“ Jawaban dan Uraian tentang Sila ke-tiga, A-susila " “

“ Uraian tentang Sila ke-tiga, A-susila “

Buddha tidak membuat dan mengatur hukum perbuatan seseorang atas perbuatan salah dan jahatnya. Alasannya, Buddha mahatahu bahwa ada Hukum Karma (sebab-akibat) yang lebih Adil, tepat waktu, tidak memihak, tidak tebang pilih, tidak bisa disuap, tidak bisa diputar baik seperti hukum yang dibuat oleh manusia atau pemerintah, dsb.

Pertanyaan:

Namo Buddhaya. Salam kenal. Bhante mau nanya.
1. Yang dimaksud dengan pelanggaran sila ke 3 buddhis spesifikasinya/detailnya seperti apa?
2. Kalau yg masih PDKT tapi trus gonta-ganti pasangan itu termasuk pelanggaran bkn?
3. Kalau yg sudah cerai, suami selingkuh dan menikah lagi itu termasuk pelanggaran bkn??
4. Terus istri yg diceraikan jika berniat menikah lagi termasuk pelanggaran sila tidak y bhante? Mohon penjelasannya.
Saya masih belum mengerti benar sila ini. Terima kasih.

Jawaban dan Uraian.
1. Sila ke-tiga dalam ajaran Buddha ialah ‘Saya berlatih untuk menghindari perbuatan A-susila’ atau Selingkuh atau Zinah.

Contohnya A-susila ialah hubungan sex dengan suami orang lain, atau istri orang lain. Perbuatan tersebut sering disebut ‘Selingkuh atau Zinah’, yang terbaru disebut juga Nikah Siri dilarang atau Kawin Kontrak. Zaman dulu para Raja suka mengambil wanita muda dijadikan Selir hingga ratusan wanita, zaman Orba disebut wanita simpanan.

A-susila disini diartikan tidak melakukan hubungan sex yang salah.
Artinya, pria dan wanita hanya mau melakukan hubungan sex dengan suami sah, atau istri sendiri yang sah. Kalau di agama Islam, A-susila dianggap Zinah, hukumnya Haram, bila hal itu dilakukan di Negara Arabsaudi atau Mekkah bisa dihukum Rajam sampai mati. Yaitu di lemparkan ke sebuah jurang cukup dalam, hingga orang itu tidak bisa naik sendiri, lalu dilempari batu dari atas oleh masyarakat, hingga tewas.

Ajaran Buddha tidak sama dengan agama Islam tersebut, tidak ada hukum yang diatur dalam ajaran Buddha. Sebab, ajaran Buddha lebih mengutamakan hukum karma (sebab akibat), hingga orang berupaya selalu sadar akan tiap tindakannya, yang pasti akan kembali lagi kepada si pembuatnya. Berbuahnya hukum karma ada yang langsung diterima, ada yang menunggu waktu cepat atau lambat, tergantung matangnya karma tersebut, didorong oleh berbagai faktor.

Hukum Karma pelanggaran A-susila tersebut bisa cepat berbuah, misalnya diketahui oleh masyarakat, lalu ditangkap dan dibawa ke kantor polisi, akhirnya diproses dan dihukum oleh pemerintah masuk penjara. Ada juga bila perbuatan A-susila tertangkap oleh suaminya si wanita, lalu dipukuli bersama masyarakat dan di arak, dan seterusnya. Jadi intinya, perbuatan salah atau jahat itu pasti berbuah atau berakibat, hanya waktunya berbeda, dan prosesnya juga bermacam-macam.
Selain itu, pemuda dan pemudi yang belum menikah, bila melakukan hubungan intim termasuk melanggar sila ke-tiga.

2. Kalau yg masih PDKT tapi trus gonta-ganti pasangan itu termasuk pelanggaran bkn?

Yang masih taraf PDKT atau Pendekatan dan suka gonta-ganti pasangan, hal itu tidak melanggar sila ke-tiga. Alasannya, PDKT hanya saling kenal dan ingin mengetahui seluk beluk kepribadian masing-masing, jadi belum sampai melakukan hubungan intim.
Namun ingat, hukum karma tetap berjalan, boleh jadi orang yang suka gonta-ganti pasangan, walaupun tidak melakukan hubungan intim, maka dia akan sulit mendapat jodoh. Seandainya dapat jodoh pun bisaanya akan dipermainkan oleh pasangannya, akibat hukum karma tersebut, maka hati-hati, jangan seenaknya.

