Fenomena Dhamma

Friday, August 11, 2006

Penyebab Bencana Alam & Musibah

FENOMENA DHAMMA
(UNTUK KALANGAN SENDIRI)

Tidak di angkasa atau di dalam laut, juga tidak di dalam gua atau di atas gunung, tidak ada tempat di dunia ini yang dapat dipakai sebagai tempat bersembunyi dimana seseorang dapat terbebas dari buah perbuatan jahatnya (akibat hukum karma).
Sabda Buddha: Dhammapada bab IX.127: Kejahatan.
Cermin Manusia di ERA GLOBALISASI

Akhir-akhir ini kita sering mendengar berita atau melihat peristiwa langsung tentang bencana alam dan musibah yang menimpa kehidupan manusia baik di Indonesia maupun di seluruh dunia. Bencana alam dan musibah itu adalah seperti gempa bumi, tsunami, badai topan, kebakaran hutan, longsor, banjir, peperangan, hancurnya gedung WTC dan Pentagon, termasuk juga musibah keluarga misalnya perkosaan, pembunuhan, perampokan, bunuh diri, dan seterusnya.

Mendengar atau melihat langsung peristiwa tersebut, kadang-kadang kita jadi terperangah sejenak karena terkejut, apalagi kalau menyaksikan langsung kejadian tersebut yang menimpa saudara kita. Coba bayangkan dengan mengingat kembali kejadian gempa bumi di Taiwan, Jepang, China, Turki, dan lainnya yang sangat sering terjadi hingga menelan korban ribuan nyawa hilang tidak diketemukan. Peristiwa 11 Septembar 2001 di Amerika lebih dari 3,000 korban terbakar sekaligus bersamaan gedung pencakar langit tertinggi WTC dan Pentagon, hancur ditabrak pesawat terbang milik Amerika sendiri oleh kelompok teroris.

Gempa bumi dan tsunami di Aceh dan Nias 26 Desember 2004, lebih 300 ribu nyawa hilang, luka parah, cacat seumur hidup, yatim-piatu, keluarga tercerai-berai, terlantar dengan kerugian kira-kira 3 trilyun. Selang setahun Desember 2005 busung lapar dan kurang gizi di Yahukimo menelan korban nyawa 55 orang, sungguh sangat ironi karena Yahukimo termasuk kabupaten Papua yang memiliki kekayaan alam berlimpah dengan tambang emas dan minyak bumi yang dikelola oleh perusahaan Freepot Amerika. Kemudian 27 Mei 2006 terjadi gempa bumi lagi di Yogya dan Jawa Tengah menelan korban nyawa lebih dari 6000 orang yang hilang, luka parah, cacat seumur hidup dengan kerugian diperkirakan 6 trilyun. Sungguh tragis!

Belum lagi gunung Merapi di Jawa Tengah yang sedang bergolak dan berontak mengeluarkan "Wedhus Gembel" tinggal menunggu waktu. Kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan yang sering terjadi sampai menghabiskan ribuan hektar tanah lahan hutan yang hijau, tiba-tiba hangus dan hanya dalam waktu sekejap berubah menjadi lapangan terbuka yang asapnya menyebar seiring arah angin meniupnya sampai ke negara tetangga Singapura dan Malaysia, yang pada akhirnya membuat berang dan marah karena asap yang tidak diundang itu ternyata mengganggu pernapasan dan bisa menimbulkan berbagai macam penyakit.

Peristiwa Mei 1998 yang kelabu sudah berlalu bertahun-tahun lamanya, namun seakan masih jelas di mata penglihatan dan kita rasanya sulit sekali melupakannya. Musibah itu teramat biadab dimana dunia iptek sudah canggih dan peradaban manusia sudah mapan, tapi nyatanya kebiadaban dan kekejaman manusia masih mirip sifat dasar binatang, dengan bersorak-sorai bergembira memperkosa wanita keturunan Tionghoa dan anak-anak yang tak bersalah, lalu dibunuh, dibakar, dibuang seenaknya, barangnya dirampok habis, rumahnya dibakar ludes tanpa sisa, kejahatan, kekejaman, kebiadaban itu nyatanya masih terus berlanjut sewaktu-waktu sampai detik ini, sungguh tak habis di pikir! Meski ada laporan dari tim pencari fakta tapi selalu dibantah, ditutupi bahkan dihapus seakan tidak ada kejadian apa-apa. Manusia pandai berkelit hukum yang dibuat oleh manusia juga, tapi ingat hukum kamma pasti akan mengadilinya melalui bencana alam dan musibah.

Sungguh heran tragedi Mei 1998 ini, sebab yang melakukannya adalah orang-orang yang mengaku taat beragama dan sesama bangsa Indonesia. Sadar atau tidak, suka atau tak suka semua peristiwa itu sudah berlalu, memang jika Anda yang bukan sebagai korban pasti tidak merasakan bagaimana sakit, pedih, bingung, trauma, shock, stress dan sebagainya merasuk hingga ke dalam tulang susum, dan mencabik-cabik perasaan halus para wanita dan anak-anak yang tak bersalah, menghancurkan leburkan hati nurani sebagai manusia.

Inilah pentingnya saya merasa ingin mengajak Anda semua untuk merenungi hal ini secara mendalam dan berdasarkan pengertian agama (Dhamma) yang kita pelajari. Tujuannya tidak lain adalah untuk mendapatkan jawaban yang benar secara agama (Dhamma), yang pada akhirnya dapat menumbuhkan Kebijaksanaan bagi kita semua dalam menghadapi keadaan apa pun yang akan menimpa kita di masa mendatang. Artinya ialah agar kita menjadi siswa yang benar-benar memiliki batin yang seimbang dalam menghadapi bencana alam atau musibah yang besar maupun kecil yang menimpa sesama kita.

Karena pada dasarnya setiap orang pada saat menerima untung, dipuji oleh orang lain, badannya sehat, bahagia tentunya orang tersebut tidak pernah mengeluh, sedih, takut, khawatir, menyesal, marah, dendam, trauma dll. Namun pada saat orang tersebut tertimpa bencana alam atau musibah, barulah dia akan merasakan terpukul hingga muncul pikiran dan perasaan yang tergoncang bukan main hingga terombang-ambing menemui jalan buntu. Lalu kemana dia harus mengadukan nasibnya. Kalau tak ada seorang pun yang peduli akan nasibnya maka kebanyakan atau kemungkinan besar orang itu akan mencari jalan pintas yaitu bunuh diri, atau pilihan lainnya ialah narkoba. Sungguh memprihatinkan bukan!

