Fenomena Dhamma

Wednesday, November 08, 2006

Apa Tujuan Hidup Manusia?

FAKTA & REALITA
(Untuk kalangan sendiri)

Kehidupan Manusia.
Menurut Buddha, alam kehidupan di semesta alam ini ada 31 alam, yaitu: 26 alam Dewa, 1. alam Manusia, 1. alam Binatang (ada banyak jenis). 1. alam Peta (hantu kelaparan ada 37.jenis), 1. alam Asura (Raksasa-Yakkha). 1. alam Neraka (ada 8 jenis).
Manusia adalah salah satu makhluk yang terlahir di alam manusia yang dianggap lebih mulia dan lebih beruntung dibandingkan dengan kehidupan makhluk lainnya, dengan alasan bahwa di alam manusia memiliki banyak kesempatan untuk memilih mau jadi apa?
Istilahnya, di alam manusia ini kita ada peluang untuk memperbaiki diri, karena dengan adanya berbagai sarana pendukungnya dan lapangan untuk menanam jasa kebaikkan, agar dikemudian hari kelak dapat merubah kehidupannya bisa lebih baik hingga sempurna, seperti misalnya di alam manusia inilah para calon Buddha lahir, bukan di alam lainnya (alam Dewa). Demikian pula para Ariya Sanggha murid Buddha, juga termasuk kita asalkan mau dan rela dengan mengikuti dan melaksanakan Dhamma ajaran Buddha secara serius.
Sebaliknya, di alam manusia ini jugalah tersedia sarana pendukung untuk bisa terjerumus masuk ke jurang penderitaan yang lebih berat dan mengerikan, misalnya jika manusia banyak berbuat jahat seperti membunuh Ibu-Ayah, melukai Buddha (contoh Dewadatta), membunuh seorang Arahat, memecah belah Sanggha semua itu disebut Anantariyakamma (garuka karma-berat) yang jika dilakukan bisa masuk ke alam neraka Awici yang amat mengerikan dan tersiksa berjuta tahun lamanya.
Ada peribahasa mengatakan, gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belangnya, dan manusia mati hanya meninggalkan amal perbuatan dan kejahatannya, sebenarnya peribahasa ini mirip hukum karma atau hukum sebab akibat yang di ajarkan oleh Buddha, jika diuraikan lebih terperinci maksudnya kalau manusia ketika hidupnya banyak berbuat baik maka dia akan bahagia sampai mati namanya akan harum contohnya Buddha Gotama dan para siswanya, Mahatma Gandi, Ibunda Teresa.
Sebaliknya jika orang banyak berbuat jahat otomatis dia akan hidup menderita dicela, dihujat, diadili atau dihukum masuk dalam penjara atau di pukuli oleh banyak orang, hingga dia mati akan tetap menjadi sejarah yang kelam contoh Hitler, Presiden Marcos, sebenarnya Buddha mengajarkan peristiwa nyata, fakta dan realita kehidupan.
Simpelnya, hidup manusia itu ditentukan oleh dirinya sendiri bukan hanya dalam dunia ini saja, bahkan untuk selanjutnya setelah mati dia akan meneruskan perjalanannya, entah akan menjadi apa selanjutnya, semua itu tergantung dari amal perbuatan dan kejahatannya ketika dia masih hidup, jadi setiap tindakan apapun yang kita lakukan saat ini baik melalui pikiran, ucapan dan perbuatan jasmani akan menentukan kelak dikemudian hari mungkin diusia tua atau setelah mati nanti.
Karena itu, berhati-hatilah mulai saat ini jika saudara mau bertindak, sebab jika terpeleset boleh jadi masuk ke alam binatang, atau jadi hantu kelaparan, atau jadi yakkha raksasa, atau jatuh ke jurang Neraka disambut oleh bara api yang membara, atau kalau hoki bisa juga masuk ke alam Dewa yang penuh kebahagiaan, atau menjadi manusia lagi.
Ada banyak pilihan di 31 alam kehidupan selanjutnya, silahkan saudara pilih dan ambil sesuai dengan selera masing-masing, dan saat ini mulai memilihnya.

