" Sejarah Tipitaka (Kitab Agama Buddha) "


PENDAHULUAN.

Sudah menjadi ketentuan umum bahwa yang menjadi Buku Agama Buddha adalah Tipitaka. Demikian juga halnya di Indonesia. Hal itu telah ditetapkan dalam kongres umat Buddha Indonesia di Yogyakarta tahun 1979 yang pada waktu itu dihadiri tujuh majelis Agama Buddha dan Sanggha-Sanggha dari aliran Theravãda dan Mahayana ataupun aliran Theravãda yang berbaur dengan Mahayana. Buku Agama Buddha (Tipitaka) yang lengkap hanyalah yang berbahasa Pali (bahasa yang dipergunakan oleh Buddha Gotama dan oleh rakyat jelata suku Magadha).

 Buku Tipitaka dikenal sebagai Kanon Pali (Pali Canon). Buku Agama Buddha yang paling tua, yang diketahui hingga sekarang, tertulis dalam Bahasa Pali, yang terbagi dalam tiga kelompok besar (yang disebut sebagai "pitaka" atau "keranjang") yaitu: Vinaya PitakaSutta Pitaka, dan Abhidhamma Pitaka. Karena terdiri dari tiga kelompok tersebut, maka Buku Agama Buddha dinamakan Tipitaka (Pali).

 Selain yang berbahasa Pali (Tipitaka), ada juga Buku Agama Buddha yang menggunakan Bahasa Sansekerta, yaitu yang disebut Tripitaka, tetapi di antara kedua versi Pali dan Sansekerta itu pada dewasa ini hanya Buku Tipitaka (Pali) yang masih terpelihara secara lengkap, dan Tipitaka (Pali) / Pali Canon ini pulalah yang merupakan Buku bagi Agama Buddha mazhab Theravãda.

 SEJARAH TIPITAKA (ringkasan)
Setelah Buddha Gotama parinibbana (543 SM), tiga bulan kemudian diadakan Sidang Agung Sanggha (Sanggha Samaya). Sanggha artinya Kumpulan/ Komunitas para Bhikkhu.

 SIDANG AGUNG I (KONSILI I)
  • Diadakan pada tahun 543 SM (3 bulan setelah bulan Mei), berlangsung selama 2 bulan.
  • Dipimpin oleh YA.Maha Kassapa dan dihadiri oleh 500 orang Bhikkhu yang semuanya Arahat.
  • Sidang diadakan di Goa Satapani di kota Rajagaha.
  • Sponsor sidang agung ini adalah Raja Ajatasatu.

Tujuan Sidang:
  • Menghimpun Ajaran Buddha Gotama yang diajarkan kepada orang yang berlainan, di tempat yang berlainan dan dalam waktu yang berlainan.
  • Mengulang Dhamma dan Vinaya agar Ajaran Buddha Gotama tetap murni, kuat, melebihi ajaran-ajaran lainnya. Y.A. Upali mengulang Vinaya dan Y.A. Ananda mengulang Dhamma.

Kesimpulan/Hasil Konsili I: 
  • Sanggha tidak akan menetapkan hal-hal mana yang perlu dihapus dan hal-hal mana yang harus dilaksanakan, juga tidak akan menambah apa-apa yang telah ada.
  • Mengadili Y.A. Ananda
  • Mengucilkan Chana
  • Agama Buddha masih utuh.

SIDANG AGUNG II (KONSILI II) 
  • Diadakan pada tahun 443 SM (100 tahun sesudah yang I), berlangsung selama 4 bulan.
  • Dipimpin oleh YA. Revata dan dibantu oleh YA. Yasa serta dihadiri oleh 700 Bhikkhu.
  • Sidang diadakan di Vesali.
  • Sponsor sidang agung ini adalah Raja Kalasoka.

Tujuan Sidang:
  • Sekelompok Bhikkhu Sanggha (Mahasanghika) menghendaki untuk memperlunak Vinaya yang sangat keras (tetapi gagal).

Kesimpulan/Hasil Konsili II:
  • Kesalahan-kesalahan Bhikkhu-Bhikkhu dari suku Vajjis yang melangggar pacittiya dibicarakan, diakui bahwa mereka telah melanggar Vinaya dan 700 Bhikkhu yang hadir menyatakan setuju.
  • Pengulangan Vinaya dan Dhamma, yang dikenal dengan nama "Satta Sati" atau "Yasathera Sanghiti" karena Bhikkhu Yasa dianggap berjasa dalam bidang pemurnian Vinaya.

SIDANG AGUNG III (KONSILI III)
  • Diadakan pada tahun +/- 313 SM (230 tahun setelah sidang I).
  • Dipimpin oleh Y.A. Tissa Moggaliputta.
  • Sidang diadakan di Pataliputta.
  • Sponsor Sidang Agung ini adalah Raja Asoka dari Suku Mauriya.

Tujuan Sidang:
  • Menertibkan perbedaan pendapat yang mengaktifkan perpecahan Sanggha.
  • Memeriksa dan menyempurnakan Buku Pali (memurnikan Ajaran Buddha Gotama).
  • Raja Asoka meminta agar para Bhikkhu mengadakan upacara Uposatha setiap bulan, agar Bhikkhu Sanggha bersih dari oknum-oknum yang bermaksud tidak baik.

Kesimpulan / Hasil Konsili III:
  • Menghukum Bhikkhu-Bhikkhu selebor.
  • Ajaran Abhidhamma diulang tersendiri oleh Y.A. Maha Kassapa, sehingga lengkaplah pengertian Tipitaka (Vinaya,Sutta, dan Abhidhamma). Jadi pengertian Tipitaka mulai lengkap (timbul) pada Konsili III.
  • Y.A. Tissa memilih 10.000 orang Bhikkhu Sanggha yang benar-benar telah memahami Ajaran Buddha Gotama untuk menghimpun Ajaran tersebut menjadi Tipitaka dan perhimpunan tersebut berlangsung selama 9 bulan.

Keterangan:
  • Pada saat itu Sanggha sudah terpecah dua, yaitu : Theravãda (Sthaviravada) dan Mahasanghika.
  • Sementara itu ada ahli sejarah yang mengatakan bahwa pada Konsili III ini bukan merupakan konsili umum, tetapi hanya merupakan suatu konsili yang diadakan oleh Sthaviravada.

SIDANG AGUNG IV (KONSILI IV)
  • Diadakan pada masa pemerintahan Raja Vattagamani Abhaya (tahun 101 - 77 SM).
  • Dipimpin oleh Y.A. Rakhita Mahathera dan dihadiri oleh +/- 500 Bhikkhu.
  • Sidang diadakan di Alu Vihara (Aloka Vihara) di Desa Matale.

Tujuan Sidang:
  • Mencari penyelesaian karena melihat terjadinya kemungkinan-kemungkinan yang mengancam Ajaran-ajaran dan kebudayaan-kebudayaan Agama Buddha oleh pihak-pihak lain.

Kesimpulan / Hasil Konsili IV:
  • Mengulang Tipitaka.
  • Menyempurnakan komentar Tipitaka.
  • Menuliskan Tipitaka dan komentarnya di atas daun lontar.

Keterangan:       
Konsili ini diakui sebagai konsili yang ke IV oleh sekte Theravãda.



Comments

Popular posts from this blog

HUBUNGAN ANTAR SHIO JANGAN SALAH MEMILIH JODOH

" NAMA-NAMA BUDDHIS "

“ Fangshen cara membayar Hutang Karma Buruk dengan cepat dan Instan “