SELAMAT TAHUN BARU IMLEK 2560 / 2009

GONG XI FA CAI
SELAMAT TAHUN BARU IMLEK 2560 / 2009
SHIO KERBAU / TAHUN KERBAU

" HARAP-HARAP CEMAS "

oleh bhikkhu Sudhammacaro


Pertahankan Budaya Leluhur China

Leluhur orang China memiliki budaya menghormati orang tua atau orang yang lebih tua. Tradisi ini telah dikenal sejak zaman Kong Fu Zu masih hidup. Kong Fu Zu mengajarkan tentang “Berbakti pada Orang Tua”, yang hingga kini masih tetap utuh dipelihara turun-temurun. Kalau kita baca buku pelajaran tentang 'berbakti' dari guru kebudayaan timur Kong Fu Zu ini, kita akan mendapatkah pelajaran amat menarik, menggairahkan rasa persaudaraan dan keharmonisan dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat. Titik sentral adalah Kong Fu Zu yang selalu mengajarkan dan menekankan rasa hormat terhadap siapapun terlebih kepada orang yang lebih tua. Selain itu, Beliau lebih mengagungkan prilaku bermoral yang di dalam ajaran Buddha dikenal sebagai Sila atau moralitas. Bagi seorang perumah tangga Buddhis, ada 5 sila yang dipegang dalam mengarungi lika-liku kehidupan ini yaitu:

  1. Menghindari pembunuhan makhluk hidup.
  2. Menghindari pencurian.
  3. Menghindari perbuatan a-susila (zinah-selingkuh).
  4. Menghindari berbohong, menipu dan omong-kosong.
  5. Makan dan minum yang memabukkan.

Pada zaman Kong Fu Zu, dikisahkan bahwa ketika orangtua punya anak yang sudah saatnya mau masuk sekolah, orangtua akan membawa anaknya ke rumah guru sekolah terlebih dahulu untuk menyampaikan sujud dan hormat (bernamaskara-menyembah) kepada sang Guru sebelum anaknya diterima menjadi murid gurunya. Langkah ini dilakukan tentu ada maksudnya yaitu yang terpenting adalah agar anak tersebut benar-benar patuh dan taat kepada sang guru jika anak itu sudah mulai menerima pelajaran di sekolah. Jadi singkatnya, pada zaman Kong Fu Zu, murid-murid disekolah tidak ada yang berani melawan kepada gurunya baik waktu di sekolah maupun di luar sekolah. Sebaliknya, sang guru pun memiliki kepribadian ganda yakni sebagai guru pelajaran ilmu pengetahuan, dan sekaligus guru moralitas yang benar-benar memberi contoh suritauladan yang sopan-santun, ramah-tamah, penuh welas-asih dan sekaligus berwibawa. Inilah sebabnya tradisi ajaran Kong Fu Zu ini bisa bertahan sampai saat ini yang tak lekang oleh waktu dan zaman meskipun dunia kehidupan sudah di ternoda oleh budaya 'Barat' yang terkenal disebut 'individual-liberalistis'.

Kisah lain diceritakan, bahwa ketika orangtua mendengar anaknya dipukul oleh gurunya disekolah, maka orangtuanya datang ke sekolah untuk mengucapkan terimakasih kepada sang guru di sekolah yang memukul anaknya. Alasannya ialah bahwa bila guru disekolah sudah berani memukul anaknya hal itu berarti sang guru telah memberikan pendidikan yang sangat serius, dan benar. Pemikiran orangtua: bahwa sang guru mau memukul muridnya dengan tujuan mendidik secara disiplin yang benar, hal itu berarti guru bertanggung-jawab penuh atas pendidikan anaknya, tanpa ada alasan yang jelas tak mungkin sang guru berani memukul muridnya. Sungguh amat unik dan sangat terbalik bila kita bandingkan tradisi zaman Kong Fu Zu dengan saat ini, dimana zaman kini kita seringkali mendengar bahwa ada anak murid atau mahasiswa yang berani memukul gurunya atau dosennya sendiri hingga babak-belur.