Anadaikata, sampai berani melakukan hubungan intim karena saat ini dituntut oleh ‘Zaman sudah Gila’, risikonya pasti ditanggung sendiri, yang pasti rugi adalah wanita (anda tahu sendiri) meskipun suka sama suka atau wanita yang minta duluan.
Alasannya, bagaimana kalau sampai terjadi hamil? Lalu lelakinya tidak tanggung jawab, maka banyak kasus bayi dibuang, atau aborsi, tindakan tersebut sudah menambah karma buruk yang amat berat seperti membunuh bayi. Risikonya kalau karma buruk itu berbuah pasti si pelakunya akan pendek umur, atau cacat tubuh dalam kelahiran yang akan datang.

3. Kalau yg sudah cerai, suami selingkuh dan menikah lagi itu termasuk pelanggaran bkn?

Bila suami-istri sudah cerai secara hukum, hal itu bebas dan tidak bisa dikatakan selingkuh, dan termasuk tidak melanggar sila ke-tiga. Kecuali kalau saat proses cerai belum vonis akhir, lalu suami atau istri selingkuh dengan orang lain, hal itu boleh dikatakan melanggar sila ke-tiga.

4. Terus istri yang diceraikan jika berniat menikah lagi termasuk pelanggaran sila tidak ya bhante?
Kalau seorang istri atau suami sudah sah dicerai menurut hukum adat dan hukum pemerintah, maka hal itu sudah bebas artinya boleh menikah lagi dan tidak termasuk pelanggaran sila ke-tiga.

Kesimpulan:
Buddha tidak mengatur hukum perbuatan seseorang atas perbuatan salah dan jahatnya. Alasannya, Buddha mahatahu bahwa ada Hukum Karma yang lebih Adil, tepat waktu, tidak memihak, tidak tebang pilih, tidak bisa disuap, tidak bisa diputar baik seperti hukum yang dibuat oleh manusia atau pemerintah, dsb, seperti yang kita saksikan saat ini.

Sebab itu, Buddha hanya meringkas ajaran-Nya: ‘Jangan Berbuat Jahat, namun Pupuklah Perbuatan Baik yang berguna bagi orang banyak, Sempurnakan Hati dan Pikiran’.
Singkatnya, bila semua orang bisa menjalankan Tiga Ajaran Buddha ini, berarti sudah tidak perlu adanya Hukum yang dibuat oleh Manusia dan Pemerintah yang masih bisa disuap, bisa diputar balik, bisa tebang pilih, dsb, yang akhirnya tak berguna sama sekali.
Faktanya, kita saat ini sedang menyaksikan apa yang disebut Peraturan dan Hukum yang dibuat oleh manusia tapi justru dilanggar oleh mereka sendiri, jadi dagelan saja, sebenarnya tidak lucu malah konyol.

Semoga uraian singkat dan sederhana ini berguna bagi anda semua, untuk menambah pengatahuan Dharma hingga bisa menimbulkan kebahagiaan dihati. Mohon maaf bila ada yang kurang berkenan dihati anda.
Sabbe satta bhawantu sukhitatta.
Semoga semua makhluk hidup berbahagia. Sadhu.
Ven Sudhammacaro.

Buddha sangat menghormati hukum alam yang mengatur cuaca, tumbuh-tumbuhan, pepohonan, peredaran matahari, bulan, bintang, terjadinya hujan, badai, topan, gempa bumi, tsunami. Buddha lebih menghormati hukum karma yang berakibat timbulnya siklus kelahiran dan kematian. Buddha lebih yakin terhadap hukum karma yang mengakibatkan perbedaan manusia yang cerdas dan bodoh, yang cacat dan utuh jasmaninya, kaya dan miskin, dan seterusnya.

Sebaliknya, Buddha tidak setuju hidup manusia disebut: Takdir, Nasib, Ciptaan, Hoki, Anugerah, yang diciptakan dan diatur oleh Tuhan YME/Allah. Menurut Buddha: Manusia diciptakan dan diatur oleh Karma atau Perbuatan. Perbuatan Manusia sendiri yang menentukan kaya dan miskin, cerdas dan bodoh, cacat dan utuh jasmaninya.