Kadang orang yang tidak memiliki pengertian benar dan keyakinan kepada agama yang benar (misalnya: Triratna, Buddha, Dhamma dan Sanggha), hanya mendapatkan kesulitan sedikit saja dalam keluarga atau di PHK dalam pekerjaan, orang tersebut bisa langsung gelap mata, lupa akan jati dirinya sebagai manusia beragama, bersusila, bermoral, dan beradab. Semua pelajaran agama tentang kebaikan yang setiap hari dihayati, rajin sembahyang, rajin mendengarkan kotbah bisa langsung menguap seketika dan malangnya bisa berganti dengan naluri binatang atau setan keparat yang kalap tanpa mengenal budi lagi, tak bermoral dsb. Inilah yang saya katakan Cermin Kehidupan manusia di Era Globalisasi saat ini, berhati-hatilah dan selalu waspada!

Hubungan Manusia dan Alam

Kehidupan manusia tidak akan lepas dari alam, tanpa alam manusia tidak akan mungkin bisa hidup. Alam seperti hutan, gunung, bumi, langit, udara, air, matahari, pepohonan, dll. Manusia hidup berinteraksi dengan hasil proses alam tersebut, misalkan kita makan dari nasi (tumbuhan), minum dari air dalam bumi dan hujan, bernafas dari udara, dst...

Jadi hubungan manusia dengan alam sungguh tak dapat dipisahkan dan sebaliknya hubungan manusia dengan alam harus harmonis, menyatu, artinya tidak boleh berlawanan. Namun jika ternyata kehidupan manusia berlawanan dengan hukum alam atau melawan hukum alam atau merusak keadaan alam, maka proses keharmonisan interaksi hubungan antara manusia dengan alam akan terganggu dan tidak stabil, tidak seimbang, akhirnya terjadilah yang namanya bencana alam atau musibah yang akan menimpa manusia itu sendiri, ini adalah Dhamma atau kebenaran sejati, kewajaran, alamiah, seperti dikatakan: Sesuai dengan benih yang akan ditabur, maka engkau sendirilah yang akan memetik buahnya, demikian Dhamma yang diajarkan oleh Buddha tentang sebab akibat.

Bencana alam atau Musibah itu bisa terjadi oleh karena tiga hal, yakni :
Hukum Karma Penyebabnya

Hukum karma adalah hukum perbuatan yang dilakukan baik melalui pikiran (niat, kehendak), ucapan dan tindakan tubuh jasmani. Sejak seseorang mempunyai kehendak atau niat biasanya ucapan dan perbuatannya akan sesuai dengan niat atau kehendaknya. Itulah yang disebut kamma atau perbuatan yang akan menimbulkan akibat. Setiap aksi pasti akan menimbulkan reaksi inilah Dhamma, demikian pula menurut pandangan umum.
Hal ini diumpamakan oleh Buddha seperti halnya seseorang yang melempar sebuah batu ke tengah kolam air, maka akan terjadi riak air mulai dari tengah di mana batu itu jatuh lalu bergelombang menuju ketepian dan setelah sampai ke tepi, riak air itu akan memantul kembali ke pusat di mana batu tadi jatuh, demikian akan berulang-ulang sampai melemah riaknya, akhirnya diam kembali tenang seperti semula. Jadi, gelombang dan riak air yang memantul kembali itulah yang disebut dengan hukum kamma atau hukum sebab akibat, amat wajar dan alami, tepat, sesuai, apa adanya, itulah yang diajarkan oleh Buddha amat mudah.

Kemudian mengapa bencana alam dan musibah itu penyebabnya adalah Hukum Karma? Seandainya benar, itu maka jawabannya sungguh amat mudahnya. Berarti setiap orang hingga anak kecil pun bisa menjawabnya, karena itu saya perlu menguraikannya dengan berbagai contoh dan bukti-bukti yang pernah terjadi sebelumnya.

Contoh Pertama:
Bisa diingat oleh kita semua yakni peristiwa 11 September 2001 di Amerika Serikat, dua kota besar New York dan Washington, yakni hancurnya gedung pencakar langit/tertinggi di Amerika sebagai lambang kesuksesan ekonomi (New York) gedung WTC dan satunya lagi lambang kekuatan pertahanan Militer dan angkatan Perang Gedung Pentagon di Washington.
Kalau kita pikirkan secara akal manusia biasa, maka akan menyimpulkan bahwa peristiwa 11 September 2001 di Amerika itu sungguh mustahil bisa hancur menjadi debu, mengapa? Karena negara Amerika adalah negara Super Power, Super Canggih, Super Kuat memiliki radar dan alat penyadap dari tehnologi canggih, ada ratusan Intelejen FBI, CIA yang sangat terkenal, ahli dalam menjaga dan menyadap berita aktual. Amerika adalah negara sangat makmur baik dalam bidang ekonomi maupun militer, dan IPTEK. Tetapi mengapa bisa kecolongan sampai memalukan seolah-olah bagaikan nasi dan sayur seisi mangkuk yang dibalikkan tumpah ke tanah menjadi debu, sungguh aneh sekali dan tak masuk akal! Sebab tidak ada rencana dan instruksi perang.

Peristiwa tragedi kemanusiaan 11 September di Amerika ini langsung diselidiki oleh para Jendral ahli strategi perang, termasuk dari semua negara besar di Eropa, Australia, China, Taiwan, Korea, dan hampir di seluruh dunia. Namun, semua hasilnya nihil sebab tak seorangpun yang benar-benar tahu dengan persis kejadiannya, mereka semua hanya bisa mengira-ngira dengan spekulasi, tapi tidak masuk akal sehat.
Kota Nagasaki dan Hiroshima Buktinya

Amerika adalah negara besar yang menjunjung tinggi HAM (Hak Asasi Manusia), kebebasan dalam bergaul dan bermasyarakat, menganjurkan negara lain untuk menghargai HAM dan demokrasi. Amerika adalah satu negara yang membuka pintu lebar-lebar kepada dunia untuk menerima semua orang dari mana pun asalnya, boleh masuk dan hidup bermasyarakat di sana. Yang penting mereka mau dan harus ikut peraturan negara dan pemerintah.
Jadi, kalau disimpulkan Amerika ibaratnya tong sampah terbesar di dunia yang dapat menampung sampah dari mana saja datangnya kerena begitu banyaknya sampah yang masuk ke dalam tong tersebut, satu saat akhirnya pecah.

Dan jangan salah Amerika adalah gudangnya orang-orang pandai dan ahli penelitian, coba saja kalau Anda pergi berkunjung ke laboratorium (pusat pengembangan) ruang angkasa (NASA), pasti Anda akan tercenggang melihatnya. Secara diam-diam Amerika sedang merencanakan satu tempat tamasya di ruang angkasa lengkap dengan kendaraan angkasanya yang akan membawa jalan-jalan di sana. Seorang milyuner Amerika bernama Denis Tito yang pertama menghabiskan uang jutaan dollar AS hanya untuk berkeliling di angkasa dan planet bulan, sungguh mengagumkan.