Antar murid SMA atau mahasiswa saling terliba tawuran. Terlebih bila mendengar berita sadis di kampus IPDN Jatinangor Sumedang, hingga banyak murid menjadi korban mati sia-sia, atau cacat tubuh dan sakit seumur hidupnya. Belum lagi masalah hubungan seks bebas para murid dan mahasiswa hingga banyak yang dioborsi. Jika demikian apa menurut pendapat anda? Siapakah yang salah? Atau zaman sudah 'Super Gila', hingga tega-teganya murid berani menyerang gurunya sendiri hingga babak-belur. Barangkali bagi anda yang berpikiran maju menjawab : 'Oh, itu sudah karma gurunya kali, mana mungkin murid berani memukul gurunya sendiri hingga babak-belur tanpa ada alasan yang jelas, logikanya kan begitu”. Ya, benar juga, tapi kalau semua murid berlaku seperti itu, boleh jadi sapi, kerbau, ayam dan semua hewan akan menertawakan, sambil mengatakan: oh, ternyata manusia tak lebih baik dari kita (hewan), malah lebih sadis, he..he..he..he..

Kalau cerita ada anak murid atau mahasiswa memukul guru atau dosennya sendiri hingga babak-belur, itu sudah kerap kali terdengar dan terjadi, namun, ada lagi yang lebih tak masuk akal bila mendengar ada anak memukul orangtuanya sendiri hingga babak-belur, malah ada ampai dibunuh. Pasalnya sepele saja, anak minta uang pada orangtua untuk beli motor atau beli syabu-syabu, ganja atau narkotik, dan sebagainya, ketika orangtua menjawab kasar dan tak memberi uangnya, langsung si anak membawa golok besar mengancam dan memukulnya. Akhirnya kisah-kisah dramatis itu sepertinya sudah jadi santapan dan makanan keseharian di surat kabar nasional, dan tak pernah habis dan berakhir.


Pergantian Tahun

Setahun telah berlalu begitu cepat terasakan, padahal menurut ukuran waktu satu tahun itu cukup lama waktunya bagi seorang anak bayi yang baru lahir. Coba anda tanyakan kepada semua orangtua yang pernah punya anak bayi, sejak lahir, disusui oleh ibunya, dimandikan, dirawat, ditimang, hingga dibesarkan. Bila malam tiba semua sudah tidur lelap, sedang nikmat-nikmatnya orangtua tidur, tengah malam tiba-tiba si bayi bangun ngompol sambil menangis kelaparan minta menyusu. Sang Ibu dengan akan bangun memenuhi kewajibannya sebagai ibu untuk menyusui si bayi. Tapi katanya, ada pula sang ayah yang sayang pada anaknya waktu tengah malam bangun minta menyusu ibunya malas bangun, lalu sang ayah yang bangun menuang susu krim, di dalam botol susu, kemudian diberikan kepada si bayi, alih-alih menggantikan peran ibu. Memang menyusui atau merawat dan membesarkan anak sebenarnya adalah kewajiban kedua orangtua yaitu ayah-ibu, bukan hanya sang ibu, kenapa harus merasa riskan? Kan waktu perjanjian bikinnya bagaimana dulu? Jangan hanya enak mau bikinnya saja, tapi juga harus mau ikut bertanggung-jawab dalam mengurus anaknya sendiri termasuk menyusui dan segalanya. Maka itu, bagi para calon ibu rumah-tangga perlu diingatkan bahwa hidup berkeluarga itu bukan cukup bercinta doang, tapi harus berpikir ke hal-hal pelik seperti mengurus, merawat dan membesarkan anak juga penting untuk dibicarakan berdua dalam satu perjanjian bersama setia sampai mati.

Karena kesibukan yang amat padat, hingga waktu satu tahun itu terasa cepat sekali, ada sebagian orang mengatakan bahwa; dunia saat ini cepat sekali berputar, seakan berbeda dengan 20-30 tahun yang lalu. Menurut saya, bukan dunia atau globenya yang cepat berputar, namun pola pikir, pola hidup kita yang sudah bergeser jauh berbeda dengan zaman dulu, simpelnya kesibukan itulah yang membuat semua orang merasakan waktu itu cepat sekali berlalu. Jadi bukan dunianya yang cepat berputar.