Kelahiran berulang-ulang (tumimbal-lahir)
Makhluk di alam semesta ini (31 alam) lahir-mati terus berpindah-pindah tanpa hentinya setelah masa hidupnya berakhir, sesuai dengan karmanya masing-masing, sebelum dia bisa mencapai tingkat kesucian Arahat atau menjadi Buddha, karena seorang Arahat atau Buddha secara teknis setelah meninggal tidak akan terlahirkan kembali di alam manapun, hal ini sudah hukum alamnya, maka jika makhluk atau orang itu belum mencapai Arahat atau Buddha maka dia akan terus menerus berputar dalam lingkaran setan kehidupan di 31 alam kehidupan.
Menurut Dhamma ajaran Buddha bahwa kelahiran di alam manusia ini adalah bukan semata-mata kebetulan atau tiba-tiba di ciptakan oleh makhluk agung apapun namanya, namun telah begitu sering dan banyak kali berputar di alam lainnya, bahkan berjuta kali, seperti dikatakan oleh Buddha bahwa jika saja tulangnya dikumpulkan dari sejak kelahiran yang berkali-kali maka bisa setinggi gunung Semeru, dan jika air matanya saja dikumpulkan bisa seluas air di lautan samudra, dengan contoh ini kita berkesimpulan bahwa sungguh sulit dimengerti oleh akal pikiran manusia, bahkan Buddha sendiri tidak berkomentar masalah awal mula manusia ini.
Namun, saya mencoba menganalisis sabda Buddha ini sebagai pembanding atau pembuktiannya yaitu kita dapat memperhatikan di dunia nyata saja seperti ketika nonton acara tv 7. Sang Pemangsa, atau acara discovery flora dan fauna, yang mengupas tentang kehidupan binatang di lautan berbagai jenis ikan yang saling memangsa begitu banyaknya hingga tak terhitung, kemanakah mereka setelah mati?
Demikian juga kehidupan binatang di darat berbagai jenis tak terhitung dan setiap jenisnya ada berapa banyak seperti contoh mudahnya saja yang dimakan oleh manusia ada berapa jumlahnya setiap harinya misalnya sapi, kerbau, kambing, ayam, ikan, hitung saja misalkan manusia di dunia ini ada 6,5 milyar, kalau setengahnya saja yang dimakan berbagai jenis binatang berarti 3,5 milyar binatang yang dikosumsi tapi anehnya setiap hari masih ada lagi, itulah sebabnya saya menyebutkan bahwa kebanyakan manusia itu sebenarnya paling jahat, licik, biadab tapi mengaku bersih, alasannya binatang seperti sapi, ayam, kerbau, ikan, burung tak pernah makan manusia, tapi sebaliknya kebanyakan manusia hampir semua jenis binatang di mangsa atau dijadikan makanan kesukaannya.

Saling memangsa
Belum lagi harimau, singa, buaya, srigala, dan anjing hutan, anjing laut adalah pemangsa binatang lainnya, bahkan setiap binatang yang lebih besar dan kuat adalah pemangsa bagi binatang ukuran yang lebih kecil dan lemah, jadi istilahnya saling memangsa, dan manusia adalah yang paling banyak memangsa binatang dari berbagai jenisnya, rasanya tak ada hewan yang dapat luput dari kejaran manusia pemangsa.
Di Jakarta banyak restoran, rumah makan besar dan kecil yang menyediakan hewan untuk dimasak dan dihidangkan sebagai menu makanan lezat yang sering dijadikan makanan dan masakan Fresh Favorit tinggal tunjuk, misalnya sate Ular plus darahnya, sup otak kera, sate hati anjing, sup kura-kura, sup sirip ikan hiu, sup buntut sapi, sup kambing, dll, termasuk harganya yang aduhai mahalnya namun kebanyakan manusia tetap mengejarnya hanya untuk sekadar memuaskan selera keinginan dan keserakahan manusia, benar-benar gila tak waras, tapi tetap mengakunya suci paling benar dan jika disebut ‘Manusia Buas Pemangsa Hewan’ pasti tidak mau dan marah besar.