Namun sayang! Kesuksesan Amerika di segala bidang, ekonomi, IPTEK, militer, dan sebagainya, membuatnya menjadi sombong, egois, memandang rendah negara lain, suka menjadi polisi dunia, suka menekan, suka ikut campur tangan urusan negara lain, dan semua yang dilakukan dianggap benar sendiri. Tak peduli saran, usul, protes dari orang lain. Ingat, karena setiap perbuatan akan menimbulkan akibat, jika perbuatan itu jahat maka penderitaan akibatnya, sebaliknya jika perbuatan itu baik maka kebahagiaan akibatnya, demikian sabda Buddha.

Menurut para ahli penelitian di Amerika setelah memeriksa peristiwa 11 September tersebut, mereka semua tidak ada yang bisa menjawab apa penyebabnya sampai bisa terjadi peristiwa 11 September itu dan anehnya, peristiwa 11 September tersebut bisa membalikkan fakta perhitungan dari semua para jenderal ahli strategi perang di bidangnya masing masing, semua tercengang! Ketika peristiwa 11 September di Amerika, kebetulan saya ada di Thailand dan melihat koran, saya tidak sedikitpun terkejut melihatnya, namun saya langsung merenungkan sebab akibatnya mengapa hal itu bisa sampai terjadi, akhirnya saya menyimpulkan; "Sungguh dahsyat akibat hukum kamma, tidak meleset, tepat sasaran, dan lebih canggih dari super canggih yang membuatnya." Saya merasa lebih yakin kepada hukum kamma (Dhamma), mengapa demikian?

Kalau saya boleh menjawabnya ialah, apakah Anda masih ingat peristiwa yang sudah lama terjadi di Jepang, hancurnya dua kota besar di Jepang yakni Nagasaki dan Hiroshima yang di bom atom oleh Amerika pada waktu perang dunia ke-2 bulan Agustus tahun 1946? Itulah vonis final jawaban peristiwa 11 September 2001 di Amerika, yakni akibat Hukum Kamma. Bom atom yang dijatuhkan oleh angkatan perang Amerika pada waktu perang dunia ke-2 di kota Nagasaki dan Hiroshima, Jepang, akibatnya sangat parah. Dua kota besar di Jepang hancur, korban yang meninggal sudah tak terhitung. Menurut perhitungan satu kota Nagasaki yang meninggal lebih 100 ribu orang begitu pula kota Hiroshima 100 ribu, selain harta benda dan sebagainya. Bahkan tanah bekas bom atom yang jatuh itu hingga kini tidak bisa berproduktif lagi karena tanahnya masih mengandung radioaktif, berarti tanahnya tidak subur bahkan tidak bisa ditanami tumbuhan apa pun.
Jadi kerugian bangsa Jepang akibat bom atom tersebut sungguh tak ternilai, anak-anak harus kehilangan orang tua dan sebaliknya, istri kehilangan suami dan sebaliknya. Maka ketika terjadi peristiwa 11 September 2001 di New York dan Washington adalah sangat tepat sasaran Hukum Kamma, dua kota yang dihancurkan maka dibayar dengan dua kota besar lagi yang hancur, itulah Dhamma. Kalau kita hitung jumlah yang meninggal di Jepang lebih banyak, berarti bangsa Amerika hutangnya belum lunas.

Contoh ke-2:
Saddam Hussein adalah presiden Irak yang bermimpi buruk sekali sebab tak disangka, tiba-tiba diserang dan ditangkap oleh tentara angkatan perang Amerika atas perintah George W. Bush presiden Amerika, karena dituding bahwa Saddam Hussein menyimpan senjata pemusnah massal, padahal sampai sekarang tidak ada bukti. Tapi anehnya setelah diadili, ternyata Saddam Hussein terlibat banyak kejahatan kemanusiaan ketika menjadi presiden dan akhirnya dituntut hukuman mati dengan serangkaian kejahatan membantai rakyatnya sendiri, kini tinggal menunggu waktu eksekusi. Ini salah salah satu bukti akibat hukum karma, coba saudara pikirkan.

Contoh ke-3:
Setelah terjadi peristiwa 11 September 2001 di Amerika. tidak lama kemudian tiba-tiba Jakarta diguncang banjir, meskipun setiap tahun Jakarta dilanda banjir hingga sudah dianggap langganan, namun banjir kali ini melebihi prakiraan. Pasalnya banjir tahun 2002 ini Jakarta harus menelan korban meninggal kurang lebih 30 orang, dan anehnya banjir yang datang bukan sekali, langsung surut dan kering, tetapi banjir di Jakarta tahun 2002 itu sampai 7 kali bahkan di tempat-tempat tertentu, kadang masih kebanjiran jika hujan turun seharian, para korban banjir mengatakan, "Wah banjir tahun ini di Jakarta membuat kami tidak berdaya, karena tidak punya waktu lagi untuk mencari nafkah, seharian kami harus membersihkan rumah dan perabotan, sangat melelahkan, hingga 7 kali kami bekerja membersihkannya, baru sudah bersih besoknya datang banjir lagi demikian terus menerus sampai bosan kami."
Banjir bukan hanya di Jakarta, tapi juga melanda Jawa Tengah seperti kota Pati, Jawana, Jepara, Kudus dan lain lain. Di daerah Semarang lain lagi yakni tanah longsor hingga menelan korban kurang lebih 7 orang meninggal, demikian pula Lampung kebanjiran dan tanah longsor. Di Jawa Timur tanah longsor menimpa Situbondo dan Bondowoso. Disimpulkan perjalanan dari Jakarta ke Jawa Timur semua jalan rusak berat baik jalan aspal ataupun rel kereta api sampai banyak rute perjalanan ditunda, dihentikan, dan dialihkan. Lalu apakah penyebab semua ini ?

Menurut Dhamma, salah satu penyebabnya adalah hukum Kamma! Anda masih ingat peristiwa Mei 1998 yang kelabu, perbuatan yang dilakukan secara biadab dengan serentak terencana dan sistematis. Menurut mereka yang melakukannya adalah sukses besar karena bisa memperkosa, dapat uang, dapat barang, orang dibunuh, rumah dan toko dibakar. Meski lapor ke polisi tak ada yang berani melawan, tapi ingat Hukum Kamma mengatakan, membunuh satu orang manusia maka hukum kammanya harus menerima akibat 50 kali dibunuh atau terbunuh, boleh jadi oleh bencana alam dan musibah yang akan terus menerus terjadi sebelum lunas dan siap-siap bagi mereka yang pernah membunuh untuk menunggunya! Kita bisa menyaksikannya.