Apa saja yang telah kita lakukan ditahun yang lalu? Bukalah memori kita dan lihatlah sejenak ke belakang. Semua prilaku dan pekerjaan yang baik dan berguna bagi orang banyak tentunya perlu dikembangkan dan ditingkatkan serta dilanjutkan. Sebaliknya, segala prilaku dan pekerjaan yang buruk merugikan orang banyak harus segera ditinggalkan dan dibuang jauh-jauh. Kita saat ini sudah memasuki tahun baru lagi, artinya bahwa, kita mesti berani merubah, memperbaiki dan memperbaharui prilaku dan pekerjaan kita untuk lebih baik, lebih berguna bagi orang banyak dan lebih perfek (sempurna). Itulah kira-kira 'makna' tahun baru Imlek saat ini yang penting kita renungkan bersama, agar dalam menjalankan roda kehidupan ini tidaklah sia-sia, tapi justru sangat bernilai lebih baik bagi diri sendiri maupun bagi orang banyak. Dalam pepatah mengatakan bahwa: 'Bila kamu memberi yang baik, berguna, membahagiakan orang lain maka sebagai akibat atau hasilnya pasti kamu memperoleh yang baik, berguna dan membahagiakan bagi dirimu sendiri'
Pepatah ini harus disimpan di dalam hati nurani yang amat dalam. Seperti halnya seekor induk ayam yang melindungi / memasukkan anaknya dan ditutupi sayapnya hingga rela berkorban nyawanya sendiri demi kebahagiaan anak-anaknya. Artinya, bahwa si induk ayam ini rela kedinginan, kehujanan, dan gangguan apa pun yang akan datang membinasakan anaknya, demi keselamatan dan kebahagiaan anaknya sendiri.


Harap-harap Cemas di Tahun Baru Imlek ini

Kita tahu di tahun lalu 2008 paras ekonomi kita belum begitu membaik, tanda-tanda kemajuan ekonomi kita pun tak nampak jelas, masih dibawah standar layak. Apalagi diakhir tahun 2008 yang sempat menggoncangkan sistem perbankan di seluruh dunia, karena tragedi kemacetan kridit perumahan di Amerika hingga efeknya ke Indonesia. Kalau kita mau melihat dan menilai satu negara, yang menjadi titik tolak adalah sistem perbankan. Sebab, dunia perbankan itu adalah fundamental ekonomi suatu negara dan bangsa di dunia. Karena itu, ketika di Amerika ribut dilanda krsisi finansial yang disebabkan kemacetan kredit perumahan, akhirnya para pakar ekonomi dan presiden serta para pejabatnya sangat sibuk mengupayakan dengan segala daya untuk menutup kekacauan dunia perbankan saat itu. Hingga kini yang masih menggantung sebagai bagian tugas baru Barack Obama yang terpilih sebagai presiden pengganti yang baru di tahun 2009 ini. Paket Stimulus Ekonomi Presiden baru Amerika Barack Obama belum ada tindakan nyata, baru sebatas angan-angan.

Kita semua berharap-harap tapi cemas menatap tahun baru 2009 dan tahun baru Imlek ini, mengingat roda ekonomi di seluruh dunia nampak lesu, macet, bahkan ada sebagian perusahaan besar seperti otomotif, elektronik dan lainnya, mulai sedikit-demi sedikit mengurangi produksi malah banyak yang karyawannya di rumahkan. Hal ini pertanda buruk bagi dunia ekonomi di dunia termasuk kita di Indonesia. Andaikata sampai akhir tahun 2009 dunia ekonomi masih suram dan belum nampak tanda-tanda pulih, berarti hal itu penduduk dunia telah memasuki masa 'Resesi Jilid ke-2”. Boleh jadi, kita perlu mencari jalan yang terbaik untuk dapat bertahan pada sikon yang baik, kalau bisa kita berjuang untuk dapat keluar dari sikon terburuk itu.


