Biksu Sek Cong Seng Menghembuskan Napas Terakhirnya di Usia 100 Tahun




TANJUNGPINANG-Biksu Sek Cong Seng / Zong Sheng salah satu biksu tertua di Indonesia menghembuskan napas terakhir di usia 100 tahun. Biksu yang juga pimpinan vihara Avalokitesvara Graha di Tanjungpinang meninggal pukul 16.00 di Changi Hospital Singapore, Kamis (15/3).
Kabar meninggalnya Biksu Sek Cong Seng langsung beredar luas di media sosial sejak Kamis kemarin. Salah satunya di akun Edyanto Ong yang mengabarkan kepergian tokoh panutan Tionghoa di Kepri ini. Berbagai ungkapan kesedihan dan belasungkawa langsung berdatangan dikomentar status Edyanto di Facebook.
Jenazah Biksu Sek Cong Seng tiba di Tanjungpinang pukul 17.15, Jumat (16/3). Jenajahnya disemayamkan di Vihara Avolokitesvare Graha Kepri dan akan dikremasi Rabu (21/3) di Krematoriun Vihara Avolokitesvare Graha Kepri.
Sek Cong Seng lahir tahun 1919 di kota Kou Tien, China. Masa baktinya di Indonesia sudah cukup lama mencapai 41 tahun. Mendiang sebelum ke Indonesia awalnya menetap di Malaysia dan Singapura.
Bagi umat Budha dan warga Tionghoa di Kepri sosok Biksu Sek Cong sudah sangat tenar. Semasa hidupnya beliau sudah hun mengabdi sebagai Biksu di Vihara Bahtra Sasana di jalan Merdeka Kota Tanjungpinang yang dibangun 1857 oleh masyarakat Tionghia dari etnis Hokkien. Vihara tua ini juga sudah jadi salah satu cagar budaya di Kota Tanjungpinang yang dilindungi Undang-undang RI tahun 1992 tentang cagar budaya.

Semasa hidupnya Biksu Sek Cong Seng sangat dekat dengan Ketua Walubi Kepri, Hengki Suryawan. Bersama sama pada tahun 2001 mereka merintis pembangunan vihara Avalokitesvara Graha di jalan Tanjung Uban KM. 14. Awalnya vihara ini dibangun diatas lahan 2 hektar terus dikembangkan menjadi 10 hektar. Banyak bangunan yang berdiri di vihara ini seperti bangunan Dewi Kwan Im, dan saat ini masih proses pembangunan pagoda sembilan lantai yang akan menjadi pagoda pertama dan tertinggi di Kepri saat ini. Gagasan ini juga datang dari biksu Sek Cong mendiang secara perlahan pembangunanya dilaksanakan.
Hengky Suryawan menerangkan Biksu Sek Cong sebelum meninggal pernah mengalami sakit November 2017. Penyebab kematian biksu Sek Cong menurut keterangan dokter awalnya karena adanya cairan memasuki paru-paru mengakibatkan kekurangan oksigen untuk bernafas. Penyakit itu diketahui saat beliau dibawa berobat di salah satu rumah sakit di Tanjungpinang. Kondisi yang kritis Biksu Sek Cong dirujuk ke rumahsakit Singapura dengan resiko kematian 50 persen. Namun sesampainya di rumah sakit Changi Hospital dan mendapatkan perawatan dokter, akhirnya mendiang menghembuskan nafas terakhirnya.
Hengky Suryawan mewakili umat Budha Kota Tanjungpinang maupun Indonesia sangat merasa kehilangan karena sebagai SUHU, mendiang telah memberikan sesuatu yang luar biasa. Apalagi diusianya yang mencapai 100 tahun sungguh luar sangat luar biasa bagi umat Budha dengan keteladanannya mengajarkan ajaran Budha.

“Kami sudah bersama selama ini, dan kemanapun sering bersama. Saya dan dia berbeda 30 tahun,” kata Hengky di Vihara Avalokitesvara Graha, Jumat (16/3).

Biksu Sek Cong mengikuti banyak pengikut dari berbagai mancanegara. Mengetahui kabar duka citanya para pengikutnya dari berbagai negara langsung berdatangan seperti dari negara China, Malaysia dan Singapura.


Pantauan meja redaksi sampai Sabtu (17/3) masih banyak umat Budha yang datang menghadiri serangkaian acara menjelang kremasinya nanti.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

" NAMA-NAMA BUDDHIS "

“大悲咒 | Ta Pei Cou (Mahakaruna Dharani) & UM-MANI-PAD-ME-HUM”

“ Fangshen cara membayar Hutang Karma Buruk dengan cepat dan Instan “