Sesuai benih yang kau tabur itulah yang kau petik.
Gempa bumi dan tsunami di Aceh dan Nias, gempa bumi di Yoyga dan Jawa Tengah, banjir dan tanah longsor merupakan sebagian dari akibatnya. Rasanya hutang Kamma tersebut belum lunas tinggal tunggu akibat berikutnya dari Hukum Kamma, sebab masih akan terus berlanjut dan kita pasti bisa menyaksikannya. Ada seseorang non Buddhis yang mempelajari Buddha Dharma menerangkan tentang Hukum Kamma secara terperinci di Koran Kompas tanggal 13 Maret 2002 berjudul: "Karma Bangsa". Dan ternyata betul-betul persis terjadi dengan perhitungan saya, yakni 26 Desember 2004 gempa bumi dan tsunami di Aceh dan Nias, 27 Mei 2006 gempa bumi di Yogya dan Jawa-Tengah dan gunung Merapi bergolak menyemburkan lahar panas dan lava. Entah kapan dan apalagi yang akan terjadi, bencana alam dan musibah yang menimpa manusia yang amat biadab dan sadis, sebelum mereka benar-benar sadar dan mengerti akan akibat hukum kamma.

Hukum Yang Dibuat Oleh Manusia

Di sisi lain, hukum yang dibuat oleh manusia sangat rapuh dan tidak menjamin. Jaksa, pengacara maupun hakim meskipun sudah profesor, doktor dan ahli hukum sekali pun boleh dikatakan semuanya ‘mata duitan’, ketika mereka diberi uang pelicin, maka kerjanya tidak sesuai hukum, masih bisa memihak, bisa memutar balikkan fakta, yang salah malah bisa lolos dan yang benar malah dihukum. Inilah kenyataan yang sering terjadi.
Hukum yang dibuat manusia masih bisa dipermainkan atau diperjualbelikan, tidak memuaskan semua pihak karena tidak adil. Justru jaksa, pengacara dan hakimnya yang nakal suatu waktu akan menerima akibat dari Hukum Kamma, biasanya menjelang kematiannya Hukum Kamma akan bekerja pada mereka yang nakal, misalnya menderita busung perutnya bengkak atau menderita sakit yang susah diobati sampai mati penasaran. Tapi kebanyakan mereka lupa akibatnya, waktu berbuat dan menerima suap merasa aman, enak tidak ada yang tahu, tapi mereka tak mengerti bahwa hukum kamma selalu mengintai dan menunggu waktunya tiba.

Sedangkan hukum kamma sungguh adil, toleran, sesuai waktu dan kebutuhan, tepat sasaran, tidak memihak, tidak dapat diubah, tak mungkin bisa disogok dengan uang, tidak bisa diputar balik, tidak dapat diminta, datang sendiri jika sudah waktunya, tidak perlu jaksa, pengacara maupun hakim, sudah lengkap sendiri. Itulah Dhamma yang diajarkan oleh Buddha, selalu ada dan siap bekerja kapan saja jika dibutuhkan dan tidak memilih.
2. Hukum Alam Penyebabnya
Hukum alam yang berarti alam menghukum manusia, karena alam sudah tidak mau lagi bersahabat dengan manusia, tidak mau menghargai manusia lagi yang sudah terlalu kotor dengan perbuatan jahatnya. Meskipun alam tidak punya jaksa, pengacara dan hakim namun nyatanya alam masih mampu menghukum manusia yang jahat, karena biasanya kejahatan manusia kadang masih bisa lolos dari kejaran polisi, lolos dari hukum pengadilan, maka selain hukum manusia maka alam akan tetap menunggu waktunya. Jika sudah sampai waktunya alam akan bekerja menghukum manusia dengan gempa bumi dan tsunami, badai topan, tanah longsor, banjir, kebakaran hutan, disambar petir, kekeringan, kemarau yang panjang tanpa air.

Untuk lebih yakin hal ini maka di sini saya akan mengajak Anda untuk membuka buku Dhamma tentang riwayat hidup Buddha yang mau dibunuh oleh Devadata, juga ketika Buddha difitnah oleh Cinca yang mengatakan hamil oleh Buddha. Keduanya, baik Devadattha maupun Cinca, wanita yang dibayar untuk memfitnah Buddha, pada saat itu hukum kamma telah masak berbuah, maka tanah membelah menjadi dua, membuka lebar dan keduanya terperosok masuk kejurang tanah yang terbuka lebar, akhirnya menutup kembali setelah menelan kedua orang jahat itu. Maka dikatakan oleh Buddha, kedua orang itu karena kejahatan yang luar biasa, mereka masuk Neraka Avici yang sangat menyeramkan, tersiksa dan sangat menderita dalam waktu yang tak terhitung lamanya bisa mencapai berjuta-juta tahun.

Karena itu jangan menganggap bahwa alam itu adalah benda mati, diam tidak bergerak, menurut jika diperlakukan apa saja oleh manusia, namun diam-diam alam bukan berarti mati tidak berdaya, alam pun mempunyai potensi yang amat dasyat, berbahaya, lihat saja contohnya film Titanic! Kapal pesiar Titanic yang amat besar, mewah, canggih, aman tetapi hanya karena tersenggol bongkahan es langsung ambruk dan tenggelam bersama dengan penumpangnya. Tak ada seorang pun yang mampu mengatasinya bahkan para nahkoda kapal pun ikut mati tengelam. Itulah buktinya bahwa alam juga bisa menghukum manusia, bukannya tidak bisa.

Demikian juga Dewadatta dan Cinca yang amat kejam, sadis dan biadab maka di akhir hidupnya mereka terperosok masuk jurang, dan ditelan oleh tanah, lalu masuk ke alam Neraka Avici, inilah Dhamma yang harus dimengerti oleh kita semua.
Memang ada hukum alam yang dipandang secara umum seperti hujan turun karena proses air laut atau air sungai yang menguap karena panas matahari lalu mengumpul menjadi gumpalan awan dan akibatnya turun hujan. Demikian pula dengan petir, gunung meletus, adanya musim, pergantian siang dan malam dan seterusnya. Juga gempa bumi dan tsunami menurut proses ilmu Meteorologi dan Geofisika ialah terjadinya pergeseran lempengan tanah di dasar lautan fasifik, namun pada saat gunung Merapi menjadi status awas, BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika) menyatakan bahwa, Gunung Merapi sudah aman dan begitu statusnya diturunkan menjadi siaga tiba-tiba paginya gunung merepi itu mengeluarkan semburan debu panasnya sampai 200 derajat celsius, yang akhirnya menelan korban 2 orang yang lari ke dalam Bungker tapi tetap hangus terbakar, hal ini membuktikan bahwa keahlian apa pun yang dimiliki oleh manusia belum 100% menjamin.

Tidak demikian dengan hukum alam yang sudah pasti dan tepat waktunya. Hukum alam ini berbeda dan tidak dikaitkan dengan hukum alam menurut BMG yang dimaksudkan pada materi dalam pembahasan yang ada hubungannya dengan bencana alam dan musibah yang menimpa umat manusia menurut pandangan agama Buddha.