Mengubah 'Mind Set' dan 'Lifestyle'

Hidup di masa keadaan tenang, aman, dan ekonomi baik memang tak ada masalah, walaupun cara hidup kita bagaimanapun menjalankannya dengan segala kemampuannya yang ada. Namun, rupanya hidup ini tidak ada yang kekal (Anicca), selalu berubah, ada saatnya kita di atas, dan pada satu saat kadang kita harus terjun bebas ke bawah. Hidup ini memang sudah demikian adanya, maka para seniman menuliskan syairnya bahwa dunia kehidupan ini bagaikan panggung sandiwara, kita ini sebagai aktornya/ pemainnya. Sesuai dengan karakter aktor / pemain yang bertugas menjalankan perannya masing-masing, itulah kira-kira kehidupan kita. Jadi, bila kita merasa hidup ini tenang, aman-damai serta bahagia, itu pertanda kita berada di atas. Namun, ada saatnya kita mendengar dan merasakan hidup ini sedang mulai menukik ke bawah, itu artinya kita mulai turun ke bawah, berarti hal itu mengingatkan kita untuk menginjak pedal rem yang agak pelan dan sedikit demi sedikit, tapi juga harus penuh waspada dan siaga.

Artinya, kita tahu bahwa keadaan ekonomi dunia mulai suram, maka sebaiknya kita harus cepat putar haluan, yaitu berani merubah mind set dan lifestyle atau mengubah pola pikir dan gaya hidup kita. Dulu, boleh saja bersenang-senang dalam keadaan ekonomi lancar, pendapatan naik terus, tapi kini bukan saatnya lagi untuk bertahan cara seperti itu. Maka yang perlu dirubah ialah cara hidup dan cara berpikir, misalnya saat ini kita harus sedikit berhemat, jangan boros, dan berlagak aksi-aksian (ego) sepeeti dulu. Tujuannya, ialah untuk dapat bertahan dalam keadaan yang baik atau kalau bisa kita melewati masa suram ini dengan cara yang elegan. Itulah kira-kira makna tulisan ini yang ingin saya sampaikan dalam hal ini.


Sediakan Waktu untuk Sembahyang dan Meditasi

Kehidupan sepertinya bukan hanya makan dan minum lalu bersenang-senang untuk memuaskan tubuh jasmani saja. Namun, batin juga meronta-ronta minta dipuaskan sesuai dengan kebutuhannya. Alangkah baiknya, bila tiap orang bersedia meluangkan waktunya untuk beribadah, demi memberi makan dan minum batin kita. Hal itu juga kebutuhan batin kita dengan melakukan sembahyang tiap pagi dan malam diselingi latihan meditasi, rasanya tidak menghabiskan waktu lama, cukup satu jam saja. Mengapa banyak orang yang malas melakukan sembahyang dan meditasi? Padahal itu termasuk penting untuk ketenangan batin dan keseimbangan pikiran dan perasaan, agar batin kita terpenuhi kebutuhannya. Jadi, kalau hidup ini diisi dengan pekerjaan yang sibuk, tapi sekaligus mau mengupayakan melakukan sembaahyang dan meditasi, saya kira hidup anda akan lebih berguna dan secara perlahan menuju perfeksionis hidup atau hidup lebih sempurna. Demikianlah apa yang saya bisa sampaikan melalui tulisan ini, semoga memberikan cara pandang hidup yang bermanfaat, baik bagi diri sendiri maapun bagi orang banyak, dalam lingkup keluarga dan bermasyarakat pada umumnya.

Terimakasih atas perhatian anda yang telah menyimak artikel ini semoga berguna bagi anda semua.
Sabbe satta bhawantu sukhitatta.
Semoga semua makhluk hidup bahagia.
21 Januari 2009.
salam damai dan bahagia selalu.

Bhikkhu Sudhammacaro.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

" NAMA-NAMA BUDDHIS "

“大悲咒 | Ta Pei Cou (Mahakaruna Dharani) & UM-MANI-PAD-ME-HUM”

“ Fangshen cara membayar Hutang Karma Buruk dengan cepat dan Instan “