Coba bayangkan sejenak, bagaimana andaikata saudara sendiri yang dimasak seperti itu, misalnya ketika masih hidup batok kepala anda di ketok oleh besi, setelah pecah otaknya diambil untuk dimasak, lalu hati anda di cungkil oleh pisau tajam dan disayat kemudian dimasak, apakah saudara mau?
Wah..Sungguh mengerikan bukan? Barangkali peistiwa ini hanya akan terjadi di alam Neraka kelak bagi mereka yang gemar memangsa hewan seperti itu sebagai hukum karmanya agar dia akan merasakan lezatnya disiksa oleh para Algojo di atas bara api neraka (lihat buku ‘Cerita Kebijaksanaan Buddhis’ penerbit Sri Manggala).
Tulisan ini bukan untuk menakut-nakuti saudara, namun semua itu adalah fakta yang dapat dibuktikan oleh siapapun, atau barangkali saudara salah satu diantara sekian banyaknya orang sebagai manusia Pemangsa hewan bahkan hobinya.
Mungkin saudara masih bisa berkilah dengan menjawab; hewan yang hidup di dunia itu kan sudah disediakan oleh makhluk agung memang sengaja untuk dimakan, kalau begitu saudara juga kan termasuk makhluk kenapa ketika ada manusia dimangsa oleh harimau atau buaya, dll, langsung orang-orang mengejarnya dan dibantai habis-habisan.
Ingat! Pepatah mengatakan siapa menabur angin dia akan menuai badai, itulah sebabnya saya menulis di atas tentang kelahiran yang berulang-ulang tanpa hentinya, alasanya adalah sederhana karena adanya “Hukum Karma”, jika tidak ada boleh jadi dunia kehidupan di alam semesta ini seperti apa?
Dan masalah ini juga termasuk salah satu sebab mengapa kehidupan di dunia ini tidak pernah damai, lihat saja di Timur Tengah, Irak tiada hari tanpa Bom, Palestina hampir tiap hari ledakan bom, Libanon, Eropa, Amerika, Korut, bahkan di Indonesia sendiri kendati sama-sama sebangsa dan memuja menyembah Yang Maha Esa, tapi terus menerus berkecamuk, di Jakarta bom meledak berkali-kali, di Bali 2 kali, di Maluku, Poso-Ambon, Aceh, juga kejahatan makin canggih, dst, bom sering dijadikan terror yang sudah dianggap mainan saja, padahal dulu tidak seperti itu.

Peradaban hidup manusia
Peradaban di bangun, di ciptakan dan dibuat oleh manusia dengan susah payah, dengan perjuangan dan pengorbanan yang tidak sedikit, ingat! Peradaban tidak mungkin dapat di bangun, di ciptakan dan dibuat oleh Dewa, hantu, yakkha, atau binatang.
Coba kita putar kembali ingatan ke masa lampau pada sejarah di zaman purba atau zaman batu yang menceritakan bahwa, kehidupan manusia di awali dan mulai dari peralatan batu, hidup dan tinggal di bawah pohon besar, di dalam goa yang penuh dengan segudang kesulitan dan penderitaannya
Semua peralatan hidup menggunakan alatnya dari batu misalnya manusia ingin memasak air, pasti butuh api dia harus menggosok-gosokan batu dengan batu hingga keluar percikan api, setelah itu apinya dimanfaatkan untuk memasak dll, juga pisau, kapak, tombak, piring, mangkuk semua terbuat dari batu.
Bisa dibayangkan tingkat kesulitannya seperti apa kehidupan manusia di zaman batu, lalu secara perlahan sesuai dengan perkembangan otak dan kemampuannya, manusia mulai bangkit berpikir ingin membangun rumah, itupun bukan dari semen, pasir dan besi, tapi dari daun, jika hujan besar tiba sudah tentunya rusak dan hancur, zaman batu tidak ada arsitek dll.
Saya tak tahu persis perlu berapa ribu tahun manusia untuk dapat hidup seperti saat ini, namun yang jelas hal ini bukan mimpi ini fakta dan realita kehidupan saat itu, kenyataan yang kita hadapi dari hari ke hari dari bulan ke tahun, contoh yang barangkali bisa mengusik ingatan kita coba diingat kembali ke waktu 30 sampai 50 tahun kebelakang sebagai buktinya, seperti apakah kira-kira kehidupan manusia pada waktu itu?