3. Ulah Manusia Sendiri Penyebabnya
Yang namanya manusia sungguh jarang yang benar-benar merasa puas selagi masih hidup meskipun sudah tua jompo, manusia selalu ingin ini, ingin itu seakan keinginan manusia tidak ada hentinya. Buktinya, coba saja tanya orang miskin atau pengemis apa harapannya, lalu tanya lagi kepada orang sederhana atau orang cukup mapan apa keinginan dan cita-citanya, kemudian tanya lagi kepada orang kaya seperti presiden, menteri pasti jawabannya mereka tidak mau turun lagi, begitu pula raja/ratu, bangsawan, milyuner, dst.
Kesimpulannya, manusia walaupun sudah berlebihan dan boleh dibilang tak akan habis sampai 9 turunan harta kekayaannya, namun jika ditanya apa maunya dia, pasti akan menjawab masih ingin ini dan ingin itu misalnya ingin sehat-kuat padahal sudah tua renta, ingin makan enak padahal giginya sudah habis ompong, adakalanya kakek-kakek masih mau beristrikan anak wanita remaja. Itulah yang dikatakan oleh Buddha bahwa betapa sulitnya mengatasi atau melenyapkan lobha yakni keserakahan dan nafsu keinginan yang tak pernah merasa puas, selalu merasa haus dan ingin terus.

Sebenarnya secara tidak disadari oleh dirinya sendiri justru keserakahan itulah yang menjerumuskan, yang akhirnya bisa menimbulkan bencana alam atau musibah yang menimpa dia sendiri. Boleh anda bayangkan sendiri seperti apa negara Amerika yang sudah kaya, punya simpanan uang bermilyar dollas US, negaranya gemerlap penuh dengan gedung mewah pencakar langit, tapi anehnya Pemerintah Amerika masih terus memproduksi senjata api, nuklir dll, lalu dijual. Padahal dia tahu bahwa senjata api, nuklir, dan lain lain adalah amat berbahaya bisa membunuh dan memusnahkan umat manusia, lalu untuk apa orang Amerika susah payah memperjuangkan perdamaian, perundingan, sungguh tidak masuk diakal. Semua yang ia anjurkan perdamaian, perundingan, HAM dan sebagainya hanya lelucon konyol belaka!

Demikian pula di Indonesia, sejak orde baru berkuasa selama 32 tahun sampai saat ini selalu programnya sangat muluk setinggi langit yaitu mengentaskan kemiskinan, mengatasi pengangguran, membantu UKM, mensejahterakan rakyat, memberantas korupsi, namun apa buktinya? Justru sebaliknya, uang negara, uang rakyat hasil pajak, hasil bumi, tambang emas, minyak dll, dikorupsi hingga negara berhutang banyak sekali kepada Bank Dunia dan IMF kurang lebih ratusan trilyun sampai saat ini yang disebut dosa turunan. Boleh dikata negara Indonesia diambang kebangkrutan, amat kritis dalam keuangan negara, banyak sekolah rusak berat bahkan ambruk dibiarkan, jalan lintas pulau hancur dan rusak berat, harga BBM melambung, tarip listrik naik lagi. Coba Anda pikir dengan baik dan benar, ke mana uang dari hutang tadi, uang hasil pajak bermacam-macam, uang hasil sumber daya alam, tambang emas, minyak, hasil hutan, dll. Di satu pihak para Koruptur dibiarkan bebas dan disambut bagaikan pahlawan.

Harus diingat siapakah yang akan menanggungnya? Apakah mereka yang korupsi mau bertanggung jawab? Tidak lain dan tidak bukan tentunya rakyat lagi yang harus menanggung beban yang amat berat itu, yaitu kemiskinan, kelaparan, kurang gizi, busung lapar, dst. Apakah hal ini bukan musibah yang diakibatkan oleh ulah manusianya sendiri? Mengapa Jakarta selalu banjir? Tidak lain adalah akibat ulah manusia sendiri misalnya kurang mau disiplin, membuang sampah sembarangan. Yang sangat parah ialah karena daerah Puncak dan Bogor oleh Bapak Presiden pertama Soekarno dulu yang seharusnya dijadikan tanah resapan air hujan, tapi nyatanya kini sudah diganti menjadi daerah tempat peristirahatan yang indah, dibangun villa dan restoran, hotel, dsb. Yang mestinya dijadikan daerah tanah resapan hujan malah berubah fungsi. Mengapa bisa berubah fungsi seperti itu? Tidak lain tidak bukan adalah akibat ulah manusianya sendiri yang memberikan ijin membangun, karena keserakahan ingin mendapatkan uang banyak dan keuntungan secara pribadi namun lupa bahwa ulah tersebut berakibat fatal bagi orang banyak, terutama di Jakarta. Akibatnya banjir setiap tahun pasti datang sebagai langganan, walaupun dibikin bendungan-kanal dengan biaya trilyunan, namun semua itu tidak akan menyelesaikan masalah, sebab sumber persoalannya ialah di atas yaitu di Puncak dan Bogor yang telah berubah fungsi.
Ulah Manusia Yang Egois Dan Serakah

Kebanyakan ulah manusia yang dikotori oleh keserakahan dan egoistis membawa mereka menjadi tidak mau patuh kepada hukum, tidak bisa hidup disiplin, tidak mau ikut peraturan dan tidak ada toleransi, karena didorong oleh keserakahan dan egoistis, maka segala tindakannya menjadi lupa diri, lupa akan tanggung jawab sebagai seorang pemimpin yang sebenarnya ia harus mengayomi dan mensejahterakan rakyat, tapi sebaliknya, malah menindas, dan melecehkan kehidupan rakyat serta banyak mencuri uang rakyat (korupsi).
Salah satu penyebab bencana alam dan penyebab penderitaan yang menimpa kehidupan manusia ialah akibat ulah manusia yang egoistis dan serakah, kita bisa melihat kenyataan di Indonesia rakyatnya yang harus menanggung beban penderitaan kemiskinan, ribuan anak jalanan yang terlantar, dan pengangguran yang terus bertambah dan hal inilah yang akhirnya menimbulkan kejahatan, perampokan, pembunuhan, pemberontakan melawan pemerintah, semua aksi rakyat yang sudah brutal ini tidak lain karena tekanan hidup dan himpitan beban psikologi, beban ekonomi, sulitnya mencari lowongan kerja dan mencari nafkah, akibat dari krisis ekonomi dan keuangan yang berkepanjangan.

Dan jangan salah bahwa krisis ekonomi dan keuangan yang berkepanjangan yang menimpa semua negara di dunia penyebabnya adalah ulah manusia yang egoistis dan serakah seperti KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme). KKN inilah yang memperkaya keluarganya sendiri dan kroninya namun membiarkan rakyat yang jumlahnya 225 juta orang hanya menjadi penonton yang harus menelan pil pahit penderitaan.

