ngga nya tabiat pasangan kita, sy kurang se7 kalau tingkat parah keburukan seseo pasangan yg buruk harus berdampingan sampai mati dgn yg di tindas, kalau begitu adanya sy menyarankan jgn sungkan sungkan bercerai, kebahagiaan adalah nomer 1,

kalau dgn pasangan skrg tdk berjodoh baik, diliar sana msh menunggu yg lebih dan bahkan jauh lebih baik... (sabbe satta bhavantu sukkhitatta : semoga semua makhluk berbahagia -> bagi yg blm tercerahakan semoga tercerahkan, bagi yg bertabiat buruk semoga lekas berubah, dan termasuk sy didalamnya..sadhu3x)


9. Bacalah kembali sutta-sutta yg mengandung nasehat untuk melepas kebencian dan rangkumlah, shg mudah diingat dan dilihat jika suatu saat kebencian muncul dalam batin. Berlatihlah menyempurnakan 5 sila, karena dgn dmikian akan membantu menentramkan batin. Tumbuhkan tekad melepas belenggu kebencian, karena kebencian termasuk dalam 5 belenggu yg menghalangi batin.

Rajin-rajinlah memeditasikan welas asih, dan jadikan meditasi welas asih sbg fokus utama dlm bermeditasi. Ingatlah bhwa meditasi bukan hanya ketika duduk saja tetapi ketika Anda berinteraksi thd suamipun Anda mesti rajin-rajin memperhatikan dan menyadari reaksi batin, apakah ketika berinteraksi dgn suami muncul kebencian dalam batin, SADARILAH ketika munculnya (mengenai meditasi yg benar thd kemunculan reaksi-reaksi batin yg muncul carilah informasi baik dgn membaca ataupun bertanya, bgaimana cara yg benar dalam menghadapi reaksi-reaksi batin).

Tumbuhkanlah Kesabaran, kerendahan hati, Perhatikan MOTIVASI yg mendasari kenapa saya mesti bersikap baik dan sabar thd suami, perhatikanlah agar tiada dicemari 8 belenggu dunia : pujian dan cacian, dll. (Digha Nikaya, Dasuttara sutta) Motivasi mesti tulus (tidak berpura-pura, sejalan dgn kejujuran pikiran). Dmikianlah saya mencoba membantu mesti saya menyadari hal yg Anda hadapi mungkin pula akan sulit untuk saya hadapi, tapi saya berharap semoga dpt memberi manfaat.


10. Namo Buddhaya,.Bhante.menurut sy menghadapi suami seperti itu kita harus sabar,jgn dilawan.karna kebencian tdk bisa dibalas dgn kebencian tak akan ada habisnya.nti klo hutang karma kita lunas dia akan sadar.,yg perlu kita lakukan berlatih meditasi agar kita dpt melewati masa2 itu dgn sabar dan sadar.terima kasih..


11. ada akibat pasti ada sebabny. apakah anda sudah memenuhi kewajiban seorang istri dgn baik & bijaksana? tp kl suami memank hoby mukul, ya lebih baik cerai aja.


12. waduh rumit itu mah.. sngguh2 sulit ngejlininya..


13. NAMO BUDDHAYA BHANTE, SEDIKIT SARAN SAYA : 1.masalah bkn utk dihindari/ditakuti TAPI dihadapi dan diselesaikan. 2.kita tdk dapat merubah dunia, keluarga, suami, saudara dll. tapi rubahlah diri kita MAKA org disekitar kita akan berubah . 3.kesabaran bukan berarti terima nasib ini namanya bodoh .nasib bkn pemberian yg diatas .nasib dpt dirubah asal kita mengetahui cara utk merubahnya.BANYAKLAH MEDITASI DAN MEMBACA PARITA AGAR PIKIRAN MENJADI JERNIH DAN CERAH.


14. karma buruk tdk harus dibalas dengan perbuatan yang buruk agar penderitaan kita tdk terus berlanjut. pahami karakter suami, dengarkan kemauannya seperti apa baru kita tanggapi dengan bijaksana. tdk perlu sakit hati, semuanya pasti berlalu. semua orang hidup mempunyai masalah. tergantung bagaimana kt menyikapi. perceraian bukan keputusan yang baik, karena akan banyak orang disekitar kita yg akan jd korbannya...anak...ortu...sabbe sata bhavantu sukki tatta


Teman2 trims atas dedikasi dan komennya yang berguna. Karma baik ini kita limpahkan kepada para Guru Dharma, para Leluhur d Ortu yg msh hidup atau yg sdh meninggal dan semua makhluk yang telah meninggal semoga mereka dapat menerimanya dan ikut berbahagia, sadhu.
Sabbe satta bhawantu sukhitatta.
Semoga semua makhluk hidup berbahagia.
Penyusun. Ven. Sudhammacaro.

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home