Bahkan dalam buku sejarah masa sebelum Indonesia Merdeka yakni masa Penjajahan Belanda 350 tahun di Indonesia, diceritakan bahwa bangsa Indonesia tidak punya nilai yang berarti sebagai layaknya manusia yang hidup di bawah tekanan bangsa Belanda dijadikan sebagai Budak atau pekerja paksa (rodi) dan hanya dibayar dengan sesuap nasi, contohnya membangun jalan Dendles dari Anyer sampai Panarukan, membangun jalan kereta api plus stasionnya, dan masih banyak lagi bangunan peninggalan Bangsa Belanda yang justru adakalanya masih utuh hingga dijadikan museum atau tempat peninggalan sejarah zaman Belanda karena bangunannya masih indah.
Kemudian datang Pasukan Jepang ingin mengambil alih pada tahun 1942-1945, dalam cerita sejarah waktu Jepang turun malah lebih nista lagi kehidupan bangsa Indonesia yang harus menggunakan pakaian dari Karung, makan dengan sayur kedebong pisang, hal ini banyak orang tua-tua yang bercerita sambil mengernyitkan dahinya jika ingat masa itu.
Saya masih ingat betul pada tahun 1950an yang waktu itu baru 5 tahun merdeka yang masih menyisakan banyak kesulitan hidup, misalnya untuk makan saja beras sulit didapat bahkan hingga tahun 60an ada istilah Ganefo masyarakat makan nasi aking atau campur dengan tumbukan jagung, yang ternyata sampai saat ini masih ada di NTT, Yahukimo, juga termasuk di pulau jawa yang tingkat kesulitan hidupnya amat berat.
Siapapun tidak ingin hidup seperti di zaman itu, maka secara perlahan bangsa Indonesia bangkit dari masa sulitnya yang meskipun harus mengorbankan segala kekayaan alam atau sumber daya alam seperti hutan, tambang minyak, tambang emas, timah, batu bara dll, hampir semua dikelola oleh bangsa lain, kita hanya dapat sisanya, tapi tak masalah dari pada kita terus makan nasi aking dan tumbukan jagung yang kurang gizi, sungguh sedih jika saya ingat masa-masa itu.
Saudara yang lahir tahun 70an sudah mulai bisa menikmati hiburan dari siaran radio, televisi, bahkan th 2000an lebih meningkat lagi bentuk hiburannya, ada vcd, dvd, kompo sampai home teater, telepon seluler, mesin cuci, ac, kipas angina dst.. semuanya sudah wah.. .tinggal pencet tombol saja langsung selesai, ini merupakan anugerah katanya. Apalagi di luar negeri seperti Amerika, Eropa, Australia, Jepang, Taiwan, China, dan Singapura, lebih canggih bahkan super canggih misalnya ada kereta gantung, kereta api bawah tanah, dapat pergi tamasyia ke luar angkasa antariksa, semua yang saya ceritakan ini adalah sebagian kecil fakta dan realita kehidupan manusia dulu hingga saat ini, yang termasuk kemajuan pembangunan peradaban manusia dari zaman purba atau Batu ke zaman modern super canggih.
Namun, perlu saudara ketahui bahwa kemajuan zaman dan peradaban manusia jika tidak disertai pembangunan spiritual dan moralitas, maka semua itu akan sia-sia bahkan bisa saja suatu saat akan hancur, dan fakta ini sudah mulai terlihat gejalanya dengan ada peperangan di seantero dunia, yang kuat menyerang yang lemah entah dengan menggunakan dalil membasmi teroris atau apapun namanya, tapi kenyataan yang ada manusia yang tidak bersalah jadi korban, gedung megah dan mewah bertingkat yang dibangun dengan susah payah di bom dan di hancurkan bersama manusia dan seisinya.