George Adi Tjondro sejak dulu telah mencari data kekayaan keluarga mantan pejabat yang bisa memiliki tanah di mana-mana sampai ribuan hektar termasuk hutan jati, kebun teh yang luas, vila di london Inggris yang nilainya jutaan dolar US, juga simpanan uang dibank Swis, lalu darimana semua kekayaan itu jika ternyata bekas tugas pemerintahan yang ditinggalkannya harus menangung hutang segunung (ratusan trilyun), dia seolah tak mau tahu bahwa uang sebanyak itu uang siapa? Jika Anda tahu sesungguhnya semua uang sebanyak itu ialah dapat hutang dari Bank dunia dan IMF, yang harus dibayar, lalu siapakah kelak yang harus bertanggung jawab untuk membayarnya?
Contoh lainnya seperti negara Filipina ketika Ferdinal Marcos berkuasa yang melakukan KKN sampai saat ini jadi bahan pembicaraan masyarakat dunia, juga Malaysia, Thailand, Kamboja, Argentina, Rusia dll. Semua itu potret buruk para pemimpin negara yang tidak bertanggung jawab kepada rakyatnya sendiri, disebabkan egoistis dan keserakahan tanpa menyadari dampak negatif dari akibat perbuatannya.

Perampok berdasi dengan cara garong itu yang diambil adalah uang rakyat hasil dari pajak yang beraneka macam, perijinan yang berbelit, eksploitasi hasil bumi, hutan dan laut yang mestinya untuk kesejahteraan rakyat tapi disulap oleh beberapa gelintir orang para pejabat pemerintah yang mengaku taat beragama, tapi tak tahu malu dan tak peduli terhadap rakyat banyak yang menjerit akibatnya harga kebutuhan pokok naik terus, tarif telepon, listrik, air pam, pajak, BBM, elpiji/gas terus naik harganya alasannya untuk menutupi devisit APBN.
Para pejabat memang tidak merasakan pahit-getirnya mencari uang, karena mereka sudah dapat gaji setiap bulan dan jaminan hidup pensiunan, tapi juga kadang masih rajin korupsi.
Indonesia bagaikan batu Jambrut di Katulistiwa yang berkilauan

Padahal negara Indonesia dipandang dan dinilai oleh masyarakat dunia adalah seperti Batu Jambrut di Khatulistiwa gemerlap berkilauan hijau, kuning keemasan, bahkan banyak para penyair dan para pujangga menuliskan bahwa Indonesia lebih kaya dan lebih indah dari alam surga para dewa, syair lagu-lagu indah menulis Kolam Susu, Nusantara yang kaya dan indah, tanam tongkat jadi tanaman maksudnya singkong, tebu dll, namun anehnya kanyataan yang ada sebaliknya lihat saja masyarakat Papua yang sebenarnya pulau itu kaya raya dengan hasil bumi, tambang emas dan minyak, hutan lebat serta marga satwanya yang masih banyak seperti burung merak, kupu kupu, tapi orang pedalamannya masih ada yang memakai koteka dan kulit kayu untuk menutupi alat kemaluannya, sangat jauh terbelakang dan miskin kelaparan, busung-gizi buruk, betapa aneh bin ajaib tapi nyata, sungguh ironis!

Menurut perhitungan di atas kertas dinyatakan bahwa sebenarnya setiap orang di Indonesia meski baru lahir dia sudah menangguk beban hutang kurang lebih 5 juta kepada negara pendonor seperti Bank Dunia dan IMF, jadi artinya orang Indonesia yang sampai matipun dia tetap membawa hutang 5 juta rupiah lebih, rasanya berat beban ini! itulah akibat ulah manusia yang serakah dan egoistis yang memberi contoh suri teladan buruk bagi generasi mendatang. Karena itu sampai saat ini betapa sulitnya karakter bejat itu untuk dapat diperbaiki oleh para penerusnya yang harus bekerja keras untuk melunasi hutang negara, malah makin merajalela.
Maka, jika Anda sadar dan eling, meskipun Anda merasa dan menganggap jadi orang kaya-raya memiliki segudang harta-benda, uang bermilyar di bank, mobil mewah berbagai jenis, namun ingat! Anda masih tetap punya hutang kepada orang Amerika, Jepang dll dan Bank Dunia, karena merekalah yang memberikan pinjaman sebanyak yang Anda gunakan itu, MALU tidak?

Mestinya, kalau tidak bejat moralnya harus malu dengan bangsa lain seperti Singapura, Jepang, Taiwan, Malaysia dan China, misalnya Jepang, Taiwan dan Singapura adalah negara kecil yang tidak memiliki sumber daya alam seperti Indonesia.
Sebagai gambaran Singapura untuk air minum saja harus beli dari Malaysia dan Indonesia dengan cara kontrak 30 tahun, bahkan air laut dapat disulap menjadi air minum. Singapura memiliki simpanan uang devisa bermilyar dolar, untuk kebutuhan APBN negaranya dengan uang bunga devisanya saja sudah cukup, meskipun negaranya kecil padat tapi soal keamanan boleh dibilang nomor satu di Asia, juga rapih, bersih dan teratur hingga dapat mengundang wisatawan dari seluruh manca negara untuk datang dan melihat dunia pariwisata dan shoppingnya yang amat menarik.

Lalu Jepang dan Taiwan juga sama sebagai negara kecil yang tidak memiliki sumber daya alam yang memadai, tapi seperti Jepang yang baru merdeka tahun 1945 sama-sama dengan Indonesia, tapi bisa lebih cepat terkenal sebagai negara Industri Elektronik dan Otomotif yang terkenal dan populer di dunia, bahkan mampu bersaing dengan dunia Barat dan Eropa, menurut penelitian para ahli ekonomi mengatakan: Negara mana yang tidak pernah menggunakan barang-barang elektronik dan otomotif dari Jepang? Dengan menggunakan mobil dan barang elektronik dari Jepang berarti negara tersebut berhutang kepada Jepang, sebab hal ini sudah menjadi hukum ekonomi, bahkan negara barat dan Eropa saat ini dibanjiri barang-barang dari Jepang seperti merek Sony, Canon, Casio, mobil Suzuki, Honda dst..
Demikian pula Taiwan yang terkenal dengan produksi notebook Acer, Asus, Umex dll, China kemajuan di bidang ekonomi bagaikan gelombang laut yang siap menghantam di pasar global, juga siap tempur untuk bersaing harga maupun kualitas produk, kita masih ingat ketika harga VCD player Jepang dengan harga di atas satu jutaan, maka tidak semua orang dapat memilikinya dan sulit untuk memutar film dan lagu. Namun, China meskipun berpenduduk 1,3.milyar fakta mempertunjukkan kemampuan orang China yang benar-benar membuat kagum sekaligus ketakutan bagi negara besar Amerika dan Eropa dalam bersaing ekonomi dipasaran dunia secara global, gebrakan pertamakali ketika China bisa menjual harga VCD cukup hanya dengan 200 ribuan, akibatnya hampir semua orang di kampung kini bisa menikmati film dan lagu-lagu kesukaannya melalui VCD bahkan DVD yang lebih canggih pun harganya tidak lebih dari 300 ribuan, dan masih banyak produksi barang kebutuhan hidup lainnya yang harganya sangat murah, coba bayangkan!

