Langsung ke konten utama
Patung Buddha yang Dimiliki Nazi Berasal Dari Luar Angkasa
Oleh
Stephanie Pappas, Penulis Senior LiveScience | LiveScience.com
Mungkin kisah ini terdengar seperti plot dalam
salah satu film Indiana Jones, namun peneliti Jerman mengatakan bahwa patung
Buddha yang dibawa dari Eropa oleh Nazi berasal dari batu meteor yang jatuh ke
Bumi 10 ribu tahun lalu di perbatasan Siberia-Mongolia.
Buddha dari luar angkasa ini, atau para peneliti
menyebutnya "Iron Man", tak diketahui usianya. Perkiraan terbaik
menghitung kemungkinan asal patung ini dari abad 8-10. Pahatan patung ini
menggambarkan seorang pria, kemungkinan dewa Buddha, duduk dengan kaki dilipat
masuk dan memegang sesuatu di tangan kirinya. Di dadanya ada swastika Buddha,
simbol keberuntungan yang kemudian "diambil alih" oleh partai Nazi di
Jerman.

"Orang
bisa berspekulasi bahwa simbol swastika di patung itu adalah penyebab artefak
'Iron Man' meteor ini dibawa ke Jerman," kata peneliti pada 14 September
lalu di jurnal Meteoritics & Planetary Science.
Petualangan manusia
besi
Manusia besi ini pertama datang ke Jerman
setelah ekspedisi Tibet pada 1938-1939 oleh ahli zoologi dan etnologi Ernst
Schäfer. Ia dikirim ke daerah tersebut oleh Nazi untuk mencari akar ras Arya.
Patung itu kemudian berpindah-pindah pemilik.
Peneliti Universitas Stuttgart Elmar Bucher dan
koleganya pertama menganalisis patung tersebut pada 2007, saat pemiliknya saat
itu mengizinkan mereka mengambil lima sampel kecil. Pada 2009, tim ini kemudian
mendapat kesempatan untuk mengambil sampel lebih banyak lagi dari bagian dalam
patung, karena lebih sedikit terkontaminasi cuaca atau sentuhan tangan manusia
daripada bagian luar.
Mereka menemukan bahwa patung tersebut dipahat
dari batu luar angkasa yang sangat jarang dan dikenal dengan meteorit ataksit.
Meteor besi ini memiliki kadar nikel tinggi. Meteor terbesar yang pernah
diketahui, meteor Hoba dari Namibia, adalah jenis meteor ataksit yang beratnya
bisa lebih dari 60 ton.
Dari luar angkasa
Analisis kimiawi dari sampel patung manusia besi
ini menunjukkan kecocokan dengan sebaran dari serpihan batu luar angkasa dari
perbatasan Siberia dan Mongolia. Meteorit China memiliki 250 fragmen meteorit,
kebanyakan relatif kecil, meski ada dua potongan yang beratnya melebihi 10 kg.
Para ilmuwan memperkirakan bahwa meteorit Chinga jatuh antara 10 ribu-20 ribu
tahun lalu. Penemuan pertama meteor tersebut tercatat pada 1913, namun
keberadaan patung tersebut menunjukkan bahwa orang-orang menambang kawasan
tersebut untuk materi artistik lama sebelum itu, menurut Buchner.
Identitas pria dalam patung tersebut tak jelas,
namun para peneliti memperkirakan ia mungkin adalah dewa Buddha Vaisravana,
atau dikenal juga dengan Jambhala. Vaisravana adalah dewa kekayaan atau
peperangan, dan ia sering digambarkan memegang lemon (simbol kekayaan) atau
kantung uang di tangannya. Manusia besi ini memegang objek yang tak jelas di
tangannya. Patung ini tingginya 24 cm dan beratnya 10,6 kg.
Banyak budaya di dunia yang menggunakan besi
meteor untuk membuat belati dan bahkan perhiasan, menurut Buchner dan para
koleganya, dan pemujaan meteor pun cukup sering terjadi pada budaya kuno. Namun
pahatan Buddha pada meteor tergolong unik.
"Patung manusia besi ini adalah
satu-satunya ilustrasi bentuk manusia yang diketahui dipahat pada meteorit,
artinya kita tidak punya perbandingan untuk menentukan nilainya," kata
Buchner dalam pernyataan. "Dari usianya saja, kita bisa memperkirakan
nilainya mencapai $20 ribu (Rp 191,2 juta). Namun, jika perkiraan kami tentang
usianya benar dan hampir seribu tahun usianya, maka patung ini bisa tak
ternilai."
Komentar