Kendati mereka tahu dan mengerti bahwa membangun gedung seperti itu tidak mudah dan perlu biaya mahal, juga tahu bahwa tindakan menghancurkan itu berdampak merugikan semua pihak baik secara financial maupun secara psikologi yang tidak sedikit dan tidak kecil, namun memang begitulah manusia yang sangat unik, licik dan super jahat ini yang tetap mengaku tak bersalah tapi justru selalu menyalahkan pihak lain.
Seandainya saja mereka mau sedikit sadar atau eling dan ingat ke masa dulu pada zaman purba atau zaman batu yang membangun rumah dari daun, peralatan semuanya dari batu, kehidupan manusia yang dicengkram kebodohan dan penderitaan, serba sulit hidup manusia pada zaman itu, barangkali mereka mengurungkan niatnya untuk berperang membantai manusia atau membunuhnya.
Jadi, kita yang sadar dapat menilai sambil menyaksikan ulah sebagian manusia yang licik dan super jahat itu, bahwa Peradaban manusia yang dibangun, dibuat dan diciptakannya dengan amat susah payah, dengan perjuangan dan pengorbanan yang sangat mahal tak ternilai itu hanya dalam waktu sekejap kira-kira sepersekian detik saja semuanya hancur luluh lantak tak bersisa, bahkan mayat manusia berserakan di sana sini dan di mana-mana, seakan harga daging ayam goreng lebih mahal dari pada daging manusia inilah fakta dan realita kehidupan manusia saat ini, sungguh ironis.
Rasanya getun saya melihatnya sambil merenungkannya dengan pengertian Dhamma ajaran Buddha, bahwa sangat bertolak belakang sekali dengan Dhamma ajaran Buddha yang terdapat dalam 5 sila, yang sila pertamanya tidak membunuh makhluk hidup termasuk semut, tapi saat ini bahkan semuanya hampir dilanggar oleh mereka dalam kehidupan di zaman modern ini, padahal mereka juga berpendidikan tinggi dan beragama malah mengaku taat beragama, sampai-sampai saya kadang tak habis dipikir.

Tujuan hidup manusia
Peristiwa kejahatan hingga peperangan yang sering terjadi di dunia ini dilakukan oleh manusia yang berpendidikan, beragama, dan bukan oleh orang bodoh tak berpendidikan, tak beragama, namun mengapa manusia hingga sekejam itu? Apakah mereka tak sadar bahwa tindakannya itu sangat keji, sadis, buas lebih buas dari seekor harimau atau buaya.
Lalu apa sebenarnya tujuan manusia hidup itu?
Andaikata saudara ditanya oleh orang lain, apa sih tujuan hidup anda? Apa jawab anda? Saya memastikan bahwa jawabannya tidak jauh ialah setiap manusia hidup ingin kaya, sukses, bebas, bahagia, aman tentram dan sejahtera lahir batin, bebas dari mara bahaya, celaka, penyakit juga bebas dari penderitaan, bencana alam dan musibah, semua manusia layak menginginkan hal seperti itu.
Lalu pertanyaan selanjutnya, sudahkah anda mendapatkan semua yang diinginkan itu?
Dan saya kembali menjawabnya, pasti belum, barangkali hanya sebagian kecil dari keinginan itu yang baru dapat dinikmati, misalnya kaya, sukses, bebas dari mara bahaya celaka, musibah dan bencana alam, tapi bebas dari penyakit dan penderitaan lahir batin rasanya masih jauh dari kenyataan, apalagi bebas dari usia tua sakit dan kematian hal itu amat mustahil, jika saudara belum mencapai pencerahan batin sempurna.
Kemudian bagaimanakah caranya, kalau harapan itu masih mungkin didapat?
Cara yang tepat dan jitu hanya ada dalam pelajaran agama (Dhamma) sekaligus praktik untuk itulah kita mau tak mau harus belajar, dan praktik agama (Dhamma) dengan baik dan benar hingga sempurna agar kita bisa benar-benar bebas dari usia tua, penyakit dan kematian, bebas dari penderitaan lahir dan batin, yang berarti mencapai kebahagiaan abadi Nibbana yang secara teknis tak akan lahir kembali di alam manapun.