Lalu Indonesia yang kaya dengan sumber daya alam, kalau ada yang bertanya: Produksi barang apa yang telah dihasilkan oleh bangsa Indonesia? Jarum jahit saja yang terkecil harus impor, beras impor, gula, buah-buah durian-jambu-mangga dll, otomotif impor, hampir semua barang kebutuhan impor dari negara luar, wah..sedih..lucu..dan aneh.
Dengan uraian ini membuktikan bahwa semua itu tergantung dari bagaimana cara seorang pemimpin negara bisa mengelola atau mengatur negara dan bangsanya dengan baik dan benar sesuai aturan kehidupan yang berlaku sebagaimana wajarnya manusia.
Maka, jika kita dapat menyadari dan menilai perbandingan ini, Indonesia sebenarnya harus lebih kaya-raya, lebih mewah dan kehidupan rakyatnya harus bisa lebih terjamin baik dari kesejahteraan, keadilan, keamanan dan kebebasannya. Namun kenyataan menjadi lain, seakan bagai sulap yang terkenal disebut aneh bin ajaib tapi nyata, rakyatnya banyak kelaparan, busung-gizi buruk, yang akhirnya menimbulkan sering terjadi kejahatan dengan latar belakang kekurangan eknomi.

Kalau mau jujur, bangsa Indonesia sebagian besar hanya pandai berteori muluk-muluk setinggi langit, hampir tiap bulan atau minggu bahkan tiap hari sering mengadakan diskusi, seminar, talk show dan apalagi namanya.. untuk mengeluarkan pernyataan, pendapat, teori muluk, dari orang yang mengaku profesor, doktor, ir, dokter, sarjana, dan para ahli. Tapi begitu jadi pejabat semua teori muluknya menguap bagai asap hitam, yang nyata adalah korupsi makin merajalela, kemiskinan dan kelaparan-gizi buruk-busung, pengangguran, kejahatan terus meningkat akibat ekonomi kurang, sekolah rusak berat-ambruk dibiarkan padahal biayanya terus naik melambung.

Penghasilan dari pajak saja coba hitung sendiri dari perijinan perusahaan yang berbelit harus pakai uang semua, dari pajak otomotif/kendaraan SIM, STNK, BPKB, Retribusi, Parkir, Kir mobil, pungutan di timbangan, belum dijalanan para supir sering mengeluh karena banyaknya pungutan yang harus dibayar, PPN, pajak PBB, ijin bangunan IMB, pajak Iklan, stiker tiap tahun untuk masuk jalan ke Bandara Soekarno Hatta, tarif tol yang sering naik tak pernah turun padahal jalanan sering rusak, belum lagi di pasar berbagai pungutan, di perumahan, pajak kekayaan, pajak cukai rokok, pajak hak cipta lagu-lagu dan buku, pajak pulsa, juga anehnya semua hadiah undian harus bayar pajak walaupun kecil. Belum lagi para kontraktor dan investor yang besar-besar mengeluhkan keamanan dan tegaknya hukum yang tak menjamin dan ini sering membuat Investor berteriak terus namun tidak digubris anggap angin lalu saja, hasil hutan, tambang emas, minyak batu-bara, dst.
Adalagi yang lebih tak masuk akal sehat, jika Anda masuk rumah makan, lalu pesan makanan, dan setelah makan anda bayar coba lihat bill/tanda terimanya akan tertulis ditambah PPN 10%, begitu pula di hotel, restoran. Padahal sesungguhnya makanan yang kita makan itu kan sudah dipajak dari perusahaannya, mulai dari pembungkusnya plastik saja sudah dipajak, isinya sudah dipajak, dikirim ke rumah makan, di jalanan baik kendaraan dan retribusi dll sudah dipajak, rumah makannya sudah dipajak, yang terakhir yang makannya kenapa dipajak lagi? Demikian pula dengan minuman seperti Coca-Cola, teh botol dll, coba renungkan! Yang tak habis pikir ke mana semua hasil pajak itu? Malah saat ini ada seruan mau ditingkatkan lagi tarip pajaknya, oh.. tolong sadarkan mereka dan saya tidak tahu kapan mereka itu bisa menjadi manusia seutuhnya?

Pasalnya, ada bukti menurut Bapak Haji Ahmad/Muhamad sebagai ketua Pemantau Rekontruksi Aceh ketika berdiskusi interaktif di radio Elshinta mengatakan bahwa dana bantuan dari luar maupun dalam negeri yang berjumlah trilyunan untuk rekontruksi Aceh, masih tetap dikorupsi oleh pihak yang tidak bertanggung-jawab (para pejabat) hingga sejumlah lebih 435 milyar. Namun sampai kini tidak diusut dan diselidiki, bayangkan! Jangan keburu bangga jika Anda telah menjadi donatur bencana alam dan musibah di Indonesia. Setelah mengetahui kenyataan dan fakta seperti itu, berhati-hatilah kalau mau membantu korban bencana alam dan musibah di Indonesia. Alangkah baiknya jika langsung kepada tangan korban yang saat itu benar-benar sedang menunggu bantuan, ini merupakan PERINGATAN dari saya untuk para Donatur.
Di Semarang ada wihara Mahayana yang tertipu hingga 300 juta oleh orang yang mengaku pejabat Gubernur Jawa tengah, dan minta bantuan untuk korban bencana gempa bumi di Bantul Yogya dan Jawa Tengah.

Petruk Jadi Raja
Kadang saya sedih melihat dan menilai para pejabat dan bangsa Indonesia ini, maka saya sering ingat cerita wayang golek berjudul "PETRUK JADI RAJA", mungkin ada benarnya dengan situasi kondisi di Indonesia saat ini, yang namanya pelawak Petruk kok mau jadi Raja. Kesedihan saya baru bisa teratasi jika selalu ingat cerita wayang golek itu sebab saya ingin menyampaikannya kepada Anda sebagai obat mujarab ketika Anda seperti saya itu.
Mangan Ora Mangan kumpul (makan atau tidak makan asal kumpul)
Motto orang Jawa (Indonesia) ini terkenal dari sejak dulu hingga kini yaitu Mangan Ora Mangan Kumpul artinya makan atau tidak makan asal kumpul entah siapa yang memulai, tapi kalau ditelusuri ada benarnya juga, buktinya biar hidup miskin, busung-lapar, gizi buruk, buta huruf, begitu pula ketika gempa bumi di Bantul Yogya ada seorang ibu yang rumahnya dekat dengan gunung Merapi yang sudah ngamuk bergolak menyemburkan awan dan debu panas, namun ibu itu meminta kepada anak-anaknya dengan mengatakan: Mangan Ora Mangan Ngumpul, walhasil apapun yang terjadi tapi asalkan ngumpul di negara Indonesia.