Menurut Buddha: Hidup adalah ‘Pilihan Sendiri’ yang ditopang oleh perbuatan (karma). Orang bisa kaya atau cerdas apakah diciptakan dan diatur Tuhan YME/Allah? Kalau begitu orang miskin dan bodoh bisa menuntut kepada Tuhan YME/Allah. Tidak usah belajar dan kerja, apa bisa? Faktanya tidak begitu, orang bisa cerdas karena rajin belajar dan tidak malas, Orang bisa kaya sebab rajin kerja dan gemar berdana.

Faktanya: Gayus Tambunan si “JAGAL PAJAK” yang bisa menyimpan uang lebih 100 miliar di bank. Cb pikir: Apakah Si ‘Jagal Pajak’ Gayus Tambunan memang sudah di ciptakan dan diatur oleh Tuhan YME/Allah seperti itu? Kalau benar, kenapa Si Jagal Pajak itu di penjara? Jawabnya karena dia sendiri yang memilih/menentukan perbuatan Korupsi yang merugikan Negara dan rakyat, akibatnya dipenjara.

Fakta: Pernikahan, Perceraian, Kematian, Global Warming (Pemanasan Global), Lumpur Panas PT Lapindo, Perang Pembantaian Manusia, dsb. Apakah semua itu diciptakan dan diatur oleh Tuhan YME/Allah? Jawabnya tentu bukan. Sebab itu, Mari Belajar ‘Gunakan Akal Sehat’. Jangan Dogma asal Percaya saja ditelan mentah-mentah, hal itu namanya Pembodohan Spritual.

Buddha mengajrkn: “Manusia hrs bertnggung jwb terhdp perbuatn sndri, Jngn lempar batu sembunyi tangan”. Ketika bahagia, senang, untung hasil Kejahatan, tertawa lupa daratan dan lautan. Saat kekejian dan kebiadaban (Tragedi Mei 1998), berakibat Bencana Tsunami, Gempa Bumi, dan Musibah Semburan Lumpur PT. Lapindo, langsung mencari ‘Kambing Hitam’ menyalahkan Tuhan YME/Allah dengan mengatakan sedang mencoba dan menguji iman manusia. Cara itu mencerminkan sikap ‘Manusia Pengecut’ tidak bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri.

Buddha menghimbau Manusia agar mau menghormati Alam dan menjaga Lingkungannya, sebab Alam dan Lingkungan telah berjasa menunjang dan memberi kehidupan kepada Manusia. Contohnya, Tanah, Air, Api, Angin, Pepohonan, Hewan, Sumberdaya Alam; Emas, Timah, Gas, BBM, Batu Bara, dsb. Alam dan Lingkungan jangan hanya dirusak, dikuras isinya demi perut sendiri, lalu dibiarkan.



Komentar Simpatisan-Dharma-Facebook.


Namo Budhaya bhante, maaf sbelumnya saya pernah dengar kalau Buddha adalah sang guru,dan bukan tuhan yang harus di sembah, dan manusia menjalani hidupnya karna karmanya masing2, lalu mengapa ada orang yang berdoa kepada Buddha ? terima kasih.

Bhante, manusia hanya bisa menyalahkan orang lain atau tuhan atas perbuatan mereka, Padahal kitalah yang mengakibatkan itu terjadi, pohon tidak akan bergoyang jika tidak ada angin yang menghembusnya karena ada sebab maka akan ada akibatnya,!! Salam Dharma.

Nama Buddhaya, bhante...itu saya sangat sependapat. Percaya atau tidak, hukum karma itu ada dan nyata, bisa di rasakan dan bisa di buktikan, kalau kita mau jujur dengan diri sendiri.

Bhante mungkin baiknya tidak hanya mempertanyakan tuhannya melainkan apa yg hrs dilakukan seorang buddhis yang baik untuk memahami fenomena tersebut.

Namo Buddhaya Bhante, saya setuju, semua itu hasil perbuatan dan hasilnya baru dituai, tak kan ada lumpur lapindo bila tidak diadakan pemboran, takkan ada perceraian bila orang berbuat setia n jujur, takkan ada banjir bila orang tak berbuat menebang hutan n buang samapah sembarangan, BUAT SEMUA UMAT MANUSIA TOLONG RENUNGKAN APA YANG TELAH DIPERBUAT BUAHNYA TAKKAN JAUH DARI MANUSIA ITU SENDIRI, Salam Metta
Selamat malam, Bhante.