Saya sudah banyak mendengar cerita tentang apa tujuan hidup manusia, namun belum ada yang memuaskan jawabannya seperti apa yang saya sampaikan dalam uraian ini, alasannya ialah karena jawaban mereka selalu berkutat ke factor duniawi seperti ingin kaya, sukses yang sebenarnya mereka kurang paham bahwa kesuksesan, kaya dan kebahagiaan duniawi itu masih semu, mudah lenyap dan karena tidak abadi (anicca, berubah), sehingga ketika semua yang mereka raup lenyap dan berubah, disitulah mereka baru sadar dan timbul penyesalan yang amat dalam, bahkan bisa jadi dampaknya sangat parah misalnya prustrasi, stres, depresi malah gila, atau melarikan diri dengan mabuk-mabukan, main judi dan wanita, lebih bahaya lagi jika tak menemukan jalan atau kebuntuan pikiran akhirnya cari jalan pintas yakni bunuh diri.
Di Negara maju seperti Jepang, Amerika, Korea, Hongkong dsb, banyak dijumpai orang bunuh diri hanya karena tidak sukses atau PHK lalu merasa malu dan akhirnya bunuh diri, di Indonesia sendiri kita sering mendengar berita ada anak sekolah SD hanya karena tidak diberi uang untuk bayar SPP lalu gantung diri, suami dan istri bertengkar lalu buntutnya saling membunuh atau bunuh diri dan segudang kejadian bunuh diri atau saling membunuh hanya karena hal sepele orang tidak bisa melewatinya akhirnya bunuh diri.

Hidup untuk makan atau makan untuk hidup?
Tujuan hidup manusia intinya ingin meraih kesuksesan dan kebahagiaan, tapi sampai sejauh mana ukuran sukses dan kebahagiaan itu dan apa arti dari sukses dan bahagia yang diharapkan oleh mereka, inilah yang menjadi teka-teki bagi setiap orang pasalnya ada banyak orang yang telah meraih sukses dan bahagia secara duniawi, namun masih saja merasa kurang puas akhirnya rumah tangganya berantakan, bercerai lalu anak-anaknya yang menjadi korban, contohnya sering kita perhatikan di acara tv Infoteimant para selebritis yang sudah kondang dan berumah tangga hampir 30 tahunan tapi ujung-ujungnya kandas.
Apalagi bagi orang miskin dan papa, jangankan ingin sukses dan bahagia seperti orang kaya atau para artis, para gelandangan pengemis dan yang miskin mereka hidup bisa makan cukup saja kadang dapat disebut beruntung, maka ada istilah hidup untuk makan bukan makan untuk hidup berjuang meraih sukses dan bahagia.
Sebenarnya masih banyak masyarakat dibawah kemiskinan hingga harus makan nasi aking (nasi bekas yang dikeringkan) tanpa sayur lauk pauk yang memadai, makan ketela, singkong, tapi apa boleh buat kata mereka karena semua itu sebenarnya bukan pilihannya namun nasib yang memaksanya harus seperti itu.
Dengan demikian kita jangan sampai menyia-nyiakan kesempatan apa yang telah saudara raih saat ini, yang lebih beruntung dibandingkan mereka.

Pola hidup keseharian (rutinitas)
Saya suka memperhatikan pola hidup manusia dalam kesaharian (rutinitas), misalkan dari pagi ketika bangun tidur lalu mandi, setelah itu jika sempat melaksanakan kewajiban agama dengan puja bakti, kemudian sarapan pagi kalau biasa dan pergi berangkat kerja untuk mencari nafkah sampai sore atau malam hingga lelah baru tidur lagi, hasilnya digunakan untuk keperluan hidup keluarga dan jaminan social anak-anak di masa depan atau masa tua mereka berdua, kadang untuk tamasyia ke luar daerah atau ke luar negeri, untuk menghilangkan kebosanan dan mencari angin segar (refreshing), tapi hanya sekejap sebab begitu pulang kembali ke rumahnya pasti menderita lagi, pusing, jemu terus menerus hanya itu-itu saja setiap hari dari bulan ke tahun hingga akhirnya mati lagi, lahir lagi dan akan begitu lagi terus menerus tanpa henti-hentinya.