Selalu Mengkambing Hitamkan Yang Maha Kuasa
Manusia punya seribu satu macam akal bulus, licik, lihai, jahat, nyatanya sudah berbuat jahat tapi justru membantah dan balik menuding dengan berteriak bahwa semua itu adalah cobaan dan ujian dari ‘yang mahakuasa’. Coba saja anda tanyakan kepada umat beragama non Buddhis, "Mengapa bisa sering terjadi bencana alam dan musibah menimpa manusia?" Mereka pasti menjawabnya, oh..itu adalah cobaan dan ujian dari ‘yang mahakuasa’ dan pasti ada hikmahnya agar manusia bisa sadar dan ingat kepadanya.
Padahal bencana alam dan musibah di Indonesia saja yang terjadi di Aceh dan Nias, lalu di Yogya, belum di seluruh dunia, korbannya hingga ratusan ribu nyawa melayang-hilang, luka parah, cacat seumur hidup, tercerai-berai, banyak anak-anak yatim-piatu. Jika kita mau merenungkan dampaknya secara psikologi bagi korban yang trauma, ketakutan berlebih, shok, stres, depresi, bunuh diri, hilang ingatan dst, apakah benar semua itu adalah pekerjaan ‘yang mahakuasa’ yang mencoba atau menguji manusia hingga sedemikian dahsyat beban penderitaannya sampai seumur hidup?

Sungguh lucu dan amat konyol pendapat seperti itu, kalau sementara mereka sendiri memuja-memuji, menyembah dengan keagungan mengatakan bahwa ia mahakuasa, maha adil, penuh cinta-kasih-sayang terhadap umatnya, tapi justru yang mendapat bencana alam dan menjadi korbannya ialah mereka yang taat beragama, dari pagi buta, siang-malam selalu taat beribadah dengan meminta keselamatan, keamanan, kesejahteraan dan kebahagiaan.

Mengapa malah yang diperoleh sebaliknya yakni penderitaan yang teramat berat? Andaikata mahakuasa, maha pengasih, maha penyayang, adil-bijaksana, yang menciptakan dan yang mengatur manusia dan seisi dunia dan alam semesta ini dst. Apakah tidak bisa memberikan sesuatu yang baik misalnya mencegah, membebaskan, melindungi umatnya dari bahaya bencana alam dan musibah itu? Pikirkan dan renungkanlah dengan akal sehat manusia.
Manusia bebas beragama, bebas melakukan pemujaan atas dasar keyakinan dan kepercayaannya, namun harus diingat bahwa keyakinan dan kepercayaan yang membabi-buta tanpa menggunakan nalar sehat, akal pikiran yang sehat sebagaimana manusia, maka hal itu adalah Kebohohan Spiritual atau Kegelapan Batin yang disebut dalam bahasa pali MOHA.
Moha inilah yang sebenarnya mengawali kehidupan manusia dan termasuk semua makhluk hidup di alam semesta ini. Alasannya karena dengan moha ini manusia selalu mau mengikuti keinginannya terus menerus tanpa merasa puas, dan apapun mau dia lakukan hanya karena ingin memuaskan keinginannya yang akhirnya menjadi kemelekatan, keterikatan, kenikmatan walaupun sejenak.

Coba bayangkan sendiri bagi mereka yang telah berkeluarga, berapa lamanya suami istri berhubungan badan. Sangat singkat, tetapi kemudian cobalah renungkan bagaimanakah akibatnya? Hamil berbulan-bulan, sampai sembilan bulan menderita kurang istirahat. Lalu melahirkan dengan berjuang antara mati dan hidup penuh derita, ketika bisa lolos selamat untung tapi kadang ada yang menjadi korban waktu melahirkan anak. Pada saat kelahiran, penderitaan belum berakhir bahkan justru awal penderitaan panjang hingga seumur hidup selama Anda masih berkeluarga, kurang tidur, lelah, dst. Jadi, istilahnya dikatakan secara umum: Nikmat sekejap/sekilas, tapi penderitaannya seumur hidup, bahkan terus berlanjut kepada kehidupan yang akan datang.
Sebab itu, Buddha hanya menunjukkan jalan untuk keluar dari lingkaran setan penderitaan hidup ini, dengan sabda Nya yang singkat: Jangan berbuat jahat baik melalui pikiran, ucapan dan tindakan, sebaliknya banyaklah berbuat baik hingga sempurna. Terakhir sucikan hati dan pikiran agar Anda bisa mencapai kesucian batin dan akhirnya meraih kebebasan abadi dari Loba, Dosa dan Moha (keserakahan, kebencian dan kegelapan batin) inilah ajaran Buddha dari zaman ke zaman yang akan datang tetap sama.

Kesimpulan akhir

Artikel ini bertujuan untuk membahas melalui perenungan yang dalam dan disertai pengertian agama yang benar (Dhamma), dalam mengupas secara terbuka dan bebas berdasarkan fakta yang ada pada potret kehidupan manusia. Bahwa sebenarnya bencana alam dan musibah, penderitaan, kemiskinan, kebahagiaan, dan kesuksesan setiap orang itu terpulang kepada perbuatannya sendiri. Diri sendirilah yang menciptakan keadaan hidup baginya dan sebaliknya tak ada makhluk agung apa pun namanya yang mampu mengubah nasib kehidupan mahluk lainnya selain dirinya sendiri.
Semoga uraian Dhamma ini dapat menggugah batin kita semua, hingga bisa menimbulkan inspirasi yang amat berguna baik bagi diri kita sendiri maupun untuk semua makhluk.
Sabbe satta bhawantu sukhitatta. Semoga semua makhluk hidup berbahagia.
Seharusnya seseorang bertemu dengan orang bijaksana yang dapat menunjukkan kesalahan-kesalahannya dan memberikan peringatan, seperti orang yang menunjukkan tempat tersimpannya harta karun. Dengan orang seperti itulah seharusnya seseorang bergaul. Pergaulan yang demikian itu akan membawa kebaikan, bukan kemerosotan.
Sabda Buddha: Dhammapada, babVI.76 : Orang Bijaksana.

Jakarta, 15 Juni 2006
Salam damai,
Bhikkhu Sudhammacaro
(Rohaniwan Buddha)

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home