Saya setuju dengan pendapat anda, karena semua fenomena yang terjadi di bumi ini adalah akibat ulah manusia yang terlalu serakah maupun kesombongan. Oleh karena itu, Tuhan menjadi marah dan menghukum manusia melalui fenomena tersebut makanya kita harus sadar akan perbuatan kita, jangan selalu menyalakan semuanya kepada Tuhan. Cobalah telebih dahulu kita melihat diri kita sendiri sebelum menyalakan Tuhan maupun orang lain. Sadhu..Sadhu..sadhu..

Maaf Bhante memang kita hidup dlam kondisi yang sangat multikultur, jamak, beragam, termasuk dalam tradisi keyakinan maupun ada begitu banyak keragaman lainnya. secara prinsip menurut saya yang terpenting adalah keyakinan terhadap apapun mampu memberikan daya ubah menuju arah bijak dan kasih. meyakini Tuhan/Allah dan takut terhadap Kutukan-Nya dan...

Setuju Bhante, manusia acapkali menyerahkan segala sesuatu yg diluar kemampuan mereka kepada "campur tangan" Tuhan, jawaban yang paling gampang dan gak perlu repot mikir Saya berkeyakinan Tuhan tidak bekerja menggunakan tangannya tetapi dengan hukum-hukum yang tercipta. Kita bukan tunduk pada pencipta hukum-hukum tersebut tetapi kita tunduk dan patuh pada proses hukum yang ada. Menganggap Tuhan seperti manusia super sama juga memperkecilkan ke"Maha"annya.

Nammo budhaya bhante, maaf saya yg bodoh mohon penjelasan, apakah sang bhagava masih bisa memberikan kita berkat dan keselamatan? seperti yg sering dikatakan para pengikut Buddha. "Buddha bless you...!"

Namo Buddhaya bhante, jaman sekarang mana ada manusia yang jujur yang mau mengakui kesalahannya. Ini lah sifat manusia yang selalu ingin benar dan menang sendiri (serakah & egois), sebelum akibat perbuatannya mengenai dirinya sendiri manusia tidak akan sadar dan mau bertobat dan akan selalu mencari kambing hitam tuk menutupi kesalahan dari perbuatannya. Mungkin intinya adalah karena manusia masih diliputi kegelapan d kekotoran bathin yg semakin tebal trims.

Benar apa kt guru. Saat manusia sdg susah dia mengeluh, menangis pd kt. Tp pd saat dia sudah terlepas dr kesusahan, kt dibuang bgt sj. Pepatah berkata Habis manis sepah dibuang.

Nammo buddhaya bhante, memang manusia hrs bertanggung jawabkan atas perbuatannya, aplg di era skrg dgn mudahnya manusia bertindak tanpa memikirkan akibatnya di masa depan (nanti bagaimana, bkn bagaimana nanti)

Bhante, manusia hanya bisa menyalahkan orang lain atau tuhan atas perbuatan mereka, Pada hal kita lah yang mengakibatkan itu terjadi, pohon tidak akan bergoyang jika tidak ada angin yang menghembus nya karena ada sebab maka akan ada akibatnya,!! Salam dharma......

Namo Buddhaya.
Seharusnya ucapan Bhante 100% asli benar. Ingatlah perbuatan-perbuatan jahat yang kita lakukan hari ini. Namun, jika ada bencana yang besar menimpa kita, janganlah menyalahkan Tuhan ataupun sebagainya. Sesungguhnya jika kita menyesal belumlah terlambat. Namun, jika kita terus menerus instropeksi diri, maka semua benca atau hal lainnya akan tiada.

Komentar

chatarina mengatakan…
bhante,saya mau bertanya, batas - batas pacaran itu sampai mana ya?? ada yang bilang ciuman itu melanggar sila ke 3 dll. saya masih kurang paham mengenai sila ke 3 ini, hal yang bisa disebut sudah melanggar sila ke 3 itu apa ya bhante?
Yudhis Yudhiz mengatakan…
Jika demikian penjelasannya, mohon izin sy bertanya, dimanakah peran Tuhan dalam perspektif Buddhist?
Yudhis Yudhiz mengatakan…
Jika demikian penjelasannya, mohon izin sy bertanya, dimanakah peran Tuhan dalam perspektif Buddhist?

Postingan populer dari blog ini

" NAMA-NAMA BUDDHIS "

“大悲咒 | Ta Pei Cou (Mahakaruna Dharani) & UM-MANI-PAD-ME-HUM”

“ Fangshen cara membayar Hutang Karma Buruk dengan cepat dan Instan “