Kehidupan rutinitas manusia ini sejak dari lajang sampai berkeluarga dan beranak-cucu terus menerus seperti itu dilakukannya dengan gigih tanpa mengenal ampun lagi, tidak boleh lengah, lalai dan mau senang sendiri sebab harus ingat kewajiban rumah tangga, semua dilaluinya dengan peluh dan keringat membasah disekujur tubunya habis memeras tenaga dan otaknya, sungguh kasihan kehidupan rutinitas manusia yang terbelenggu oleh nafsu keinginan yang selalu ingin dipuaskan, tapi sebenarnya tak pernah memuaskan.
Ada seorang ulama mengatakan dalam khotbahnya, bahwa jika diteliti kehidupan manusia sehari-hari ini sebenarnya sama dengan hewan (maaf), apa bedanya, coba saja lihat kehidupan rutinitas binatang, misalkan ayam yang dari pagi buta sudah berkokok lalu pergi mencari makanan sambil kawin dimana saja ketemu lawan jenisnya, lalu bertelur sampai habis kemudian dieramnya hingga menetaskan anak ayam atau itik, setelah tua ayam itu kadang digoreng oleh yang empunya untuk dijadikan makananya, yang kemudian lahir lagi entah dimana tapi akan tetap sama seperti itu-itu juga, hanya untuk hidup berkeluarga dan beranak cucu setelah tua sakit lalu mati.
Pernahkah tersirat dalam benak pikiran saudara bahwa kehidupan rutinitas manusia itu memang seperti itu? Lalu pernahkah muncul ide misalkan apa yang perlu ditingkatkan (inovatif) selama hidup ini, jika semuanya telah dinikmati dan sudah berlalu? Kemudian kalau memang saudara timbul ide seperti itu, apa yang perlu saudara lakukan selanjutnya?
Seandainya saudara sama sekali tidak pernah berpikir untuk maju dan berubah (inovasi) paling tidak status hidupnya, yang kemudian ditindak lajuti dengan aksi dan usaha, maka saya bisa memastikan bahwa nasihat sang ulama dengan isi khotbahnya itu memang ada benarnya yang mengatakan bahwa kehidupan rutinitas manusia itu tak ada bedanya dengan hewan, maukah jika benar-benar saudara disamakan dengan hewan? Maaf! Tentu saja tidak mau bukan? Untuk itulah saya setidaknya hanya dapat menyadarkan dan membangunkan kekuatan semangat saudara yang terpendam, agar mau berusaha dengan sekuat tenaga kemampuan saudara untuk berubah maju dan berkembang, kendati secara perlahan-lahan, sedikit demi sedikit daripada tidak ada kemauan sama sekali untuk berubah dan maju.
Apalagi kalau kita melihat dan menilai orang yang banyak berbuat jahat, seperti perampok, pembunuh, ahli gendam, bhikkhu atau dukun santet, para koruptor dan seterusnya, kemanakah mereka akan pergi selanjutnya setelah mati, dan apa yang akan mereka terima hukumannya akibat kejahatan yang pasti akan berbuah, sungguh sangat mengerikan.
Disinilah perlunya manusia belajar agama (Dhamma) yang tujuannya bukan saja untuk mencapai sukses secara duniawi, namun sangat lengkap yaitu demi meraih kebahagiaan lahir batin di dalam dhamma, baik semasa hidupnya hingga meninggal dunia kelak.
Manusia hidup itu banyak tantangan dan penderitaan lahir maupun batin, jika dia belum dapat mengatasinya maka bahaya akan datang dan sedang mengancam sepanjang hidupnya, apalagi di era globalisasi seperti saat ini, alangkah baiknya kalau dari saat ini kita mulai belajar dan praktik agama (dhamma) dengan baik dan benar.
Semoga uraian ini bermanfaat bagi semua umat manusia, terima kasih atas perhatiannya dan semoga semua umat Buddha maju dalam belajar dan praktik Dhamma ajaran Buddha. Sabbe Satta Bhawantu Sukhitatta. Semoga semua makhluk hidup berbahagia. Sadhu.

Ciledug-Cirebon, Kathina 26 Oktober 2006
Salam damai dan bahagia dari jauh..
Bhikkhu Sudhammacaro.

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home